Menu

Mode Gelap
Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi Polrestabes Semarang Mengadakan E-Sport Cup 2026, Sebuah Inovasi Pembinaan Generasi Muda Final Four Proliga 2026 Belum Usai Tapi Tim Ini Sudah Mendapat Tiket Grand Final  Angkutan Barang KAI Daop 7 Madiun Tumbuh 5,2 Persen pada Triwulan I 2026, On Time Performance 99.20 Capai Persen Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat Pelayanan & Pengamanan Penumpang Kapal Kepulauan Seribu di Dermaga Muara Angke

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Syukur di Usia 62 Tahun

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Syukur di Usia 62 Tahun Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Usia, pada titik tertentu, tidak lagi sekadar deret angka. Ia menjelma menjadi ruang perenungan, tempat seseorang menengok ke belakang sekaligus menatap ke depan dengan hati yang lebih lapang. Di usia 62 tahun ini, rasa syukur itu hadir begitu utuh—bukan dalam kemewahan atau gemerlap perayaan, melainkan dalam kebersamaan yang hangat bersama orang-orang terkasih.

“Alhamdulillah… ya Rabb.” Kalimat sederhana itu merangkum segalanya. Sebuah doa yang lahir dari hati, ketika hidup terasa lengkap karena dikelilingi oleh cinta. Suami yang setia menemani perjalanan panjang, anak-anak yang tumbuh dengan caranya masing-masing, anak menantu yang menambah lingkar kasih, serta cucu-cucu yang menjadi sumber tawa dan harapan baru.

Kebahagiaan itu hadir apa adanya, tanpa perlu dirayakan dengan berlebihan.
Dalam pelukan keluarga, usia terasa lebih bermakna. Setiap keriput menyimpan cerita, setiap uban adalah saksi dari doa-doa yang terjawab pelan-pelan. Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi kebersamaan membuat segala lelah menemukan penawarnya. Di meja makan yang sama, dalam obrolan ringan dan canda sederhana, cinta bekerja tanpa suara.

Di usia 62 tahun, hadiah terindah ternyata bukan sesuatu yang bisa dibungkus kertas kado. Ia hadir dalam bentuk kehadiran: wajah-wajah yang dicintai, tangan-tangan yang saling menggenggam, dan doa yang terus mengalir diam-diam. Kebahagiaan itu terasa utuh karena dibagi, bukan disimpan sendiri.

Maka, usia ini bukan tentang apa yang telah berlalu, melainkan tentang mensyukuri apa yang masih dan selalu ada. Sebuah anugerah tak terhingga: hidup bersama, dikelilingi kasih, dan diberi kesempatan untuk terus bersyukur.***

Duren Sawit 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi

13 April 2026 - 09:33 WIB

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Begini Skema Kebijakan Penerapan WFH bagi ASN Kemenhub

10 April 2026 - 08:52 WIB

Scoot Perluas Jangkauan di Indonesia, Buka Rute Baru ke Belitung dan Pontianak

10 April 2026 - 06:50 WIB

Trending di BANDARA