Menu

Mode Gelap
Kunjungi PT Terminal Teluk Lamong, Dirut Pelindo Dorong Peningkatan Layanan dan Ekspansi Bisnis Ramadhan 1447 H: Pelindo Solusi Digital dan Forwahub Hadirkan Kepedulian bagi Anak Yatim Qariah Tunanetra Kalbar Raih Juara Nasional PTQ RRI Serunya Sidang Terbuka PBA SMA MBS Zam-Zam Hidupnya ‘Rumah Kecil” dalam Perjalanan Mudik Lebaran Keluarga Menjaga Nyawa di Perlintasan Sebidang

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana?

badge-check


 Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana? Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Setiap bencana meninggalkan dua luka sekaligus: kerusakan yang tampak dan guncangan batin yang sering luput diperhatikan. Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman dan ketenangan tidak selalu mudah dipulihkan. Di ruang inilah muncul pertanyaan: mampukah puisi menghibur mereka yang tertimpa musibah?

Puisi jelas bukan logistik. Ia tidak menggantikan makanan, selimut, atau obat-obatan. Ia juga tidak menghentikan hujan atau mengembalikan yang hilang. Namun puisi bekerja di wilayah lain—wilayah batin. Ia memberi bahasa pada rasa takut, duka, dan kehilangan yang sering kali tak sanggup diucapkan.

Bagi korban bencana, penderitaan kerap terasa sunyi. Puisi tidak datang sebagai hiburan riuh, melainkan sebagai pengakuan. Ia mengatakan bahwa kesedihan itu sah, bahwa seseorang tidak sendirian menghadapinya. Puisi musibah yang baik tidak mengeksploitasi luka atau memamerkan air mata. Ia menunduk, memilih kata-kata sederhana, dan memberi ruang hening agar duka bisa bernapas.

Tradisi ini telah lama hidup di Nusantara. Di Aceh dan Tanah Gayo, syair dan didong lahir dari pengalaman kolektif—perang, wabah, dan bencana alam. Syair menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan dan merawat ketabahan bersama. Yang terdengar bukan suara tunggal, melainkan suara “kami” yang terluka namun tetap bertahan.

Namun puisi juga bisa gagal jika tergesa-gesa. Saat luka masih basah, keindahan yang berlebihan justru terasa asing. Karena itu, puisi musibah menuntut empati dan kejujuran—keberpihakan pada manusia, bukan pada estetika semata.

Puisi tidak menyembuhkan bencana. Tetapi ia dapat menemani duka agar tidak berubah menjadi keputusasaan. Di dunia yang sering sibuk memberi nasihat, puisi memilih hadir sebagai pendengar—sebagai pelukan sunyi yang terbuat dari kata-kata.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

2 Maret 2026 - 19:16 WIB

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

27 Februari 2026 - 09:52 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Gallery Hanjuang: Ruang Seni dan Apresiasi yang Tumbuh dari Mimpi di Pinggir Kali Cilakar

19 Februari 2026 - 09:30 WIB

Trending di SENI BUDAYA