Menu ✖

Mode Gelap
Kemenhub Berkomitmen Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca Empat Bulan Tinggal di Hunian Senen, Sahrul: Kami Berharap Bisa Menetap Selamanya Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Perkuat Sinergi, Dorong Transformasi Layanan Pelabuhan Pelanggaran Dokumen masih Mendominasi pada Angkutan Barang Ditjen Hubdat Siapkan Strategi Antisipasi Potensi Kecelakaan saat Libur Nataru Danrem 182/JO dan Ketua Persit Kunjungi Kodim 1806/Teluk Bintuni, Tekankan Soliditas dan Profesionalisme Prajurit

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana?

badge-check


 Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana? Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Setiap bencana meninggalkan dua luka sekaligus: kerusakan yang tampak dan guncangan batin yang sering luput diperhatikan. Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman dan ketenangan tidak selalu mudah dipulihkan. Di ruang inilah muncul pertanyaan: mampukah puisi menghibur mereka yang tertimpa musibah?

Puisi jelas bukan logistik. Ia tidak menggantikan makanan, selimut, atau obat-obatan. Ia juga tidak menghentikan hujan atau mengembalikan yang hilang. Namun puisi bekerja di wilayah lain—wilayah batin. Ia memberi bahasa pada rasa takut, duka, dan kehilangan yang sering kali tak sanggup diucapkan.

Bagi korban bencana, penderitaan kerap terasa sunyi. Puisi tidak datang sebagai hiburan riuh, melainkan sebagai pengakuan. Ia mengatakan bahwa kesedihan itu sah, bahwa seseorang tidak sendirian menghadapinya. Puisi musibah yang baik tidak mengeksploitasi luka atau memamerkan air mata. Ia menunduk, memilih kata-kata sederhana, dan memberi ruang hening agar duka bisa bernapas.

Tradisi ini telah lama hidup di Nusantara. Di Aceh dan Tanah Gayo, syair dan didong lahir dari pengalaman kolektif—perang, wabah, dan bencana alam. Syair menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan dan merawat ketabahan bersama. Yang terdengar bukan suara tunggal, melainkan suara “kami” yang terluka namun tetap bertahan.

Namun puisi juga bisa gagal jika tergesa-gesa. Saat luka masih basah, keindahan yang berlebihan justru terasa asing. Karena itu, puisi musibah menuntut empati dan kejujuran—keberpihakan pada manusia, bukan pada estetika semata.

Puisi tidak menyembuhkan bencana. Tetapi ia dapat menemani duka agar tidak berubah menjadi keputusasaan. Di dunia yang sering sibuk memberi nasihat, puisi memilih hadir sebagai pendengar—sebagai pelukan sunyi yang terbuat dari kata-kata.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Festival Sastra Jakarta 2026, Perkuat Komunitas dan Regenerasi Sastrawan

2 November 2026 - 13:18 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara

2 November 2026 - 05:27 WIB

Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang

2 November 2026 - 03:41 WIB

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Pelajar se-Sumatera Barat Pentas Bersama dalam Penutupan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi

30 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Momen Sumpah Pemuda, Itab Purnama “Si Drumer Formula Langit” Rilis ‘Tersimpan Rapi’, Tembus Puluhan Ribu Views di YouTube

30 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Trending di SENI BUDAYA