Menu

Mode Gelap
KAI Lanjutkan Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, 17 Pelanggan Masih Dirawat Perkuat Standar Layanan dan Keselamatan Secara Berkelanjutan, DAMRI Tingkatkan Kompetensi Pengemudi di Berbagai Layanan Kemenhub Teken 2 Perjanjian Konsesi Strategis dengan PT Pelindo Dukung Kelancaran Logistik Wilayah, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Peran ASDP Ramaikan Forum Inabuyer 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana?

badge-check


 Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana? Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Setiap bencana meninggalkan dua luka sekaligus: kerusakan yang tampak dan guncangan batin yang sering luput diperhatikan. Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman dan ketenangan tidak selalu mudah dipulihkan. Di ruang inilah muncul pertanyaan: mampukah puisi menghibur mereka yang tertimpa musibah?

Puisi jelas bukan logistik. Ia tidak menggantikan makanan, selimut, atau obat-obatan. Ia juga tidak menghentikan hujan atau mengembalikan yang hilang. Namun puisi bekerja di wilayah lain—wilayah batin. Ia memberi bahasa pada rasa takut, duka, dan kehilangan yang sering kali tak sanggup diucapkan.

Bagi korban bencana, penderitaan kerap terasa sunyi. Puisi tidak datang sebagai hiburan riuh, melainkan sebagai pengakuan. Ia mengatakan bahwa kesedihan itu sah, bahwa seseorang tidak sendirian menghadapinya. Puisi musibah yang baik tidak mengeksploitasi luka atau memamerkan air mata. Ia menunduk, memilih kata-kata sederhana, dan memberi ruang hening agar duka bisa bernapas.

Tradisi ini telah lama hidup di Nusantara. Di Aceh dan Tanah Gayo, syair dan didong lahir dari pengalaman kolektif—perang, wabah, dan bencana alam. Syair menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan dan merawat ketabahan bersama. Yang terdengar bukan suara tunggal, melainkan suara “kami” yang terluka namun tetap bertahan.

Namun puisi juga bisa gagal jika tergesa-gesa. Saat luka masih basah, keindahan yang berlebihan justru terasa asing. Karena itu, puisi musibah menuntut empati dan kejujuran—keberpihakan pada manusia, bukan pada estetika semata.

Puisi tidak menyembuhkan bencana. Tetapi ia dapat menemani duka agar tidak berubah menjadi keputusasaan. Di dunia yang sering sibuk memberi nasihat, puisi memilih hadir sebagai pendengar—sebagai pelukan sunyi yang terbuat dari kata-kata.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kartunis Dorong Pameran “JAKARTUN” untuk HUT Jakarta ke-499

5 Mei 2026 - 13:46 WIB

Dunia Hiburan Aceh Berduka Bang Tompul Telah Tiada

4 Mei 2026 - 23:38 WIB

Audisi D’Academy 8 di Balikpapan Diserbu Peserta, Fildan dan Valen DA7 Suntikkan Semangat

4 Mei 2026 - 13:28 WIB

Neno Warisman Diharapkan Perkuat Dukungan Negara dalam Pencanangan Bulan Ismail Marzuki

4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Halimah Munawir Apresiasi Kirab Mahkota Binokasih 2026: Warisan Leluhur Harus Dihidupkan Kembali

3 Mei 2026 - 22:40 WIB

Yuli Riban Tegaskan Semangat Menggambar dalam Pameran “Guru Inspiratif”

3 Mei 2026 - 18:45 WIB

Karya Deden Hamdani Warnai Pameran “Guru Inspiratif” dalam Perayaan Hari Pendidikan Nasional

2 Mei 2026 - 15:38 WIB

Felicia dan Queen Bikin Panggung “The Icon Indonesia” Bergemuruh, Sapu Bersih Standing Ovation dari Semua Juri

2 Mei 2026 - 14:23 WIB

Pentas Teater “Serat-Serat Cinta” Angkat Keteladanan Maria Walanda Maramis di Manado

2 Mei 2026 - 11:34 WIB

Melawan Lupa: Jejak Historis HP3N dalam Peta Sastra Indonesia

2 Mei 2026 - 10:58 WIB

Trending di SENI BUDAYA