Menu

Mode Gelap
Indra Adhari Rilis ‘Lima Tahun’ Dimomen HUT RI: September Rilis Single di Label Internasional Malaysia! AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat  Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana?

badge-check


 Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana? Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Setiap bencana meninggalkan dua luka sekaligus: kerusakan yang tampak dan guncangan batin yang sering luput diperhatikan. Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman dan ketenangan tidak selalu mudah dipulihkan. Di ruang inilah muncul pertanyaan: mampukah puisi menghibur mereka yang tertimpa musibah?

Puisi jelas bukan logistik. Ia tidak menggantikan makanan, selimut, atau obat-obatan. Ia juga tidak menghentikan hujan atau mengembalikan yang hilang. Namun puisi bekerja di wilayah lain—wilayah batin. Ia memberi bahasa pada rasa takut, duka, dan kehilangan yang sering kali tak sanggup diucapkan.

Bagi korban bencana, penderitaan kerap terasa sunyi. Puisi tidak datang sebagai hiburan riuh, melainkan sebagai pengakuan. Ia mengatakan bahwa kesedihan itu sah, bahwa seseorang tidak sendirian menghadapinya. Puisi musibah yang baik tidak mengeksploitasi luka atau memamerkan air mata. Ia menunduk, memilih kata-kata sederhana, dan memberi ruang hening agar duka bisa bernapas.

Tradisi ini telah lama hidup di Nusantara. Di Aceh dan Tanah Gayo, syair dan didong lahir dari pengalaman kolektif—perang, wabah, dan bencana alam. Syair menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan dan merawat ketabahan bersama. Yang terdengar bukan suara tunggal, melainkan suara “kami” yang terluka namun tetap bertahan.

Namun puisi juga bisa gagal jika tergesa-gesa. Saat luka masih basah, keindahan yang berlebihan justru terasa asing. Karena itu, puisi musibah menuntut empati dan kejujuran—keberpihakan pada manusia, bukan pada estetika semata.

Puisi tidak menyembuhkan bencana. Tetapi ia dapat menemani duka agar tidak berubah menjadi keputusasaan. Di dunia yang sering sibuk memberi nasihat, puisi memilih hadir sebagai pendengar—sebagai pelukan sunyi yang terbuat dari kata-kata.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Indra Adhari Rilis ‘Lima Tahun’ Dimomen HUT RI: September Rilis Single di Label Internasional Malaysia!

31 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

30 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur 

30 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan

29 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

Trending di SENI BUDAYA