Menu

Mode Gelap
Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah Divre III Palembang Hadirkan Rangkaian Kereta Ekonomi Premium pada KA Rajabasa, Perjalanan Kini Semakin Nyaman Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung Tahun Ini Asia Babak Belur, FIFA Masih Pertimbangkan Kuota 12 Tiket untuk Piala Dunia 2030 Semester I 2026, KAI Group Layani Hampir 259 Juta Pelanggan, Naik 7,55 Persen

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana?

badge-check


 Catatan LK Ara: Dapatkah Puisi Menghibur Korban Bencana? Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Setiap bencana meninggalkan dua luka sekaligus: kerusakan yang tampak dan guncangan batin yang sering luput diperhatikan. Rumah bisa dibangun kembali, tetapi rasa aman dan ketenangan tidak selalu mudah dipulihkan. Di ruang inilah muncul pertanyaan: mampukah puisi menghibur mereka yang tertimpa musibah?

Puisi jelas bukan logistik. Ia tidak menggantikan makanan, selimut, atau obat-obatan. Ia juga tidak menghentikan hujan atau mengembalikan yang hilang. Namun puisi bekerja di wilayah lain—wilayah batin. Ia memberi bahasa pada rasa takut, duka, dan kehilangan yang sering kali tak sanggup diucapkan.

Bagi korban bencana, penderitaan kerap terasa sunyi. Puisi tidak datang sebagai hiburan riuh, melainkan sebagai pengakuan. Ia mengatakan bahwa kesedihan itu sah, bahwa seseorang tidak sendirian menghadapinya. Puisi musibah yang baik tidak mengeksploitasi luka atau memamerkan air mata. Ia menunduk, memilih kata-kata sederhana, dan memberi ruang hening agar duka bisa bernapas.

Tradisi ini telah lama hidup di Nusantara. Di Aceh dan Tanah Gayo, syair dan didong lahir dari pengalaman kolektif—perang, wabah, dan bencana alam. Syair menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan dan merawat ketabahan bersama. Yang terdengar bukan suara tunggal, melainkan suara “kami” yang terluka namun tetap bertahan.

Namun puisi juga bisa gagal jika tergesa-gesa. Saat luka masih basah, keindahan yang berlebihan justru terasa asing. Karena itu, puisi musibah menuntut empati dan kejujuran—keberpihakan pada manusia, bukan pada estetika semata.

Puisi tidak menyembuhkan bencana. Tetapi ia dapat menemani duka agar tidak berubah menjadi keputusasaan. Di dunia yang sering sibuk memberi nasihat, puisi memilih hadir sebagai pendengar—sebagai pelukan sunyi yang terbuat dari kata-kata.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Trending di SENI BUDAYA