Wartatrans.com, JAKARTA – Riuh tepuk tangan memenuhi ruang Luxus Grand Ballroom, Kemayoran, Jakarta saat Kristoforus Hakim berdiri di atas panggung perayaan ulang tahun ke-13 PT Lintas Jaringan Nusantara (LJN) pada Sabtu (23/5/2026).
Jumlah peserta yang hadir malam itu bahkan melampaui kapasitas ruangan.

Awalnya panitia hanya menyiapkan 950 kursi round table. Namun peserta yang datang mencapai sekitar 1.200 orang. Sebagian tamu akhirnya harus duduk di area teater karena tempat tidak lagi mencukupi.
Vendor besar telekomunikasi hadir satu per satu. Ada Telkom, Icon Plus, Indosat, hingga berbagai mitra infrastruktur lainnya. Karyawan, mitra RT/RW Net, keluarga, hingga para pelaku usaha internet rumahan berkumpul dalam satu ruangan.
Di tengah suasana meriah itu, Kristoforus justru membawa para tamu kembali ke masa ketika semuanya belum bernama LJN. Saat dirinya belum menjadi CEO perusahaan telekomunikasi.
“Jujur, saya enggak pernah bercita-cita atau bahkan bermimpi berdiri di depan sini sebagai CEO perusahaan telekomunikasi,” katanya.
Ia tertawa kecil saat mengenang cita-cita masa mudanya yang jauh dari dunia internet.
Dulu, ia ingin menjadi pedagang martabak.
Ia bahkan sempat belajar membuat martabak dan hampir membuka usaha sendiri. Namun rencana itu batal setelah sang ibu marah.
“Buat apa capek-capek kuliahin kamu ujung-ujungnya cuma jualan martabak,” kenangnya menirukan ucapan sang ibu.
Seperti kebanyakan orang tua pada masanya, ibunya berharap ia bekerja kantoran, duduk di ruangan ber-AC, dengan pekerjaan yang dianggap lebih mapan.

Kristoforus sempat mengikuti jalur itu. Ia pernah bekerja di perusahaan rokok, berdagang berbagai barang, hingga mencoba berbagai usaha kecil. Namun hidupnya berubah pada 2004.
Saat itu ia membuka sebuah warnet kecil di Pademangan, Jakarta Utara.
Bukan untuk mengejar bisnis besar, melainkan demi ayahnya.
Ayahnya bekerja sebagai teknisi AC dan masih harus memanjat gedung di usia sekitar 50 tahun. Kristoforus merasa pekerjaan itu terlalu berisiko.
Ia ingin ayahnya berhenti bekerja lapangan.
“Saya minta ayah saya berhenti kerja, jaga warnet saja,” ujarnya.
Modal warnet itu berasal dari keputusan besar yang masih diingatnya sampai sekarang: menjual mobil sang ayah, sebuah Suzuki Expass tahun 1996, seharga Rp16 juta.
Uang itu digunakan membeli empat unit komputer.
Warnet kecil di gang sempit itu kemudian menjadi titik awal semuanya.
Di tempat itulah Kristoforus mulai mengenal Mikrotik dan dunia jaringan internet. Saat itu harga bandwidth masih sangat mahal. Internet rumahan belum seperti sekarang.
Ia mulai belajar mengutak-atik jaringan demi menghemat biaya operasional warnetnya. Dari forum-forum internet, ia belajar membangun koneksi wireless sederhana.
Awalnya hanya untuk kebutuhan bermain game Dota antarwarnet melalui jaringan Battle.net lokal.
Namun tanpa disadari, kebutuhan internet rumah tangga ternyata tumbuh cepat.
Kristoforus mulai memasang antena wireless dari rumah ke rumah di kawasan Pademangan.
Dengan antena rakitan sederhana, koneksi internet dibagikan ke pelanggan sekitar.
“Enggak disangka ternyata kebutuhan internet rumah itu cukup banyak,” katanya.
Usaha kecil itu berkembang cepat. Pada 2009, jaringan rumahan yang dibangunnya sudah memiliki sekitar 350 pelanggan.
Namun perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus.
Sekitar 2010, perusahaan besar masuk ke wilayah Pademangan dengan teknologi fiber optik dan harga jauh lebih murah. Pelanggan Kristoforus perlahan berpindah.
Dari 350 pelanggan, tersisa hanya sekitar 35.
Ia menyebut masa itu sebagai titik nyaris bangkrut.
Belum selesai menghadapi persaingan bisnis, cobaan lain datang pada 2012. Dua mobil aparat mendatangi usahanya. Ada petugas dari kepolisian, Balai Monitoring, dan dinas terkait.
Kristoforus gemetar.
Ia tahu usaha internet yang dijalankannya belum memiliki izin lengkap. Selama ini ia hanya menjalankan bisnis sambil belajar sendiri tanpa benar-benar memahami regulasi telekomunikasi.
Hari itu menjadi salah satu momen paling menakutkan dalam hidupnya.
“Saya rasa dunia itu kiamat,” katanya.
Ia terancam hukuman pidana hingga enam tahun penjara dan denda miliaran rupiah.
Beruntung, saat itu kasusnya masih sebatas pembinaan. Ia diminta mengurus izin resmi sebagai penyelenggara jasa internet atau ISP.
Prosesnya tidak mudah.
Pada 2013, ia mendirikan badan usaha resmi demi memenuhi persyaratan perizinan. Namun izin ISP baru benar-benar selesai bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2016.
Pengalaman itu membuat Kristoforus memahami satu hal penting: banyak pelaku usaha internet kecil sebenarnya hanya ingin membantu masyarakat mendapatkan akses internet, tetapi minim pemahaman regulasi.
Kesadaran itu semakin kuat ketika ia mendengar kisah dua pelaku RT/RW Net dari Bengkulu Utara, Kori dan Hari. Keduanya sempat menjalani proses hukum hingga duduk sebagai terdakwa hanya karena membagikan internet ke tetangga di desa terpencil yang belum dijangkau operator.
Kasus itu viral dan mengguncang komunitas RT/RW Net di Indonesia.
Pada 2017, berbagai pelaku RT/RW Net berkumpul dalam musyawarah nasional di Bandung. Dari sana muncul kesadaran bersama tentang pentingnya legalitas dan perlindungan usaha kecil internet komunitas.
Kristoforus kemudian membangun LJN bukan sekadar sebagai perusahaan internet, tetapi sebagai tempat berteduh bagi komunitas RT/RW Net.
Ia tidak pernah menganggap RT/RW Net sebagai sekadar produk bisnis.
“Bagi saya RT/RW Net itu amanah,” ujarnya.
Karena pernah berada di posisi sulit, ia tidak ingin pelaku usaha kecil lain mengalami ketakutan yang sama.
Ia ingin LJN menjadi rumah bagi para penyedia internet kecil yang selama ini berjalan sendiri-sendiri menghadapi masalah regulasi, teknologi, dan persaingan pasar.
Kini, 13 tahun setelah LJN berdiri, ballroom besar pun terasa tidak lagi cukup menampung seluruh mitra dan keluarga besar perusahaan.
Dari empat komputer hasil penjualan mobil ayahnya, Kristoforus membawa LJN tumbuh menjadi ekosistem bisnis telekomunikasi yang menaungi ribuan mitra di berbagai daerah.
Namun di balik pertumbuhan itu, ia tetap mengingat bagaimana semuanya dimulai: dari sebuah warnet kecil di dalam gang sempit, dari seorang anak yang hanya ingin ayahnya berhenti memanjat gedung.
Suasana Perayaan Ulang Tahun LJN
Suasana perayaan HUT ke-13 LJN siang itu juga terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hampir seluruh peserta yang memenuhi ballroom tampil dengan nuansa biru, warna identitas perusahaan yang mendominasi ruangan. Dari karyawan, mitra RT/RW Net, vendor, hingga keluarga peserta tampak berbaur dalam suasana hangat yang lebih menyerupai reuni besar komunitas internet dibanding acara korporasi formal.
Di beberapa sudut ruangan, para mitra saling bercengkerama sambil mengenang masa awal membangun jaringan internet rumahan di daerah masing-masing. Sebagian lainnya mengabadikan momen bersama keluarga dan rekan kerja di depan panggung besar bertuliskan “Strong Connection, Greater Growth”.
Bagi banyak peserta, acara itu bukan sekadar perayaan ulang tahun perusahaan, melainkan simbol perjalanan panjang komunitas RT/RW Net yang tumbuh bersama LJN.
Peryaan juga menyuguhkan penampilan dari Stand Up Comedian Abdur Arsyad dan Taks Show dari Kreator David Alfa Sunarna.
Momen paling meriah terjadi ketika Kristoforus Hakim mengumumkan hadiah umrah dan perjalanan wisata luar negeri bagi para mitra dan karyawan. Awalnya manajemen hanya menyiapkan hadiah umrah untuk tujuh orang. Namun setelah diskusi internal, jumlah penerima ditambah menjadi sembilan orang.
“Awalnya tujuh, tapi akhirnya kita tambah dua lagi jadi sembilan,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Sebanyak tujuh penerima dipilih langsung sebagai bentuk apresiasi kepada para mitra dan generasi awal yang ikut tumbuh bersama LJN sejak masa-masa sulit. Sementara dua tiket lainnya dibagikan melalui doorprize.
Tak hanya itu, panitia juga membagikan hadiah perjalanan wisata ke tiga negara yang semakin memeriahkan suasana siang itu. Sorak sorai peserta beberapa kali terdengar ketika nama pemenang diumumkan dari atas panggung.
Bagi Kristoforus, hadiah tersebut bukan sekadar simbol perayaan, melainkan bentuk penghargaan terhadap loyalitas para mitra yang selama ini bertahan menghadapi perubahan industri internet yang terus berkembang.
Di tengah gemerlap lampu ballroom dan ribuan peserta berbaju biru yang memenuhi ruangan, Kristoforus tampak beberapa kali terdiam memandangi suasana di hadapannya. Dari warnet kecil di gang sempit Pademangan, perjalanan itu kini telah membawa LJN menjadi rumah besar bagi ribuan mitra internet komunitas di berbagai daerah Indonesia.(fahmi)





























