Wartatrans.com, BOGOR — Diplomasi melalui sastra dan budaya kembali ditegaskan sebagai jembatan keindahan untuk merawat keharmonisan antarnegara. Mesir, yang dikenal luas sebagai salah satu pusat peradaban dunia Arab, telah melahirkan banyak sastrawan berkelas internasional. Salah satunya adalah Naguib Mahfouz, penerima Hadiah Nobel Sastra pada 1988 atas karya-karyanya yang kuat merekam denyut sosial Mesir modern.
Selain sastra, Mesir juga memiliki tradisi seni pertunjukan yang mapan. Cairo Opera House, yang berdiri di kawasan Zamalek sejak 1988, menjadi pusat seni pertunjukan kelas dunia. Gedung ini rutin menampilkan opera, balet, serta musik Arab dan internasional, menegaskan posisi Mesir sebagai poros kebudayaan global.

Hubungan kebudayaan Indonesia–Mesir sendiri bukanlah hal baru. Fondasi persahabatan kedua negara telah terjalin sejak masa pemerintahan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Sejarah panjang ini dinilai perlu terus dirawat dan diperkuat melalui kolaborasi nyata para penggiat seni dan budaya.

Harapan itu disampaikan Halimah Munawir, pemilik Rumah Budaya HMA, seusai kegiatan sosialisasi yang digelar Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir, Abdul Mutaiali, di Rumah Budaya HMA, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
Menurut Halimah, diplomasi kebudayaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia berharap pemerintah kedua negara memberi perhatian lebih untuk menggiatkan kembali “titian muhibah” seni dan budaya antara Indonesia dan Mesir. “Pertukaran seniman, sastrawan, dan program kebudayaan bersama penting untuk menjaga silaturahmi, mempererat persahabatan, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya masing-masing negara,” ujarnya.
Melalui jalur sastra dan budaya, Indonesia dan Mesir dinilai memiliki ruang luas untuk terus berdialog—tanpa sekat politik—demi harmoni yang berkelanjutan di antara dua bangsa dengan sejarah dan peradaban besar.*** (PG)
























