Menu

Mode Gelap
Eksekusi Lahan Pasar Inpres Takengon Ricuh, Aparat Amankan Situasi KAI Targetkan Stasiun Gambir Layani KRL pada 2028, Dukung Akses Langsung ke Monas KAI Perkuat Operasi dan Transformasi Bisnis Usai RUPS 2025, Bobby Rasyidin Paparkan Empat Arah Strategis Perkuat Ekosistem Penerbangan Nasional, INACA Kembali Gelar Indonesia Aero Summit Momentum HUT Ke-13, IPC TPK Hadirkan Khitanan Massal untuk Masyarakat Ombudsman RI Tinjau Pelabuhan Tanjung Priok, Pelayanan Publik Pelindo Tuai Apresiasi

RAGAM

Dongeng tentang Sang Penanya Bunyi di Samudra Raya

badge-check


 Dongeng tentang Sang Penanya Bunyi di Samudra Raya Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Pada masa ketika peta dunia masih dilukis dengan tinta tipis dan keyakinan, dan Tanah Angin Barat di ujung Sumatra hanya dikenal melalui kabar para pelaut dan hikayat para ulama, hiduplah seorang lelaki yang namanya sengaja disamarkan oleh zaman. Orang-orang memanggilnya dengan berbagai sebutan—si Pendengar, Penanya Bunyi, atau kadang hanya “ia yang membawa ingatan.” Ia berasal dari pesisir yang menghadap Samudra Hindia Raya, dekat gugusan pulau yang oleh pedagang Gujarat dan Aceh disebut Pulau-Pulau Banyak, tempat arus laut berkelok seperti pikiran manusia.

Sejak kecil, ia tidak tertarik pada senjata atau perniagaan. Ketika anak-anak lain belajar menghitung lada dan timah, ia duduk di tepi pantai mendengarkan perahu berlabuh, mencatat perbedaan bunyi tali basah dan tali kering dalam ingatannya. Ia percaya setiap suara memiliki asal dan maksud, sebagaimana setiap manusia memiliki silsilah. Orang tuanya mengira ia aneh, namun seorang tua di kampung berkata, “Anak ini kelak akan membaca dunia tanpa huruf.”

Ketika usianya cukup untuk berlayar, ia meninggalkan pesisir asalnya dengan kapal kayu berhaluan tinggi, mengikuti jalur angin musim menuju bandar-bandar besar. Ia singgah di Lamuri yang mulai sepi, lalu ke pelabuhan yang menghadap Selat Malaka, tempat saudagar Arab, Turki, dan Eropa bertukar barang dan kabar. Namun yang ia cari bukan kain atau rempah, melainkan bunyi: azan dengan langgam berbeda, tabuhan gendang yang menandai waktu dagang, dan syair pelaut yang dilantunkan untuk menahan takut di laut terbuka.

Ia tidak mencatat dengan tinta. Ia mencatat dengan kesabaran. Di setiap negeri, ia duduk lama, mendengar lebih banyak daripada berbicara. Ia belajar bahwa di tanah pesisir, musik berjalan bersama ombak, sementara di pedalaman ia berakar pada langkah kaki dan napas manusia. Ia melihat bahwa bunyi dapat menyatukan orang, tetapi juga dapat memisahkan mereka bila dilupakan asalnya.

Pada suatu masa, ia menyeberang ke pulau-pulau kecil di selatan Sumatra, tempat masyarakat hidup dari laut dan hutan bakau. Di sana ia mendengar dendang yang hanya dinyanyikan saat bulan condong ke barat. Dendang itu tidak untuk hiburan, melainkan untuk mengingatkan manusia akan batas: antara darat dan laut, antara hidup dan mati. Ia tinggal lama, membantu menarik jala, memperbaiki perahu, hingga orang-orang mempercayainya dengan cerita yang tak pernah dibagikan kepada orang luar.

Namun zaman mulai berubah. Kapal-kapal asing datang dengan meriam dan perjanjian. Banyak adat dianggap penghalang kemajuan, banyak bunyi lama ditinggalkan demi irama baru yang lebih keras dan cepat. Lelaki itu menyaksikan bagaimana ingatan perlahan tergerus. Maka ia memutuskan kembali ke Tanah Angin Barat, bukan sebagai pengelana, melainkan sebagai penjaga.

Ia mendirikan tempat berkumpul—bukan istana, bukan pula surau—melainkan ruang terbuka tempat orang duduk melingkar. Di sana ia tidak mengajarkan lagu terlebih dahulu, melainkan cara mendengar. “Sebelum engkau menabuh,” katanya, “engkau harus tahu apa yang hendak kau jawab.” Anak-anak muda mula-mula gelisah, sebab mereka ingin segera bermain bunyi. Namun perlahan mereka belajar bahwa senyap pun adalah bagian dari ilmu.

Ia mengajarkan bahwa bunyi bukan milik siapa pun, tetapi titipan zaman. Bahwa lagu tidak lahir untuk dipamerkan, melainkan untuk menyimpan pengalaman manusia. Ia meminta murid-muridnya pergi ke kampung, ke pulau, ke pedalaman, dan kembali bukan dengan hafalan, melainkan pemahaman. “Jika kau tak mengerti dari mana bunyi itu datang,” katanya, “kau tak akan tahu ke mana ia pergi.”

Kabar tentangnya menyebar. Para alim berdiskusi dengannya tentang hubungan bunyi dan doa. Para tetua adat menemuinya untuk memastikan tradisi mereka tidak dipotong dari akarnya. Bahkan saudagar dan utusan negeri asing duduk bersamanya, heran melihat seorang lelaki yang tidak menawarkan apa-apa selain cara mendengar dunia. Ia tidak menolak perubahan, tetapi menolak lupa.

Di usia lanjut, rambutnya memutih seperti buih laut. Ia jarang bepergian jauh, tetapi murid-muridnya telah tersebar mengikuti jalur angin dan arus. Mereka membawa bukan namanya, melainkan caranya. Lelaki itu tahu, kelak namanya akan hilang, dan ia tidak keberatan. Baginya, yang penting adalah bunyi-bunyi tua tetap menemukan telinga baru.

Pada suatu subuh, ia berjalan ke pantai tempat ia dulu belajar mendengar. Ia duduk lama, menatap Samudra Hindia Raya yang tak pernah benar-benar diam. Orang-orang berkata, ketika matahari naik, tubuhnya telah tiada, tetapi angin hari itu membawa irama yang ganjil—seolah laut sedang bercerita.

Sejak saat itu, para pelaut Tanah Angin Barat percaya: bila angin berhembus dengan nada yang tak biasa, itu pertanda dunia sedang mengingat dirinya sendiri. Dan di antara ingatan itu, tersembunyi jejak seorang lelaki tanpa nama, yang pada abad yang jauh telah mengajarkan bahwa bunyi adalah ilmu, dan mendengar adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.*** (Ari J. Palawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Eksekusi Lahan Pasar Inpres Takengon Ricuh, Aparat Amankan Situasi

8 Juli 2026 - 15:02 WIB

Momentum HUT Ke-13, IPC TPK Hadirkan Khitanan Massal untuk Masyarakat

8 Juli 2026 - 12:43 WIB

Ombudsman RI Tinjau Pelabuhan Tanjung Priok, Pelayanan Publik Pelindo Tuai Apresiasi

8 Juli 2026 - 12:32 WIB

Mendagri Tito Karnavian Temui Tokoh Masyarakat Enang-Enang, Bahas Solusi Jalan dan Jembatan

7 Juli 2026 - 23:54 WIB

Pelindo Solusi Digital Perkuat Rantai Pasok Nasional Lewat Implementasi Produk Digital Pelabuhan

7 Juli 2026 - 20:57 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng Suara Surabaya Media, Perkuat Edukasi Publik untuk Mitigasi Kepadatan Arus Logistik

7 Juli 2026 - 20:20 WIB

13 Keuchik Kluet Tengah Bersatu Desak Pemerintah Segera Tetapkan WPR

7 Juli 2026 - 13:10 WIB

Mustafa Gaseu Soroti 60 Unit Rumah Bantuan APBA di Aceh Barat Mangkrak, Desak Pemerintah Aceh Segera Tuntaskan Pembangunan

7 Juli 2026 - 12:15 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Teguhkan Komitmen Pelayanan Melalui Penandatanganan Maklumat Pelayanan

6 Juli 2026 - 17:38 WIB

Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok Gelar Serah Terima Jabatan Nakhoda Kapal Negara Patroli, Perkuat Profesionalisme dan Keselamatan Pelayaran

6 Juli 2026 - 17:30 WIB

Trending di ANJUNGAN