Wartatrans.com, OPINI — Sekarang grup ilustrasi sama komik itu sudah beda. Sudah dibanjiri gambar AI. Dan yang paling sering muncul, bukan yang bikin dari nol. Tapi yang ambil gambar yang sudah jadi, terus diubah jadi realistis.
Ambil gambar. Masukin. Ubah jadi realistis. Enter. Jadi.

Rasanya memang kayak dukun. Baca mantra, tiup, keluar gambar. Yang satu belajar anatomi bertahun tahun, yang satu cukup ambil gambar yang sudah jadi, terus diubah. Jempol jadi otot utama. Bukan tangan, bukan mata, bukan rasa.
Seniman jelas resah. Wajar. Mereka itu bukan cuma “bisa gambar”. Mereka bayar mahal buat bisa sampai situ. Waktu, tenaga, begadang, gagal, ulang lagi. Itu investasi panjang.
Lah ini… orang baru buka aplikasi, belum ngopi, mulut masih bau jigong sudah bisa upload sepuluh gambar. Tinggal ambil cover komik lama, ubah jadi realistis, jadi. Dan sering kelihatan lebih menarik lagi. Ya mental siapa yang nggak goyang.
Tapi kalau mau jujur, prompter juga nggak bisa dibilang salah. Mereka mungkin dari dulu memang pengin bikin gambar. Suka komik, suka ilustrasi. Pengin pamer juga. sama dengan kita kita. Bedanya cuma satu, dulu nggak sanggup memenuhi syaratnya, yaitu bisa nggambar. Bukan karena nggak niat, tapi karena skill itu memang gak semua orang punya. Sekarang ada teknologi yang “mengganti” syarat itu.
Sekarang pintu tlah terbuka. Syaratnya sudah terlewati. Dulu harus bisa gambar. Sekarang cukup bisa ngetik… ambil gambar, lalu diubah. Ya jelas banyak yang lolos. Dan begitu lolos, ya mereka pengin eksis. Pengin pamer. Itu manusia banget. Jangan sok suci. Seniman juga sama.
Masalahnya sekarang semua orang bisa bikin gambar yang kelihatan bagus. Bahkan tanpa bikin dari nol. Ambil satu gambar, ubah gaya, jadi realistis, upload. Kalau semua bisa, ya semua upload. Kalau semua upload, ya banjir.
Di titik ini seniman mulai panik. Mau ngimbangi? Susah. Lu bikin satu karya sambil mikir komposisi, gesture, lighting. Prompter bikin sepuluh dari satu sumber gambar yang sama, tinggal diubah gayanya.
Jadi pilihan lu cuma dua. Ikut main di cara mereka, atau atur arena. Kalau lu maksa ngelawan produktivitas AI pakai cara manual, ya itu bukan heroik. Itu bunuh diri pelan pelan.
Lebih masuk akal, kalau memang mau jaga ruang seniman, ya bikin aturan. Tulis jelas. No AI. Selesai.
Kalau nggak ada aturan, ya jangan ngamuk. Mereka nggak salah. Mereka cuma pakai alat yang tersedia.
Protes tanpa aturan itu lucu. Kayak fans bola hater Arsenal yang ngambek: “alah golnya cuma dari sepak pojok”. Lah emang dilarang? Atau penonton MMA hater Khabib yang nyinyir: “ih dia menangnya pakai gulat”. Ya itu MMA, bukan lomba pukul pukulan doang.
Lu masuk ke arena bebas, tapi berharap semua orang main sesuai selera lu. Ya nggak akan ketemu.
Jadi rapikan dulu variabelnya. Ini ruang bebas, atau ruang kurasi? Kalau bebas, ya terima semua. Termasuk yang model ambil gambar terus dijadiin realistis. Kalau mau kualitas berbasis skill, ya saring. Simple.
Dan ini bagian yang agak nyesek. Sekarang “gambar bagus” itu bukan lagi keunggulan. Karena bahkan tanpa bikin pun, orang bisa punya. Di situ baru kelihatan bedanya. Siapa yang benar benar bikin. Siapa yang cuma ngubah.*** (Adi Suta)





























