Menu ✖

Mode Gelap
Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya HSSE melalui Pelatihan Tanggap Darurat DAMRI Uji Coba Bus Listrik di Kota Serang, Dukung Transportasi Publik Berkelanjutan IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting di Temanggung, dari Edukasi Keluarga hingga Pangan Bergizi KPLP Tanjung Priok Fokus Tangani KMP Batu Mandi dan Antisipasi Pencemaran Laut Hari Santri Nasional Diperingati Sederhana, SICE EO Acungi Jempol WCCE 2026 Hasilkan Jakarta Vision, Indonesia Bidik Masa Depan Ekonomi Kreatif Dunia

SENI BUDAYA

Dukun Visual di Grup Komik

badge-check


 Dukun Visual di Grup Komik Perbesar

Wartatrans.com, OPINI — Sekarang grup ilustrasi sama komik itu sudah beda. Sudah dibanjiri gambar AI. Dan yang paling sering muncul, bukan yang bikin dari nol. Tapi yang ambil gambar yang sudah jadi, terus diubah jadi realistis.

Ambil gambar. Masukin. Ubah jadi realistis. Enter. Jadi.

Rasanya memang kayak dukun. Baca mantra, tiup, keluar gambar. Yang satu belajar anatomi bertahun tahun, yang satu cukup ambil gambar yang sudah jadi, terus diubah. Jempol jadi otot utama. Bukan tangan, bukan mata, bukan rasa.

Seniman jelas resah. Wajar. Mereka itu bukan cuma “bisa gambar”. Mereka bayar mahal buat bisa sampai situ. Waktu, tenaga, begadang, gagal, ulang lagi. Itu investasi panjang.

Lah ini… orang baru buka aplikasi, belum ngopi, mulut masih bau jigong sudah bisa upload sepuluh gambar. Tinggal ambil cover komik lama, ubah jadi realistis, jadi. Dan sering kelihatan lebih menarik lagi. Ya mental siapa yang nggak goyang.

Tapi kalau mau jujur, prompter juga nggak bisa dibilang salah. Mereka mungkin dari dulu memang pengin bikin gambar. Suka komik, suka ilustrasi. Pengin pamer juga. sama dengan kita kita. Bedanya cuma satu, dulu nggak sanggup memenuhi syaratnya, yaitu bisa nggambar. Bukan karena nggak niat, tapi karena skill itu memang gak semua orang punya. Sekarang ada teknologi yang “mengganti” syarat itu.

Sekarang pintu tlah terbuka. Syaratnya sudah terlewati. Dulu harus bisa gambar. Sekarang cukup bisa ngetik… ambil gambar, lalu diubah. Ya jelas banyak yang lolos. Dan begitu lolos, ya mereka pengin eksis. Pengin pamer. Itu manusia banget. Jangan sok suci. Seniman juga sama.

Masalahnya sekarang semua orang bisa bikin gambar yang kelihatan bagus. Bahkan tanpa bikin dari nol. Ambil satu gambar, ubah gaya, jadi realistis, upload. Kalau semua bisa, ya semua upload. Kalau semua upload, ya banjir.

Di titik ini seniman mulai panik. Mau ngimbangi? Susah. Lu bikin satu karya sambil mikir komposisi, gesture, lighting. Prompter bikin sepuluh dari satu sumber gambar yang sama, tinggal diubah gayanya.

Jadi pilihan lu cuma dua. Ikut main di cara mereka, atau atur arena. Kalau lu maksa ngelawan produktivitas AI pakai cara manual, ya itu bukan heroik. Itu bunuh diri pelan pelan.

Lebih masuk akal, kalau memang mau jaga ruang seniman, ya bikin aturan. Tulis jelas. No AI. Selesai.

Kalau nggak ada aturan, ya jangan ngamuk. Mereka nggak salah. Mereka cuma pakai alat yang tersedia.

Protes tanpa aturan itu lucu. Kayak fans bola hater Arsenal yang ngambek: “alah golnya cuma dari sepak pojok”. Lah emang dilarang? Atau penonton MMA hater Khabib yang nyinyir: “ih dia menangnya pakai gulat”. Ya itu MMA, bukan lomba pukul pukulan doang.

Lu masuk ke arena bebas, tapi berharap semua orang main sesuai selera lu. Ya nggak akan ketemu.

Jadi rapikan dulu variabelnya. Ini ruang bebas, atau ruang kurasi? Kalau bebas, ya terima semua. Termasuk yang model ambil gambar terus dijadiin realistis. Kalau mau kualitas berbasis skill, ya saring. Simple.

Dan ini bagian yang agak nyesek. Sekarang “gambar bagus” itu bukan lagi keunggulan. Karena bahkan tanpa bikin pun, orang bisa punya. Di situ baru kelihatan bedanya. Siapa yang benar benar bikin. Siapa yang cuma ngubah.*** (Adi Suta)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Setelah Vakum Sejak 2010, Dewan Kesenian Aceh Tengah Diupayakan Aktif Kembali

21 Oktober 2026 - 19:41 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Apresiasi Semarak Kebudayaan Kabupaten Bogor, Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

21 Oktober 2026 - 12:56 WIB

BPW Oi DKI Jakarta Gelar JAKARTA Oi NGUMPUL (JOiN 2) 2026 di Kota Tua

21 Oktober 2026 - 08:51 WIB

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Trending di SENI BUDAYA