Menu

Mode Gelap
Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat Pelayanan & Pengamanan Penumpang Kapal Kepulauan Seribu di Dermaga Muara Angke KAI Daop 7 Madiun Ganti Rangkaian Bangunkarta dan Singasari dengan Stainless Steel New Generation mulai 15 April KAI Layani 4,65 Juta Pelanggan PSO pada Triwulan I 2026, Naik 13,91 Persen Liburan Hemat dari Jakarta ke Purwakarta Mulai Rp8.000, Perjalanan Singkat dengan KRL dan KA Lokal ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Siwa–Kolaka, Tetap Jaga Kelancaran Layanan Operasional

RAGAM

Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas

badge-check


 Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH —Fenomena tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan kian mengkhawatirkan.

Luas area amblasan kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 30.000 meter persegi (sekitar 3 hektare). Awalnya, amblasan hanya terjadi di area beberapa ribu meter persegi, namun dari tahun ke tahun terus berkembang.

Amblasan tersebut menyerupai sinkhole atau kubangan besar, yang telah menelan lahan pertanian milik warga, memutus badan jalan utama, serta semakin mendekati permukiman penduduk.

Akibatnya, jalan lintas antar kabupaten Aceh Tengah–Bener Meriah terputus total, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas fenomena ini dan menimbang langkah teknis penanganan ke depan. Sementara itu, PLN turut melakukan langkah mitigasi dengan mengamankan jaringan transmisi listrik 150 kV Bireuen–Takengon, termasuk relokasi jaringan dari zona rawan longsor.

Fenomena tanah amblas ini bukan kejadian baru. Warga menyebutkan pergerakan tanah telah berlangsung selama bertahun-tahun dan terus memburuk.

Kekhawatiran meningkat saat hujan deras, karena berpotensi memicu longsor tambahan dan memperluas area amblasan.

Secara teknis, struktur geologi wilayah tersebut dinilai rapuh. Tanah yang berasal dari material vulkanik mudah jenuh air, sehingga curah hujan tinggi mempercepat pergerakan tanah.

Fenomena ini kini menjadi ancaman serius bagi permukiman warga, infrastruktur vital, lahan pertanian, serta perekonomian lokal. Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dinamis dan memerlukan perhatian serta penanganan berkelanjutan dari pihak terkait.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Begini Skema Kebijakan Penerapan WFH bagi ASN Kemenhub

10 April 2026 - 08:52 WIB

Scoot Perluas Jangkauan di Indonesia, Buka Rute Baru ke Belitung dan Pontianak

10 April 2026 - 06:50 WIB

Presiden Prabowo Mengaku Tengah Membentuk Perusahaan Sedan Listrik 

9 April 2026 - 18:04 WIB

Trending di JALUR