Menu

Mode Gelap
Peserta UI Green Marathon Bisa Naik KRL, Kereta Tambahan Berangkat Pukul 02.30 WIB Halimah Munawir: Dari Bandung ke Jakarta, MMS Bawa Semangat Kesundaan untuk Nusantara KAI Daop 1 Jakarta Ingatkan Pengemudi Truk Waspada Saat Melintasi Perlintasan Sebidang Mengingat 3 Dosa Pertama dalam Kehidupan Manusia Disnav Banjarmasin Apresiasi Kepatuhan Pelaporan SBNP dan SROP/VTS Non-DJPL Perkuat Kolaborasi, Disnav Banjarmasin Konsisten Jaga Keselamatan Pelayaran

RAGAM

Halimah Munawir: Dari Bandung ke Jakarta, MMS Bawa Semangat Kesundaan untuk Nusantara

badge-check


 Halimah Munawir: Dari Bandung ke Jakarta, MMS Bawa Semangat Kesundaan untuk Nusantara Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Semangat kesundaan tidak berhenti di Tatar Sunda. Di tengah dinamika Jakarta sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan nasional, para tokoh Sunda justru melihat peluang untuk memperluas jejaring, gagasan dan kontribusi bagi Indonesia.
Semangat itulah yang dibawa Majelis Musyawarah Sunda (MMS) melalui Pasamoan Inohong Sunda yang digelar bertepatan dengan rangkaian Milangkala Kadua MMS, Sabtu (8/8/2026), di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum silaturahmi para tokoh Sunda, tetapi juga menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana identitas, nilai dan kebudayaan Sunda dapat terus memiliki relevansi dalam kehidupan kebangsaan.
Direktur Eksekutif Badan Pekerja MMS, Andri Perkasa Kantaprawira, mengatakan kehadiran MMS di Jakarta merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring persaudaraan dan gagasan.
Menurutnya, selama ini berbagai aktivitas MMS memang banyak berlangsung di Bandung dan Jawa Barat. Namun, keberadaan banyak tokoh Sunda di Jakarta yang telah berkiprah di tingkat nasional menjadi alasan penting untuk memperluas ruang perjumpaan.
“Semangatnya tetap sama, yakni ngarawat duduluran, ngukuhkeun jatidiri Sunda, sarta ngawangun darma Sunda pikeun Nusantara,” ujar Andri.
Kesundaan Bukan Sekadar Identitas
Forum tersebut menghadirkan jajaran Pinisepuh Pamangku Sunda, antara lain Dr. (H.C.) Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A.; Laks. TNI (Purn.) Dr. H.R.M. Ade Supandi, S.E., M.A.P.; Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA.; Komjen Pol. (Purn.) Drs. Taufiequrachman Ruki, S.H.; H. Zainudin, S.H., M.H. (Bang Oding); Dr. (H.C.) Hj. Halimah Munawir; Dindin S. Maolani, S.H.; Drs. H. Nu’man Abdul Hakim; Sri Radya H.R. Ikik Lukman Soemadisoeria; Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja, M.Psi., MBA.; Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, S.E., M.S., DEA.; Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.; serta Ir. H. Ayi Hambali.
Sejumlah tokoh lain juga tercatat dalam jajaran Ngiring Ngulem, di antaranya Komjen (Purn.) Drs. H. Adang Daradjatun; Komjen (Purn.) Dr. Drs. H. M. Iriawan, S.H., M.M., M.H.; Ir. Mohammad Jumhur Hidayat, M.Si.; Komjen (Purn.) Dr. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M.; Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU; serta Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si.

Halimah Munawir (Baju dan jilbab kuning) di antara para tokoh Sunda.

Bagi MMS, identitas Sunda tidak dimaknai sebagai eksklusivitas etnis. Justru sebaliknya, nilai-nilai kesundaan diharapkan menjadi energi kultural yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan bangsa.
Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman berbagai tokoh Sunda yang selama ini bergerak di bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, pemerintahan, akademik, sosial hingga sastra.
Salah satu di antaranya adalah Halimah Munawir, penulis, penyair dan pegiat seni budaya yang juga tercatat sebagai Pinisepuh MMS.
Halimah selama ini dikenal melalui kiprahnya di dunia sastra dan kebudayaan. Ia merupakan pemilik dan Direktur Rumah Budaya HMA, Ketua Umum Yayasan Ajang Kreativitas Anak dan Seni Indonesia, serta Pemimpin Umum Obor Sastra. Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan literasi, pendidikan dan pengembangan seni budaya.
Sebagai penulis, Halimah telah menghasilkan sejumlah karya, antara lain The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Sahabat Langit, Kidung Volendam, PADMI, Pada Padang Lavender, serta karya puisi seperti Bayang Firdaus dan Titik Nadir.
Karyanya bahkan menjadi objek kajian akademik. Novel Sucinya Cinta Sungai Gangga pernah dikaji dalam jurnal pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, sementara penelitian lain menelaah leksikon budaya dalam novel PADMI sebagai bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia.

DR (Hc) Halimah Munawir pada acara memberikan potongan tumpeng pada menteri KLH.

Halimah: Budaya Harus Menjadi Jembatan
Halimah Munawir menilai pertemuan para tokoh Sunda seperti Pasamoan Inohong Sunda memiliki arti penting karena kebudayaan tidak seharusnya berhenti pada simbol dan nostalgia masa lalu.
Menurutnya, budaya harus menjadi ruang untuk mempertemukan manusia, membangun karakter dan melahirkan gagasan bagi masa depan.
“Kesundaan jangan hanya kita pahami sebagai identitas, tetapi juga sebagai nilai. Ada gotong royong, kesantunan, penghormatan kepada orang lain, kecintaan kepada alam dan semangat untuk membangun kehidupan yang harmonis. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk Indonesia hari ini,” kata Halimah.
Ia menambahkan, sastra dan seni memiliki posisi strategis karena mampu menjembatani berbagai kelompok masyarakat.
“Kalau kita bicara tentang Sunda, kita bukan hanya bicara tentang masa lalu. Kita harus bicara tentang bagaimana nilai-nilai itu bisa diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, sastra, seni dan ruang-ruang kreativitas,” ujarnya.
Sebagai pegiat literasi, Halimah selama ini juga mendorong agar sastra tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan teknologi digital. Menurutnya, kemampuan digital harus berjalan bersama dengan kemampuan membaca, menulis, merasakan dan merenungkan kehidupan.
Dari Identitas Menuju Pengabdian
Halimah melihat Jakarta memiliki posisi strategis dalam mempertemukan berbagai kekuatan budaya Nusantara.
Banyak orang Sunda yang bekerja, belajar, berusaha dan berkarya di Jakarta. Mereka datang bukan untuk membawa sekat identitas, tetapi membawa kompetensi dan nilai yang dapat disumbangkan bagi kepentingan yang lebih luas.
“Urang Sunda yang berada di Jakarta jangan kehilangan akar budayanya. Tetapi jangan pula berhenti pada identitas. Justru dari akar itulah kita tumbuh dan memberikan manfaat lebih luas,” katanya.
Ia menilai, pertemuan MMS dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara budayawan, akademisi, pengusaha, sastrawan, profesional dan generasi muda.
“Yang paling penting adalah bagaimana silaturahmi ini melahirkan gagasan dan gerakan. Jangan berhenti pada pertemuan. Setelah pulang, harus ada sesuatu yang bisa dikerjakan bersama,” ujar Halimah.
Menguatkan Duduluran, Membuka Ruang Kolaborasi
Sebelumnya, MMS juga telah menggelar berbagai forum pemikiran di Bandung, termasuk diskusi di Gedung Indonesia Menggugat yang menghadirkan tokoh pendidikan nasional sekaligus Pinisepuh MMS, Yudi Latif. Forum tersebut membahas Pancasila, persatuan dan keadilan.
Kini, Jakarta menjadi ruang berikutnya untuk memperluas perjumpaan.
Andri menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti MMS meninggalkan Bandung atau Jawa Barat sebagai basis kulturalnya.
“Bandung dan Jawa Barat tetap menjadi rumah penting bagi gerakan kesundaan. Tetapi urang Sunda ada dan berkarya di berbagai tempat. Karena itu, setelah Bandung, Jakarta menjadi bagian dari ikhtiar memperluas duduluran,” katanya.
Memasuki usia dua tahun, MMS tampaknya ingin menegaskan bahwa gerakan kesundaan tidak harus dibatasi oleh batas geografis.
Dari Bandung, gagasan bergerak ke Jakarta. Dari Jakarta, jejaring itu diharapkan terus berkembang ke berbagai daerah.
Pada titik inilah Pasamoan Inohong Sunda tidak sekadar menjadi agenda milangkala. Ia menjadi penanda bahwa menjaga identitas budaya dapat berjalan beriringan dengan membangun kontribusi untuk Indonesia.
Kesundaan tetap berakar di Tatar Sunda, tetapi darma dan manfaatnya dapat tumbuh untuk Nusantara.*** (Daus)

Baca Lainnya

Mengingat 3 Dosa Pertama dalam Kehidupan Manusia

8 Agustus 2026 - 11:29 WIB

Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir, TTL Raih Penghargaan Gold Program TJSL & CSR Award 2026

8 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Presiden Gerakan Pemuda Aceh Bersatu Kecam Amran, Desak Minta Maaf Kepada Mualeem: Jangan Lukai Martabat Aceh

8 Agustus 2026 - 01:41 WIB

GEMBIRA dan KUAT Jadi Bukti Komitmen IPCC, Raih Penghargaan TJSL 2026

7 Agustus 2026 - 23:18 WIB

Komitmen Perkuat Tata Kelola dan Kepatuhan Hukum, IPCM Teken Kerja Sama dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara

7 Agustus 2026 - 23:08 WIB

Aceh Diajak Kembali Menjadi Inspirasi Indonesia, Rafly Kande: Belajar dari Kejayaan Masa Lalu

7 Agustus 2026 - 20:14 WIB

Halaman Jeda Gelar Refleksi Semangat Dasar Aceh untuk Indonesia

7 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Gerakan Langit Biru Indonesia Asri DPC Partai Demokrat Semarang Mendapat Sambutan Baik

7 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Tgk. Ibrahim PMToH, Penjaga Warisan Sastra Aceh yang Nyaris Terlupakan Tampil di “Hikayat Bak Keude Kupi”

7 Agustus 2026 - 12:20 WIB

Aksi Spontan Rizki Putra Berbuah Dream Ticket di Main Drama Casting

7 Agustus 2026 - 11:16 WIB

Trending di SENI BUDAYA