Oleh: MelSaja
_____________
Wartatrans.com, KISAH — Sejak Senin, 24 November 2025, hujan seakan lupa cara berhenti. Ia turun pelan sejak pagi, lalu kian rapat menjelang malam, menetap di langit Kampung Menasah Glumpang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah—seperti kesedihan yang memilih tinggal.

Bagi Kartini, hujan itu bukan sekadar cuaca.
Ia adalah firasat.
Beberapa hari terakhir, Kartini dan suaminya, Ruhdini, bermalam di kebun cabai. Mereka menjaga tanaman, berharap hujan hanya menjadi berkah. Namun hari itu, hati Kartini tak tenang. Sungai di dekat kebun bersuara lain—lebih berat, lebih panjang, seperti mengabarkan sesuatu yang tak ingin ia dengar.
“Pulanglah,” pinta Kartini berulang kali.
Ruhdini tersenyum, mencoba menenangkan. Air, katanya, masih di batas wajar. Hujan, katanya, akan reda.
Malam datang membawa kebohongan.
Sekitar pukul sebelas, Kartini melangkah ke luar rumah. Dalam gelap dan hujan, ia melihat sungai melaju tanpa sabar. Air menghantam batu dan kayu, meraung seperti binatang terluka. Kartini kembali masuk. Malam itu, matanya terjaga, sementara firasatnya terus berdoa diam-diam.
Menjelang dini hari, suara air membesar.
Subuh tiba, hujan masih setia.
Kartini menanak nasi, menyiapkan pagi, sambil berkali-kali memandang sungai yang kian naik, seolah ingin masuk ke kehidupan mereka.
Teriakan membangunkan kampung.
Air meluap.
Jembatan hanyut.
Manusia memanggil manusia lain dengan suara putus-putus oleh derasnya arus.
Ruhdini bergegas bersama warga. Batang kayu disusun seadanya—jembatan rapuh melawan amarah sungai. Kartini sempat menarik lengannya.
“Jangan lama,” katanya lirih.
Kartini membawa anak bungsunya menjauh. Septi, anak sulung mereka, masih di rumah. Kartini percaya, seorang ayah selalu tahu jalan pulang.
Namun air lebih cepat dari keyakinan.
Saat Ruhdini kembali, sungai sudah menerjang permukiman. Septi terseret, tubuh kecilnya diseret air sejauh dua puluh meter. Dunia runtuh dalam satu tarikan arus.
Ruhdini berlari.
Air dingin menampar tubuhnya.
Ia menerobos tanpa ragu, meraih Septi, mendekapnya seolah ingin memeluk hidup itu sendiri. Tapi sungai tidak mengenal cinta. Mereka dihantam, dilepas, lalu direnggut lagi.

Dengan tenaga yang hampir habis, Ruhdini menyerahkan Septi kepada seorang warga.
“Selamatkan anak saya,” katanya.
Itu saja.
Dalam gendongan warga itu, Septi menoleh. Ia melihat ayahnya dihantam batang pohon besar di leher, lalu menghilang ke dalam arus. Gambar itu melekat—menjadi ingatan terakhir sebelum gelap menutup matanya.
Tubuh Septi penuh lumpur. Pasir memenuhi mata dan telinganya. Kulitnya memar, luka-luka berbicara lebih jujur daripada kata. Tak ada ambulans. Tak ada tangan medis yang datang. Hanya waktu yang berjalan lambat, dan nyawa yang bertahan seadanya.
Kartini dan para penyintas berjalan kaki pulang, menembus kebun dan longsoran. Di desa, mereka hanya menerima beras—cukup untuk hidup, tak cukup untuk pulih.
Hari-hari sesudahnya dilalui Kartini dengan sunyi yang berat. Ia mengurus laporan sendiri, menyusun hidup dari sisa-sisa yang ada. Ia dan anak-anak menumpang di rumah mertua, belajar hidup tanpa satu nama yang dulu selalu disebut pulang.
Empat puluh hari berlalu.
Harapan datang dari tempat sederhana: sebuah kedai gorengan. Seorang dokter mendengar kisah Septi, lalu memilih peduli. Dari empati yang singkat, perawatan akhirnya tiba.
Kini Septi sudah pulang dari Rumah Sakit Umum Datu Beru. Luka di tubuhnya mengering. Namun hujan, sungai, dan detik ketika ayahnya melepaskan genggaman demi menyelamatkannya—semua itu tinggal lebih lama dari luka.
Ia tinggal sebagai kenangan tentang cinta yang memilih tenggelam, agar kehidupan kecil bisa tetap mengapung.***
Sebuah kisah nyata yang diceritakan orang tua Septi, ditulis dengan pola cerita oleh MelSaja
























