Wartatrans.com, JAKARTA — Berita tidak selalu berhenti sebagai catatan tentang apa yang telah terjadi. Di tangan seniman, berita dapat menjelma menjadi tafsir, kegelisahan, kritik, sekaligus imajinasi tentang ke mana Indonesia hendak melangkah.
Gagasan itulah yang mengemuka dalam News Art Project IMAJINESIA: “Menjangka Masa Depan Indonesia”, yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta Pusat.
Pameran dibuka Rabu, 23 September 2026, dan dibuka untuk publik mulai 24 September hingga 15 Oktober 2026, pukul 10.00–18.00 WIB. Pembukaan dilakukan Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.
IMAJINESIA mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan di jalurnya masing-masing: jurnalisme dan seni rupa. Arsip pemberitaan Harian Kompas menjadi bahan bacaan sekaligus sumber inspirasi bagi para seniman untuk melihat kembali berbagai peristiwa Indonesia.
Namun, mereka tidak sekadar mengulang berita.
Arsip masa lalu dibaca ulang, dipertanyakan, kemudian diterjemahkan ke dalam karya seni. Dari sana muncul pertanyaan yang lebih jauh: jika masa lalu telah meninggalkan jejak, seperti apa Indonesia yang hendak kita bayangkan untuk hari esok?
Berita yang Menemukan Kehidupan Kedua
Delapan seniman terlibat dalam proyek ini: Agus Suwage, Aprililia, Budi Ubrux, Mahdi Abdullah, Ruth Marbun, Suharmanto, Tumariyanto, dan William Robert.
Masing-masing berangkat dari arsip dan persoalan yang berbeda.
Suharmanto, misalnya, merespons pemberitaan tentang Sum Kuning pada 1970 dan Marsinah pada 1993. Aprililia menelusuri arsip mengenai kebudayaan Minangkabau. William Robert membaca kembali persoalan Maluku sebagai lumbung ikan nasional.
Ruth Marbun mengangkat kisah Pak Mayar, petani penggarap di Cikeas, Jawa Barat. Budi Ubrux merespons pemberitaan mengenai perilaku politisi dalam kampanye pemilu melalui karya “Dijogetin Aja”.
Dari Aceh, Mahdi Abdullah membaca polemik militerisme di kawasan Blang Padang. Agus Suwage mengambil pemberitaan mengenai pabrik gula sebagai pijakan karya. Sementara Tumariyanto berangkat dari tulisan-tulisan mengenai penyair Chairil Anwar.
Dengan cara itu, satu berita memperoleh kehidupan kedua. Jika dalam jurnalistik berita dituntut menjawab apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana, maka seni mengajukan pertanyaan lain: apa makna peristiwa itu bagi manusia dan bangsa setelah waktu berjalan?
Delapan Kurator, Delapan Cara Membaca
Proyek ini juga melibatkan delapan kurator. Putu Fajar Arcana mendampingi Aprililia, Frans Sartono bersama Suharmanto, Efix Mulyadi bersama William Robert, dan Wisnu Nugroho mendampingi Ruth Marbun.
Selanjutnya, Sindhunata mendampingi Budi Ubrux, Hermanu bersama Mahdi Abdullah, Hilmi Faiq bersama Agus Suwage, serta Wawan Abk mendampingi Tumariyanto.
Komposisi ini membuat IMAJINESIA tidak menjadi satu suara tunggal. Setiap seniman memiliki cara membaca arsip, memilih peristiwa dan menerjemahkan persoalan ke dalam bahasa visual.
Di situlah kekuatan proyek ini: berita yang sama-sama berasal dari kenyataan dapat melahirkan tafsir yang berbeda ketika memasuki ruang seni.
Imaji tentang Indonesia
Nama IMAJINESIA sendiri merupakan permainan kata dari “imaji” dan “Indonesia”. Semangatnya adalah membaca Indonesia melalui sejarah dan kenyataan hari ini, kemudian menjangkau kemungkinan masa depannya.
Gagasan tersebut bersinggungan dengan konsep imagined communities yang diperkenalkan Benedict Anderson. Indonesia tidak hanya dibangun oleh batas geografis dan administrasi, tetapi juga oleh pengalaman bersama, ingatan, cerita, simbol, dan imajinasi tentang sebuah bangsa.
Karena itu, pameran ini terasa lebih dari sekadar agenda seni rupa.
Ia menjadi ruang untuk menguji kembali ingatan kolektif: apa yang kita ingat, apa yang mungkin kita lupakan, dan apa yang perlu dibaca kembali agar masa depan tidak dibangun tanpa memahami perjalanan sebelumnya.
Empat Puluh Empat Tahun Bentara Budaya
IMAJINESIA juga menjadi bagian dari rangkaian 44 tahun Bentara Budaya.
Bentara Budaya didirikan di Yogyakarta pada 26 September 1982. Kehadirannya kemudian berkembang ke Jakarta pada 1986, serta Solo dan Bali pada 2009.
Rangkaian peringatan tersebut juga diisi agenda kebudayaan di sejumlah kota, antara lain pameran “Mbesuuk: The Future of Yogyakarta” di Yogyakarta serta diskusi kebudayaan di Bali.
Dari Jakarta, IMAJINESIA membawa pesan yang sederhana tetapi penting: masa depan tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibangun dari ingatan, pengalaman, persoalan, dan keberanian membayangkan sesuatu yang berbeda.
Berita merekam zaman. Seni mengajaknya berdialog.
Dan di antara keduanya, Indonesia sedang terus ditulis—bukan hanya oleh mereka yang membuat berita, bukan hanya oleh mereka yang membuat karya, tetapi oleh masyarakat yang menjalani zaman itu sendiri.*** (Dull)






















