Wartatrans.com, TAKENGON — Akses jalan lintas nasional yang menghubungkan Pameu di kawasan Gunung Pijuet, Kabupaten Aceh Tengah, dengan Geumpang, Kabupaten Pidie, kembali terputus akibat longsor, Rabu (22/4/2026).
Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Material berupa tanah, bebatuan, dan pepohonan menutup badan jalan di sejumlah titik, menyebabkan kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas.

Akibatnya, arus transportasi antarwilayah terganggu, terutama pada jalur strategis yang menghubungkan dataran tinggi Gayo dengan kawasan pesisir barat Aceh. Sejumlah pengguna jalan dilaporkan tertahan di lokasi, sementara lainnya terpaksa mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
“Longsornya cukup besar, materialnya menutup jalan total. Tidak bisa dilewati sama sekali,” ujar seorang warga di lokasi kejadian.
Jalur Pameu–Geumpang dikenal sebagai salah satu ruas jalan nasional yang rawan bencana, khususnya longsor. Kondisi geografis berupa pegunungan dengan kontur tanah labil, ditambah curah hujan tinggi, menjadikan wilayah ini rentan mengalami kerusakan.
Dalam beberapa pekan terakhir, intensitas hujan di Aceh Tengah dan sekitarnya memang meningkat, sehingga memperbesar potensi longsor susulan, terutama di titik-titik dengan tebing curam dan minim penguatan struktur tanah.
Terputusnya akses jalan ini turut berdampak pada distribusi logistik dan mobilitas masyarakat. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi penting bagi aktivitas ekonomi dan sosial warga di wilayah tengah Aceh.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait penanganan di lapangan. Namun, biasanya pihak terkait akan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor agar akses jalan dapat segera dibuka kembali, dengan waktu penanganan yang bergantung pada tingkat keparahan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menunda perjalanan melalui jalur tersebut hingga kondisi dinyatakan aman. Pengguna jalan juga diminta untuk terus memantau informasi dari pihak berwenang guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya peningkatan kualitas infrastruktur di kawasan rawan bencana, termasuk penguatan sistem mitigasi guna meminimalkan dampak kejadian serupa di masa mendatang.*** (Kamaruzzaman)

























