Wartatrans.com JAKARTA – Perjalanan laut selama hampir tiga hari dengan KM Kelud dari Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menawarkan pengalaman tersendiri bagi penumpang. Bukan hanya menikmati suasana pelayaran, para penumpang juga mendapatkan fasilitas makan gratis tiga kali sehari selama berada di atas kapal.
Ini adalah perjalanan kami Wartatrans.com pada 19 April 2026 dari Medan menuju Ibu Kota saat mencoba menikmati angkutan masal transportasi laut.

Perjalanan laut dari Pelabuhan Belawan menuju Pelabuhan Tanjung Priok, dengan layanan PT Pelni tersebut bukan hanya soal menempuh jarak jauh. Bagi penumpang, perjalanan selama 2 hari 15 jam itu juga menghadirkan pengalaman menikmati fasilitas makan gratis yang disediakan selama di kapal.
KM Kelud dijadwalkan berangkat pada Ahad pukul 17.00 WIB dan tiba di Tanjung Priok pada Rabu pukul 08.00 WIB. Selama pelayaran, penumpang dari berbagai kelas tiket mendapatkan jatah konsumsi tiga kali sehari.
Wartatrans.com yang mencoba perjalanan di kelas ekonomi merasakan langsung layanan tersebut sejak malam pertama keberangkatan. Makan malam dibagikan dalam kotak makan plastik bersekat dengan tutup, mirip ompreng MBG namun hanya untuk sekali pakai. Penumpang juga mendapat sendok plastik, air mineral 600 ml, dan teh kamasan kotak.

Menu malam pertama berisi nasi putih, ayam saus lada hitam, gorengan, sayuran, dan saus kemasan. Kami melihatnya cukup sederhana, namun mengenyangkan untuk menemani malam di tengah laut.
Pembagian makanan dilakukan di Deck 4 bagian belakang dengan waktu yang terbatas. Di area itu juga tersedia air panas yang ramai dimanfaatkan penumpang untuk menyeduh kopi, membuat susu bayi, hingga memasak mi instan.
Keesokan paginya, penumpang kembali mengantre untuk sarapan. Menu yang disajikan berupa nasi kuning dengan aroma rempah ringan dan lauk ayam. Paket sarapan dilengkapi air mineral ukuran 330 ml, susu kotak, dan kerupuk.

Antrean panjang menjadi pemandangan biasa saat jam makan tiba. Sebagian penumpang memilih membawa makanan ke tempat tidur masing-masing, sementara yang lain menikmati santapan di sudut kapal atau area dek terbuka dengan suasana angin laut.
Saat makan siang, menu berganti menjadi nasi putih dengan lauk ikan bandeng. Potongan ikan dibagi dua, ada yang mendapat bagian kepala dan ada pula yang memperoleh bagian ekor. Sayur pelengkap dan air mineral ukuran besar juga disediakan. Pada saat ini kami mendapatkan potongan ekor ikan yang lebih besar bagian dagingnya namun terdapat banyak duri halus khas ikan bandeng.
Pada hari kedua perjalanan, menu sarapan kembali hadir dengan nasi kuning. Kali ini ditemani sosis dan telur goreng berbentuk bulat rapi. Telur tampak digoreng dengan cetakan khusus. Kami juga mendapat air mineral kecil, susu kotak, dan kerupuk pelengkap dengan kamasan yang sudah terdapat merk.
Untuk makan siang, lauk kembali berupa ikan bandeng dengan tambahan sayur kacang panjang dan wortel. Sedangkan makan malam disajikan nasi putih dengan ayam, sayuran, serta makanan pelengkap seperti UPF goreng yang cukup manambah perlaukan. Rasanya cukup enak dan kami sangat antusias saat waktu makan tiba.
Meski menunya sederhana dan cenderung berulang, makanan yang disajikan dinilai layak konsumsi dan cukup membantu penumpang selama perjalanan panjang. Kami pada saat perjalanan cukup menikmati makanan yang disajikan, semua makanan kami habiskan tanpa tersisa dan itulah bentuk syukur kita atas nikmat yang telah tuhan berikan.
Pada Rabu pagi penumpang tidak lagi mendapatkan jatah sarapan karena kapal tiba lebih cepat. Jika sesuai jadwal sandar pukul 08.00 WIB, KM Kelud justru sudah merapat sekitar pukul 06.00 WIB. Penumpang pun sibuk bersiap turun. Ada juga sebagian penumpang lainnya masih mengantre air panas untuk menyeduh mi instan sebagai pengganjal perut.
Bagi penumpang yang membawa bayi, tersedia menu khusus berupa bubur dalam wadah mangkuk. Tiket bayi sendiri dibanderol lebih murah dibanding tiket dewasa, namun tidak mendapatkan tempat tidur terpisah.

Untuk mengambil makanan, penumpang cukup menunjukkan tiket saat antre. Jadwal pembagian makan diumumkan melalui pengeras suara kapal oleh petugas. Tidak jarang, penumpang juga saling menitipkan tiket kepada kenalan baru agar bisa diambilkan jatah makan.
Bagi calon penumpang yang ingin lebih nyaman, membawa bekal tambahan dari rumah bisa menjadi pilihan. Lauk tahan lama, camilan, kopi sachet, mi instan cup, hingga botol minuman cadangan cukup berguna selama perjalanan.
Untuk yang tidak mau repot, di kapal juga dilengkapi minimarket yang menjual makanan berat, makanan ringan, minuman, perlengkapan mandi, dan kebutuhan lainnya.
Sementara untuk penumpang kelas 1 dan 2, fasilitas makan tersedia di Deck 6 dengan suasana menyerupai restoran. Makanan disajikan secara prasmanan, di mana penumpang dapat mengambil sendiri hidangan lalu menikmatinya di meja hidangan yang tersedia.

Dengan segala kesederhanaannya, pengalaman makan di KM Kelud layanan PT Pelni menjadi bagian menarik dari perjalanan laut jarak jauh yang tetap meninggalkan kesan tersendiri bagi para penumpang.

(fahmi)



























