Menu ✖

Mode Gelap
Catatan M. Mujiburrohman: MBG dan Cara Kita Membaca Uang Negara BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026 Pencuri Kabel Whoosh Berhasil Ditangkap, KCIC: Aksinya Bisa Membahayakan Keselamatan Perjalanan Perawatan Sistem Avionik, FL Technics Indonesia Gandeng GE Aerospace InJourney Airports dan SDhI Rampungkan Transisi Pengelolaan Bandara Dhoho Garuda dan Yoowifi Hadirkan eSIM, Komunikasi  jadi Makin Terjangkau Saat di Luar Negeri

Uncategorized

Diskusi Sastra di TIM: Membaca Proses Kreatif di Balik “Mengapa Saya Berubah”

badge-check


 Diskusi Sastra di TIM: Membaca Proses Kreatif di Balik “Mengapa Saya Berubah” Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Peluncuran buku dan diskusi sastra bertajuk “Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa” yang digelar Komunitas Pojok TIM bekerja sama dengan Perpustakaan Jakarta dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta berlangsung hangat dan penuh dinamika. Acara yang berlangsung di Balai Sastra PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (9/6/2026), tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga ruang dialog yang kaya akan gagasan dan refleksi sastra.

Buku karya Yon Bayu Wahyono yang menjadi tajuk utama diskusi tersebut mendapat perhatian khusus dari para peserta. Tema “Mengapa Saya Berubah” memantik beragam pandangan mengenai perjalanan kreatif seorang penulis, terutama terkait perubahan tema, sudut pandang, maupun pendekatan estetik dalam berkarya.

Dalam diskusi yang dipandu Giyanto Subagio itu, hadir sebagai pembicara Yon Bayu Wahyono, Nanang R. Supriyatin, dan Remmy Novaris DM. Acara juga dirangkai dengan peluncuran buku “Simfoni Kata yang Berkarat” karya Nanang R. Supriyatin serta “Kisah di Toko Boneka Warna-Warni” karya Endah Wijayanti. Sementara pembacaan cerpen oleh Marina Novianti menambah semarak suasana dan membawa peserta lebih dekat dengan karya-karya yang dibahas.

Pembahasan berkembang menarik ketika sejumlah peserta menyoroti judul dan tema diskusi. Menurut Putra Gara, tema “Mengapa Saya Berubah” tidak semestinya dipahami secara sederhana atau terjebak pada stigma bahwa seorang penulis harus selalu konsisten dalam satu aliran atau corak tertentu.

“Setiap penulis memiliki proses kreatif yang berbeda-beda, yang berkaitan dengan fase kehidupan, pengalaman, serta keberanian melakukan eksperimen dalam berkarya. Jadi menurut saya stigma berubah itu kurang tepat ketika kita baca karya Mas Yon tidak seperti narasinya,” ungkap Gara.

Lebih jauh Gara menambahkan, perubahan dalam karya sastra merupakan sesuatu yang wajar karena lahir dari proses pencarian yang terus berlangsung. Seorang pengarang bisa saja mengeksplorasi berbagai pendekatan, tema, maupun gaya penulisan sebagai bagian dari perkembangan kreativitasnya.

Pandangan tersebut mendapat respons dari berbagai peserta diskusi. Arie Batubara, misalnya, menyoroti persoalan identitas dalam berkarya. Menurutnya, seorang penulis pada dasarnya adalah praktisi yang memiliki kebebasan untuk menjelajahi berbagai kemungkinan artistik.

“Kita ini praktisi. Kadang ingin menulis yang biasa saja, kadang menulis yang absurd. Itu bagian dari proses berkarya,” ujarnya.

Selain Arie Batubara, sejumlah peserta lain seperti Imam Maarif, Lili Multatulina, Riri Satria, serta para pegiat sastra yang hadir turut menyampaikan pandangan, pertanyaan, dan tanggapan mereka. Beragam perspektif yang muncul membuat diskusi berlangsung hidup dan cair. Perbedaan pandangan justru memperkaya pembahasan, mulai dari persoalan identitas kepengarangan, perkembangan estetik sastra, hingga kebebasan seorang penulis dalam menentukan arah kreativitasnya.

Suasana yang interaktif membuat acara tidak hanya menjadi seremoni peluncuran buku, melainkan juga menjadi forum pertukaran gagasan yang produktif. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi hingga akhir acara.

 

Melalui forum tersebut, para penulis, pembaca, dan pegiat sastra diajak untuk melihat karya sastra tidak hanya sebagai hasil akhir, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang seorang pengarang. Diskusi yang berlangsung hangat, kritis, dan penuh apresiasi itu menjadikan acara semakin berwarna sekaligus menegaskan bahwa sastra selalu tumbuh dari dialog, perenungan, dan keberanian untuk terus bereksperimen.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Catatan M. Mujiburrohman: MBG dan Cara Kita Membaca Uang Negara

1 Oktober 2026 - 23:01 WIB

BGN Keluarkan Aturan Baru Tentang Insentif SPPG, Berlaku Mulai 5 Oktober 2026

1 Oktober 2026 - 20:41 WIB

El Nino Sangat Kuat, 669 Hotspot Terdeteksi di Fakfak

1 Oktober 2026 - 17:16 WIB

Lima Tahun Merger, Pelindo Regional 2 Perkuat Transformasi Layanan dan Kinerja Kepelabuhanan

1 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Dukung Mobilitas Kemayoran, DAMRI Jadi Mitra Operasional Layanan Kemon

1 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Lima Tahun Pascamerger, Pelindo Teguhkan Transformasi Berlandaskan Semangat Persatuan

1 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Sambut Hari Pelindo, Regional 4 Gelar Donor Darah dan Target 100 Kantong

1 Oktober 2026 - 14:29 WIB

DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Ucapkan Selamat atas Pelantikan Plt. Kepala Dinas Pertanian

1 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Pengobatan Gratis BMPRI Dekatkan Layanan Kesehatan kepada Warga Kampung Antalisa

1 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai

1 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Trending di SENI BUDAYA