Wartatrans.com, JAKARTA — Secangkir kopi menjadi teman perbincangan puluhan seniman, sastrawan, pekerja budaya, dan pegiat komunitas di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (18/7/2026) malam. Mereka berkumpul dalam forum bertajuk “Ngopi Ngerumpi MPSI: Segelas Kopi untuk Ruang Seni yang Mati Suri” untuk membicarakan masa depan ekosistem kesenian di kawasan tersebut.
Forum yang digelar oleh Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI) itu menjadi ruang terbuka bagi para pelaku seni untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan harapan terhadap kondisi Taman Ismail Marzuki (TIM) setelah revitalisasi.

Ketua Umum MPSI Mujib Hermani bersama Sekretaris Jenderal David Karo Karo menyampaikan bahwa forum tersebut diharapkan menjadi titik awal untuk mempertemukan kembali berbagai komunitas seni dan merumuskan langkah bersama bagi keberlanjutan ekosistem kebudayaan di TIM.
Salah satu seniman senior yang hadir, Remmy Novaris DM, menilai revitalisasi TIM belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan ekosistem kesenian. Menurut dia, kemegahan infrastruktur perlu diimbangi dengan ruang berekspresi yang memadai bagi komunitas seni.
Bagi para seniman, TIM bukan sekadar kompleks gedung pertunjukan dan fasilitas kebudayaan. Sejak berdiri, kawasan tersebut telah menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, karya, dan gerakan seni yang ikut mewarnai perjalanan kebudayaan Indonesia.
Karena itu, berkurangnya aktivitas komunitas kesenian di TIM dikhawatirkan akan menghilangkan sebagian dari ruh yang selama ini membuat kawasan tersebut memiliki karakter berbeda dibandingkan ruang pertunjukan lainnya di Jakarta.
Sejumlah persoalan mengemuka dalam forum tersebut. Di antaranya, akses komunitas seni independen terhadap ruang pertunjukan yang dinilai semakin terbatas, biaya penggunaan fasilitas yang dianggap cukup berat, serta menurunnya frekuensi kegiatan seni yang lahir dari inisiatif komunitas.
Para peserta juga menyoroti semakin terbatasnya ruang untuk diskusi, latihan, dan proses kreatif. Mereka menilai tata kelola TIM perlu membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi komunitas seni dalam proses pengambilan kebijakan.
Persoalan Wisma Seniman turut menjadi perhatian. Para seniman berharap fasilitas tersebut dapat benar-benar berfungsi sebagai rumah bagi aktivitas dan kepentingan seniman. Keberadaan wisma dinilai perlu lebih mampu menjawab kebutuhan komunitas seni dan menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang hidup.
Dalam forum itu juga mengemuka aspirasi agar TIM kembali menjadi ruang publik kebudayaan yang terbuka, inklusif, dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Sejumlah peserta menyampaikan keberatan terhadap keterlibatan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dalam pengelolaan TIM. Mereka mengusulkan agar tata kelola kawasan tersebut lebih berorientasi pada pengembangan ekosistem kebudayaan dan melibatkan komunitas seni secara lebih luas.
Para peserta kemudian membicarakan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali aktivitas kesenian di TIM. Di antaranya membangun kembali jaringan antarkomunitas seni, memperkuat dialog dengan para pemangku kepentingan, serta menyusun rekomendasi bersama yang dapat disampaikan kepada pemerintah dan pengelola TIM.
Regenerasi gerakan seni juga menjadi salah satu isu penting. Para seniman senior mendorong keterlibatan generasi muda untuk meneruskan perjuangan menjaga ruang-ruang kreatif. Regenerasi tidak hanya dipandang sebagai pergantian generasi, tetapi juga sebagai kesinambungan gagasan dan komitmen dalam merawat TIM sebagai ruang kebudayaan publik.
Dari pertemuan tersebut muncul gagasan untuk membangun gerakan bersama menyelamatkan ekosistem seni di TIM. Gerakan itu diharapkan tidak berhenti pada aksi protes, tetapi diwujudkan melalui unjuk karya sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara kreatif dan bermartabat.
Bentuk kegiatan yang diusulkan antara lain rembuk kebudayaan, diskusi publik, mimbar bebas, orasi komunitas, pertunjukan seni, pembacaan puisi, teater, musik, seni rupa, monolog, tari, hingga pertunjukan lintas disiplin yang merefleksikan kondisi dan harapan terhadap masa depan TIM.
Para seniman menilai seni merupakan medium yang tepat untuk menyampaikan kritik sekaligus menawarkan gagasan dan jalan keluar. Kritik tidak harus hadir dalam bentuk konfrontasi, tetapi dapat disampaikan melalui karya yang mampu menggugah kesadaran publik.
Forum juga menyepakati gagasan pembentukan wadah bersama bernama Front Penggerak Seni TIM. Wadah tersebut diharapkan dapat menghimpun komunitas seni lintas disiplin sekaligus menjadi ruang komunikasi antara seniman, budayawan, pekerja kreatif, akademisi, dan masyarakat.
Selain itu, akan dibangun grup komunikasi daring yang terbuka bagi berbagai kalangan untuk mempercepat pertukaran informasi, memperkuat jaringan, serta menciptakan komunikasi yang lebih transparan di antara komunitas seni.
Pertemuan malam itu ditutup dengan kesepahaman bahwa dialog mengenai masa depan TIM perlu terus dilakukan. Aspirasi para pelaku seni diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dirumuskan menjadi rekomendasi yang dapat disampaikan kepada para pemangku kebijakan.
“Yang terpenting adalah bagaimana aspirasi para pelaku seni ini dapat dirumuskan menjadi rekomendasi untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan, sehingga pengelolaan TIM lebih berpihak pada kepentingan kebudayaan,” ujar Mujib.
Forum yang dipandu Dyah Kencono Puspito Dewi dari komunitas Satarupa itu kemudian ditutup dengan pembacaan puisi karya Dyah. Puisi tersebut menjadi refleksi sekaligus protes atas kekhawatiran terhadap menyusutnya ekosistem berkesenian di TIM.
Dari secangkir kopi dan percakapan sederhana di pelataran TIM, para seniman membawa satu pesan: revitalisasi ruang kebudayaan tidak cukup hanya dengan membangun gedung. Yang lebih penting adalah memastikan seni, seniman, komunitas, dan publik tetap memiliki ruang untuk hidup dan tumbuh.*** (Nuyang)
































