Menu

Mode Gelap
Jurnalis Hery Firmansyah Pergi, Kenangan Persahabatan yang Tak Pernah Berjarak Tetap Tinggal Perumnas Bangun Rusun Subsidi Kemayoran 609 Unit BGN Refocusing Penerima MBG, Sekolah Swasta Elite Mulai Dicoret KOKKANG Gelar Pameran “Tawa Merdeka” di Warung Tuman BSD, Kritik Sosial Dikemas Lewat Humor 281 TPQ Desak Perwali Literasi Al-Qur’an Makassar Segera Terbit Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas Permai, Soroti Persoalan Banjir, Sampah, Infrastruktur hingga Air Bersih

PERISTIWA

KOKKANG Gelar Pameran “Tawa Merdeka” di Warung Tuman BSD, Kritik Sosial Dikemas Lewat Humor

badge-check


 KOKKANG Gelar Pameran “Tawa Merdeka” di Warung Tuman BSD, Kritik Sosial Dikemas Lewat Humor Perbesar

Wartatrans.com, TANGERANG SELATAN — Kelompok Kartunis Kaliwungu (KOKKANG) kembali menyapa publik melalui pameran kartun bertajuk “Tawa Merdeka” di Warung Tuman, BSD, Tangerang Selatan. Pameran digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan berlangsung hingga akhir Agustus 2026.

Pameran resmi dibuka pada Sabtu (8/8/2026) oleh General Manager Bentara Budaya Jakarta, Ilham Khoiri. Sejumlah kartunis senior, pelukis, seniman, serta pengunjung Warung Tuman atau Tumaner turut hadir dalam pembukaan.

Ilham menilai pameran tersebut menawarkan pengalaman berbeda karena karya seni ditampilkan di ruang yang selama ini dikenal sebagai tempat kuliner, bukan galeri seni.

KOKKANG

“Pameran ini keren sekali. Ini kan warung, tetapi sekarang bisa menjadi tempat pameran seni,” kata Ilham.

Menurut Ilham, KOKKANG merupakan komunitas seniman kartun yang memiliki perjalanan panjang dan terus menghasilkan karya yang relevan dengan perkembangan zaman.

Ia menilai kartun yang dipamerkan tidak sekadar menghadirkan humor, tetapi juga mengajak masyarakat melihat berbagai persoalan kehidupan dari sudut pandang yang lebih ringan sekaligus kritis.

“Sebagian mengajak ketawa sekaligus menyadari bahwa ada banyak masalah di sekeliling kita. Pameran ini mengajak eling lan waspada untuk tetap menjaga kewarasan,” ujar Ilham.

81 Karya dari 20 Kartunis

Pameran “Tawa Merdeka” diikuti 20 kartunis KOKKANG yang berdomisili di Jakarta maupun Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Dari sekitar 200 karya yang masuk, panitia memilih 81 karya untuk dipamerkan. Jumlah tersebut sengaja disesuaikan dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia yang memasuki tahun ke-81.

Ketua panitia pameran, Ifoed, mengatakan pemilihan Warung Tuman sebagai lokasi pameran merupakan bagian dari upaya KOKKANG menghadirkan pengalaman baru bagi publik.

“Pameran di gedung atau ruang tertutup sudah biasa. Kami mencoba sesuatu yang berbeda, yang baru. Pameran di tempat terbuka, langsung menjumpai penonton.”

Konsep pameran juga disesuaikan dengan karakter Warung Tuman. Sejumlah elemen dan properti yang sudah tersedia di lokasi dimanfaatkan untuk mendukung penyajian karya.

Dengan demikian, karya-karya kartun tidak berdiri sendiri sebagai objek galeri, tetapi menyatu dengan suasana alam, ruang terbuka, dan aktivitas para pengunjung.

Dari Lingkungan hingga MBG

“Tawa Merdeka” menampilkan berbagai bentuk karya kartun, mulai dari kartun gag, kartun strip, hingga kartun opini atau editorial.

Tema yang diangkat pun beragam. Para kartunis menyoroti persoalan lingkungan, kemiskinan, korupsi, lemahnya penegakan hukum, komersialisasi pendidikan, kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Melalui bahasa visual yang ringan dan humor, berbagai persoalan tersebut disampaikan dengan cara yang menghibur sekaligus menyimpan kritik.

Salah satu karya yang dipamerkan

Bagi KOKKANG, humor bukan berarti menghilangkan daya kritis. Justru melalui humor, persoalan serius dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima dan mengajak penonton untuk berpikir.

Mice: Kritik Sosial Jangan Hanya Berupa Kemarahan

Kartunis senior Mice menyambut positif penyelenggaraan pameran tersebut. Menurutnya, ruang bagi kritik sosial melalui kartun saat ini menghadapi tantangan di tengah maraknya media sosial.

Ia melihat kritik di media sosial lebih banyak disampaikan melalui kata-kata keras, makian, dan kemarahan.

“Lihat media sosial. Isinya orang memaki dan marah-marah. Kritik lewat kartun yang santun, lucu, dan menggelitik seperti dulu justru kurang mendapat tempat,” ujar Mice.

Menurut Mice, kehadiran pameran KOKKANG menjadi penting karena kartun masih memiliki kekuatan sebagai medium kontrol sosial.

Kartun dapat menyampaikan kritik tanpa harus kehilangan unsur humor. Dengan gambar dan sindiran yang menggelitik, masyarakat diajak melihat persoalan dari sisi yang berbeda.

“Pameran ini bagus. Mengajak kita melakukan kontrol sosial melalui medium gambar,” katanya.

Empat Dekade Perjalanan KOKKANG

KOKKANG merupakan salah satu komunitas kartunis yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kartun Indonesia.

Komunitas yang lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tersebut didirikan oleh Darminto M. Sudarmo dan Itos Boedy Santoso. Pameran pertama KOKKANG digelar pada 1982 di Pendopo Kawedanan Kaliwungu.

Lebih dari empat dekade kemudian, KOKKANG kembali hadir melalui “Tawa Merdeka”.

Pameran ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara sejarah panjang kartun Indonesia dengan publik masa kini. Warung Tuman dipilih bukan sekadar sebagai tempat memajang karya, tetapi sebagai ruang publik yang memungkinkan kartun berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Tawa Merdeka” pada akhirnya bukan hanya tentang tertawa. Di balik humor, sindiran, dan gambar yang menggelitik, terselip ajakan untuk tetap peka terhadap persoalan di sekitar.

Melalui bahasa gambar yang sederhana, kritis, dan santun, KOKKANG mengingatkan bahwa dalam merayakan kemerdekaan, masyarakat juga perlu menjaga keberanian untuk tertawa, berpikir, dan melakukan kontrol sosial.

Pameran “Tawa Merdeka” berlangsung hingga akhir Agustus 2026 di Warung Tuman, BSD, Tangerang Selatan.*** (Septi)

Baca Lainnya

Halimah Munawir: Dari Bandung ke Jakarta, MMS Bawa Semangat Kesundaan untuk Nusantara

8 Agustus 2026 - 18:39 WIB

Presiden Gerakan Pemuda Aceh Bersatu Kecam Amran, Desak Minta Maaf Kepada Mualeem: Jangan Lukai Martabat Aceh

8 Agustus 2026 - 01:41 WIB

Aceh Diajak Kembali Menjadi Inspirasi Indonesia, Rafly Kande: Belajar dari Kejayaan Masa Lalu

7 Agustus 2026 - 20:14 WIB

Halaman Jeda Gelar Refleksi Semangat Dasar Aceh untuk Indonesia

7 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Tgk. Ibrahim PMToH, Penjaga Warisan Sastra Aceh yang Nyaris Terlupakan Tampil di “Hikayat Bak Keude Kupi”

7 Agustus 2026 - 12:20 WIB

Aksi Spontan Rizki Putra Berbuah Dream Ticket di Main Drama Casting

7 Agustus 2026 - 11:16 WIB

FORWAN Siapkan Diskusi Publik Dukung Dangdut Menuju Pengakuan UNESCO

7 Agustus 2026 - 09:56 WIB

Pengukuhan DKJ Dipersoalkan, Arie Batubara Nilai Pergub Dilanggar

6 Agustus 2026 - 18:07 WIB

Judul Film “Pasukan 1.000 Janda” Dinilai Mereduksi Martabat Laksamana Malahayati, Dinas Sejarah AL pun Menolak

6 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Dinas Sejarah Angkatan Laut Dukung Pengembangan Film Pahlawan Nasional John Lie sebagai Diplomasi Budaya

6 Agustus 2026 - 16:18 WIB

Trending di RAGAM