Menu

Mode Gelap
SEUSAMA PEDULI Serahkan Tali Kasih untuk M. Alif, Balita Korban Kecelakaan Saat Banjir Aceh Dinkes Kabupaten Bogor Buka Tiga Posko Kesehatan, Tangani Dampak Asap Kebakaran TPA Galuga Bakomstra Partai Demokrat Klarifikasi Anggapan AHY Sibuk Nyapres 2029 AirNav Indonesia Resmi Operasikan Jarkompenas Dari Bungbulang Menembus Pasar Ekspor, Gula Aren Susanti Dilirik Eksportir ASDP Pastikan Antrean Ketapang-Gilimanuk Berhasil Terurai

SENI BUDAYA

Satu Dekade IDPFEST, Amin Abdullah: Ekki Soekarno Berhasil Bikin Drum dan Perkusi Jadi Populer

badge-check


 Satu Dekade IDPFEST, Amin Abdullah: Ekki Soekarno Berhasil Bikin Drum dan Perkusi Jadi Populer Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Membawa sebuah festival musik hingga bertahan selama satu dekade bukan pekerjaan mudah. Terlebih, yang diangkat bukanlah ajang pencarian bakat penyanyi atau festival musik populer, melainkan drum dan perkusi yang selama ini berada di ceruk tersendiri di industri hiburan.

Namun, Indonesia Drum & Perkusi Festival (IDPFEST) membuktikan bahwa musik tabuh juga mampu memiliki panggung besar dan mendapatkan perhatian publik. Memasuki usia 10 tahun, IDPFEST dinilai telah berhasil mengubah musik yang semula dianggap tidak populer menjadi sebuah perhelatan yang memiliki daya tarik dan nilai edukasi.

Direktur musik, Kementerian Ekonomi Kreatif/badan Ekonomi Kreatif – Dr. Mohammad Amin, M.Sn., M.A. atau yang akrab disapa Amin Abdullah, memberikan apresiasi tinggi kepada Ekki Soekarno, penggagas sekaligus pendiri IDPFEST.

Menurut Amin, konsistensi Ekki selama satu dekade dalam menghidupkan festival drum dan perkusi merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.

“Saya salut dan mengapresiasi kinerja Ekki Soekarno yang telah membuat festival yang awalnya tidak populer menjadi populer seperti sekarang ini. Ini pekerjaan yang tidak mudah,” ujar Amin Abdullah usai menghadiri pembukaan Satu Dekade IDPFEST di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Sebagai seorang musisi, Amin mengaku memahami betul tantangan yang harus dihadapi ketika membangun sebuah festival yang tidak berada di arus utama industri musik. Mulai dari menggaet penonton hingga mendapatkan dukungan dan sponsor, semuanya membutuhkan kerja keras dan konsistensi.

“Sebagai sesama musisi, saya tahu tidak mudah mencari dukungan dan sponsor untuk kegiatan seperti ini. Drum dan perkusi memang tidak sepopuler ajang pencarian bakat menyanyi. Karena itu, apa yang dilakukan Ekki selama 10 tahun ini patut diapresiasi,” katanya.

Lebih dari sekadar kompetisi, Amin melihat IDPFEST memiliki misi yang jauh lebih besar. Festival tersebut dinilai mampu menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan alat musik perkusi tradisional dari berbagai daerah di Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Ekki tidak sekadar membuat lomba. Dia juga menggali alat musik perkusi dari berbagai daerah untuk ditampilkan di Jakarta. Ini penting agar generasi muda tahu bahwa alat musik tabuh di Indonesia sangat beragam,” tutur Amin.

Ia mencontohkan Dol dari Bengkulu sebagai salah satu kekayaan musik perkusi Nusantara yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, kehadiran berbagai instrumen tradisional dalam festival seperti IDPFEST menjadi bagian penting dari upaya menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Indonesia.

Amin juga mengapresiasi pertunjukan Orchestra Kharisma Indonesia yang menurutnya mampu mengemas musik perkusi dalam pertunjukan berskala besar, menarik sekaligus edukatif.

“Pertunjukan Orchestra Kharisma Indonesia tadi sangat menarik dan mengedukasi generasi muda. Apalagi dikemas dalam sebuah pertunjukan akbar. Ini menunjukkan bahwa musik perkusi bisa tampil dengan kemasan yang modern tanpa kehilangan akar budayanya,” ujarnya.

Sebagai Direktur Musik, Kementerian Ekonomi Kreatif/badan Ekonomi Kreatif Amin menegaskan bahwa pemerintah memiliki kepentingan untuk mendukung berbagai inisiatif yang dapat memperkuat ekosistem musik Indonesia.

Menurutnya, kemajuan industri musik nasional tidak hanya ditentukan oleh genre-genre yang sudah populer, tetapi juga oleh keberanian menghadirkan ruang bagi berbagai bentuk ekspresi musik yang memiliki potensi untuk berkembang.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Pemajuan industri musik Indonesia melalui beragam kegiatan harus mendapat perhatian dan dukungan dari semua pihak, khususnya para pemangku kepentingan seperti kami,” pungkas Amin.

Sepuluh tahun perjalanan IDPFEST pun menjadi bukti bahwa konsistensi mampu mengubah sesuatu yang awalnya dianggap niche menjadi sebuah gerakan budaya. Dari sekadar festival drum dan perkusi, IDPFEST kini membawa misi lebih besar: memperkenalkan kekayaan musik tabuh Nusantara sekaligus membuka ruang bagi generasi baru untuk mencintai dan mengembangkan musik Indonesia. Selamat.*** (byl)

Baca Lainnya

Kholbi Berani Dorong Expert Saat Casting Dhot Design The Movie, Dream Ticket Masih Lepas

8 September 2026 - 15:59 WIB

SANFFEST 2026 Kembali, Hadirkan Nilai Al-Qur’an untuk Menjawab Tantangan Zaman

8 September 2026 - 12:17 WIB

Dica Melo Curi Perhatian di Panggung Satu Dekade IDPFest, Madeena Tampil Patriotik

6 September 2026 - 13:01 WIB

Delisha Okta Mahasiswi di Jogya, Mendekati 1 Juta Streams dari Playlist di Spotify, Kini Rilis ‘Akhir Cerita’ Single Ke-19

6 September 2026 - 08:09 WIB

Ketika Puisi Menjadi Langit dan Bumi

5 September 2026 - 21:54 WIB

Catatan Halimah Munawir: Belajar Harmonis dalam Perbedaan dari Tari Gandrung

5 September 2026 - 10:08 WIB

Hurriya Rahima Adabi, Siswi SMAN 1 Bukittinggi Wakili Sumatera Barat di FLS3N Nasional Cabang Baca Puisi

5 September 2026 - 08:32 WIB

Fadli Zon: Kebudayaan Bukan Cost Center, tapi Fondasi Identitas dan Kekuatan Bangsa

4 September 2026 - 19:24 WIB

Adi Bing Slamet Dilantik Ketua Paski Jabar, Dukungan Menteri Kebudayaan Membuatnya Makin Percaya Diri

4 September 2026 - 14:25 WIB

Yon Bayu dan Kegelisahan Seniman Jakarta terhadap Masa Depan DKJ

4 September 2026 - 10:31 WIB

Trending di RAGAM