Wartatrans.com, JAKARTA – Temuan jenazah Surakman (60 th), ABK KM Arupadhatu I, di Pulau Enggano, Bengkulu, menjadi petunjuk baru untuk menelusuri kemungkinan jalur hanyut kapal dan korban yang hilang di perairan Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki memastikan identitas jenazah tersebut melalui pemeriksaan DNA oleh Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri. Surakman merupakan satu dari delapan orang dalam KM Arupadhatu I yang hilang kontak pada 7 September 2026.
Posisi kapal hingga Rabu (23/9/2026) belum ditemukan.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, koordinasi lintas wilayah dilakukan dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung, termasuk melibatkan nelayan serta masyarakat pesisir untuk memantau kemungkinan temuan material yang berkaitan dengan Arupadhatu I.
“Pemapelan termasuk e-broadcast terhadap instansi terkait, termasuk nelayan dan para masyarakat yang di pesisir, termasuk yang di sekitar Pulau Enggano,” kata Al Amrad.
Temuan di Enggano kini mendapat perhatian dari sisi dinamika laut.
Pakar kebencanaan Daryono menyebutkan, lokasi tersebut secara fisik masuk akal sebagai kemungkinan titik yang dicapai benda atau tubuh yang mengapung setelah keluar dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia.
“Dari kawasan Anak Krakatau, benda atau tubuh yang mengapung dapat keluar dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia, kemudian mengalami adveksi oleh arus permukaan, angin, gelombang, dan pasang-surut sepanjang pantai barat Sumatra,” ujar Daryono.
Menurutnya, temuan di Enggano tidak berarti arus bergerak sederhana dalam satu arah, maupun membuktikan adanya lintasan lurus dari Krakatau ke Enggano.
Lokasi tersebut justru dapat digunakan sebagai titik validasi untuk melakukan hindcast arus, angin, gelombang dan pasang-surut sejak kapal hilang kontak.
“Ditemukannya satu korban di Enggano adalah petunjuk penting bahwa jalur hanyut kemungkinan telah keluar dari Selat Sunda menuju Samudra Hindia,” katanya.
Pakar oseanografi IPB University Prof Agus S Atmadipoera sebelumnya menjelaskan kondisi Selat Sunda sangat dinamis, dengan arus kuat pada Juli-September, pengaruh pasang-surut, gelombang musim timur dan topografi kompleks.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan objek sekaligus menyulitkan pencarian.
Dalam konteks ini, waktu penemuan 12 September dan lokasi Enggano menjadi dua parameter penting.
Keduanya dapat dibandingkan dengan kondisi laut sejak 7 September untuk melihat apakah simulasi menghasilkan koridor yang konsisten dengan temuan tersebut.
Karena itu, tujuh korban lain tidak otomatis berada di sekitar Enggano. Variasi daya apung, arus lokal, angin dan gelombang dapat membuat objek yang semula berdekatan menyebar ke lintasan berbeda.
Bagi operasi SAR, temuan Surakman membuka data baru untuk memperbarui koridor probabilitas pencarian. Namun, Basarnas belum menyatakan operasi pencarian besar-besaran dibuka kembali dan masih melakukan koordinasi lintas wilayah.
Temuan Enggano kini bernilai bukan hanya sebagai perkembangan identifikasi korban, tetapi juga sebagai data baru untuk memperbaiki model pencarian.
Akurasi model tersebut akan menentukan seberapa efektif sumber daya SAR diarahkan ke wilayah yang paling rasional untuk ditelusuri. (Artha Tidar)


























