Menu ✖

Mode Gelap
KKP Latih 2.886 Nelayan di 16 Provinsi untuk Tingkatkan Keselamatan dan Kecakapan Melaut Aktivitas Penumpang Tumbuh 9,32 Persen, KAI Tambah Pemberhentian KA di Tiga Stasiun Imperial Suites DAMRI Hadirkan Pengalaman Perjalanan Premium Jakarta–Surabaya–Malang dengan Bus Double Decker Pelindo Mengajar, Inspirasi Generasi Emas di Makassar Era AI Ubah Wajah Industri Musik, Dr. Mohammad Amin Ingatkan Pentingnya Kreativitas dan Hak Pencipta The Morbius Rilis Single Ketiga 2026, “Semu” Angkat Kisah Pengkhianatan Komitmen

PERON

KAI Hemat 203,93 Juta Liter Air Sepanjang 2025, Penggunaan Turun 22,16 Persen

badge-check


 KAI Hemat 203,93 Juta Liter Air Sepanjang 2025, Penggunaan Turun 22,16 Persen Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penggunaan air sebesar 716,30 megaliter sepanjang 2025. Jumlah tersebut turun 203,93 megaliter atau 22,16% dibandingkan penggunaan pada 2024 yang mencapai 920,23 megaliter. Penurunan itu setara dengan 203,93 juta liter air.

Efisiensi air semakin penting ketika ketersediaan sumber daya tersebut menghadapi tekanan iklim dan peningkatan kebutuhan. Data Food and Agriculture Organization dalam AQUASTAT 2025 yang dipublikasikan UN-Water pada Januari 2026 menunjukkan ketersediaan air tawar terbarukan per kapita secara global telah turun 7% dalam satu dekade terakhir.

Tekanan serupa perlu diantisipasi di Indonesia. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, dengan merujuk analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Dasarian II Juli 2026, menyampaikan bahwa 89,97% wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026, sementara fenomena El Niño berpotensi berlanjut hingga awal 2027.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kondisi tersebut menempatkan efisiensi air sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pelayanan publik.

“Air digunakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pekerja, kebersihan sarana, serta fasilitas operasional. Karena itu, setiap penurunan penggunaan air harus dicapai melalui pengukuran, pengendalian, dan teknologi yang tetap menjaga standar kebersihan serta kenyamanan pelayanan,” ujar Anne.

Penurunan penggunaan terjadi pada seluruh sumber air KAI. Pemanfaatan air permukaan berkurang dari 114,41 megaliter pada 2024 menjadi 47,90 megaliter pada 2025. Pada periode yang sama, penggunaan air tanah turun dari 626,25 megaliter menjadi 570,80 megaliter, sedangkan penggunaan air Perusahaan Daerah Air Minum berkurang dari 179,57 megaliter menjadi 97,60 megaliter.

Air tersebut digunakan untuk fasilitas sanitasi, toilet, tempat wudu, kebutuhan pekerja dan pelanggan, serta pencucian sarana perkeretaapian. Pengendalian pemakaian menjadi penting agar kebersihan fasilitas dan sarana tetap terjaga dengan kebutuhan air baru yang semakin efisien.

Salah satu teknologi yang mendukung pengelolaan tersebut adalah Automatic Train Wash Plant atau ATWP pada LRT Jabodebek. Teknologi ini melakukan pencucian sarana secara otomatis dengan penggunaan air yang lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

ATWP dilengkapi water treatment system yang mengolah air bekas pencucian melalui proses penyaringan. Sistem tersebut memisahkan tanah, pasir, oli, dan gemuk sebelum air digunakan kembali pada siklus pencucian berikutnya. Pada tahap akhir, pembilasan menggunakan demineralized water untuk menjaga kualitas kebersihan sarana sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Penggunaan kembali air pencucian membantu menekan kebutuhan air baru dalam kegiatan operasional. KAI juga melakukan pengukuran konsumsi air secara berkala pada kantor pusat, seluruh unit di wilayah operasional, dan entitas anak agar perubahan pola penggunaan dapat diketahui serta ditindaklanjuti.

Efisiensi tersebut memberikan manfaat lingkungan sekaligus operasional. Berkurangnya penggunaan air dari PDAM membantu menekan biaya pemakaian air, sedangkan penurunan pemanfaatan air tanah turut mengurangi konsumsi listrik untuk pengoperasian pompa. Pengelolaan ini dijalankan dengan tetap mempertahankan kualitas pelayanan.

“Penurunan sebesar 203,93 juta liter menunjukkan besarnya manfaat yang dapat dihasilkan melalui pengendalian pada berbagai unit. KAI akan terus memperkuat pengukuran, kedisiplinan penggunaan, dan penerapan teknologi pengolahan air agar setiap liter dimanfaatkan secara bertanggung jawab,” kata Anne.

Ke depan, KAI akan melanjutkan evaluasi penggunaan air pada fasilitas pelayanan dan operasional, terutama di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan atau tekanan ketersediaan air. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus memastikan pelayanan perkeretaapian tetap bersih, andal, dan efisien.(fahmi)

 

Baca Lainnya

Aktivitas Penumpang Tumbuh 9,32 Persen, KAI Tambah Pemberhentian KA di Tiga Stasiun

5 November 2026 - 21:01 WIB

KAI Services Terapkan Smart Cleaning, Kebersihan Stasiun Didukung Mesin Modern

5 November 2026 - 10:10 WIB

KAI Gelar Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu, Bahas Pelestarian Sejarah Kereta Api

5 November 2026 - 10:05 WIB

KCIC Hadirkan Promo 11.11, Naik Whoosh Lebih Hemat hingga Rp110 Ribu

5 November 2026 - 09:59 WIB

Dua Pencuri Kabel Rel di Tanah Abang Divonis 2 Tahun Penjara, KAI Soroti Ancaman Keselamatan

4 November 2026 - 21:13 WIB

Rekrutmen KAI Masuk Tahap Wawancara, KAI Divre III Ingatkan Pelamar Waspadai Penipuan

4 November 2026 - 15:17 WIB

GAPEKA 2026 Berlaku 1 Desember, KAI Tambah 8.466 Kursi dan 39 Perjalanan Kereta

4 November 2026 - 14:24 WIB

KAI Commuter Catat 303,9 Juta Pengguna hingga Oktober 2026

4 November 2026 - 13:05 WIB

KAI Services Hadirkan Milo, Mesin Pembersih Lantai Modern untuk Tingkatkan Kebersihan Stasiun

4 November 2026 - 12:24 WIB

GAPEKA 2026 Pangkas Waktu KA, Ini 10 Daftar Kereta Menjadi Lebih Cepat 1,5 Jam hingga 31 Menit

4 November 2026 - 11:58 WIB

Trending di PERON