Menu

Mode Gelap
InJourney Airports LC Perkuat Dukung Pengembangan SDM Industri Aviasi Bertaraf Global Marak Penipuan Berkedok Whoosh, KCIC Minta Pembelian Tiket Hanya di Kanal Resmi Tokoh Lintas Agama Deklarasikan Perdamaian dalam The Golden Rule Interfaith Youth Conference Guru dan Kepala SMP MBS Zam-Zam Cilongok Ikuti Pelatihan Cambridge, Siapkan Implementasi Future Ready Education Presiden Prabowo Resmikan Renovasi Cagar Budaya Stasiun Semarang Tawang Akses Keluar Tol Pekanbaru-Dumai Dialihkan Lewat Pintu Tol Bypass Mulai Hari Ini

JALUR

KAI Pangkas Konsumsi Energi 15,39 Persen pada 2025, Efisiensi Meningkat di Tengah Lonjakan Layanan

badge-check


 Penel solar di gedung KAI. (Ist) Perbesar

Penel solar di gedung KAI. (Ist)

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) berhasil menekan konsumsi energi sebesar 15,39 persen sepanjang 2025 di tengah peningkatan layanan angkutan penumpang dan barang.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, total penggunaan energi turun dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025 atau berkurang 1.838.165 GJ.

Capaian tersebut diraih saat KAI tetap melayani 503.549.740 pelanggan dan mengangkut 69.571.601 ton barang sepanjang 2025.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, seluruh penggunaan energi perusahaan dihitung dalam satuan gigajoule agar konsumsi listrik dan bahan bakar yang memiliki satuan berbeda dapat dibandingkan secara akurat sesuai standar pelaporan keberlanjutan Global Reporting Initiative (GRI).

“Cara sederhananya seperti menyamakan kilogram, kuintal, dan ton ke dalam satu satuan sebelum dijumlahkan. Karena listrik dan bahan bakar memiliki ukuran awal yang berbeda, semuanya lebih dahulu dikonversi ke gigajoule. Dengan begitu, KAI dapat mengetahui total energi yang benar-benar digunakan dan membandingkan tingkat efisiensinya dari tahun ke tahun,” kata Anne.

Ia menjelaskan, dalam perhitungan tersebut satu liter bensin dikonversi menjadi 0,0342 GJ, satu liter solar maupun biosolar menjadi 0,0379 GJ, sedangkan satu kilowatt hour (kWh) listrik setara dengan 0,0036 GJ.

Selain menurunkan total konsumsi energi, KAI juga mencatat peningkatan efisiensi dalam pelayanan. Pada layanan penumpang, intensitas energi turun dari 0,0263 GJ per pelanggan pada 2024 menjadi 0,0205 GJ per pelanggan pada 2025 atau lebih hemat 22,05 persen.

“Angka ini bukan berarti setiap pelanggan secara langsung menggunakan energi sebesar 0,0205 GJ. Nilai tersebut diperoleh dengan membagi seluruh energi yang digunakan KAI selama setahun dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Semakin rendah angkanya, semakin efisien energi yang digunakan untuk menghasilkan pelayanan,” ujar Anne.

Efisiensi juga terjadi pada layanan angkutan barang. Kebutuhan energi turun dari 0,1726 GJ menjadi 0,1453 GJ untuk setiap ton barang atau lebih hemat 15,82 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, intensitas energi terhadap pendapatan juga membaik dari 0,3308 GJ menjadi 0,2826 GJ per Rp1 miliar pendapatan atau turun 14,57 persen. Menurut KAI, data tersebut menunjukkan penggunaan energi semakin efisien dalam mendukung operasional perusahaan.

Memasuki Semester I 2026, skala pelayanan KAI Group terus meningkat. Hingga pertengahan tahun ini, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau naik 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 240.805.920 pelanggan. Pada periode yang sama, layanan angkutan barang mencapai sekitar 32,50 juta ton.

“Peningkatan kapasitas pelayanan perlu disertai pengelolaan energi yang disiplin. Fokus KAI adalah memastikan penambahan pelanggan dan volume barang dapat dilayani dengan penggunaan energi yang semakin efisien, tanpa mengurangi aspek keselamatan dan keandalan operasi,” kata Anne.

Untuk mendukung efisiensi, KAI memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pengoperasian 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi. Fasilitas tersebut tersebar di 62 stasiun, 10 balai yasa, 10 kantor, enam griya karya, tiga depo, dan satu record center dengan total kapasitas terpasang mencapai 4.430,65 kilowatt peak (kWp) atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp).

PLTS dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik berbagai fasilitas operasional, seperti penerangan, ruang pelayanan, kantor, dan peralatan elektronik. Pemanfaatannya diperkirakan mampu menekan emisi lebih dari 5.000 ton karbon dioksida setiap tahun.

Di sisi lain, sejak 1 Juli 2026 KAI juga menjalankan uji terap biodiesel B50 selama tiga bulan. Pengujian dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh bahan bakar campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen diesel terhadap performa mesin, konsumsi bahan bakar, sistem penyaringan, kebutuhan perawatan, serta keandalan sarana.

“B50 memiliki kandungan biodiesel yang lebih tinggi dibandingkan B40 yang digunakan sebelumnya. Karena itu, penerapannya perlu melalui pengujian dan evaluasi teknis agar tetap sesuai dengan persyaratan keselamatan, kesiapan sarana, dan keandalan perjalanan kereta api,” ujar Anne.

KAI juga menilai pengembangan angkutan barang berbasis rel menjadi bagian dari upaya efisiensi energi nasional. Dalam Laporan Keberlanjutan 2025 disebutkan satu rangkaian kereta barang mampu mengangkut sekitar 3.050 ton muatan, setara dengan kapasitas sekitar 144 truk trailer di jalan raya. Kondisi tersebut dinilai dapat menghemat penggunaan bahan bakar, mengurangi kemacetan, sekaligus menekan kerusakan jalan akibat kendaraan berat.

Selain itu, efisiensi sumber daya didukung melalui digitalisasi layanan. Sepanjang Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate. Penggunaan layanan ini diperkirakan menghemat sekitar 13.888 rol kertas boarding pass dengan nilai efisiensi biaya mencapai Rp203,80 juta atau setara bahan baku sekitar 75 pohon berdasarkan simulasi internal.

KAI juga menyediakan 124 fasilitas air minum gratis di 58 stasiun yang tersebar pada 70 area layanan. Fasilitas tersebut memungkinkan pelanggan mengisi ulang air minum menggunakan tumbler sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai dapat dikurangi.

“Efisiensi energi merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya perusahaan secara menyeluruh. KAI mengelola bahan bakar, listrik, kertas, air, dan kebutuhan operasional lainnya secara terukur agar pelayanan tetap andal serta dampak terhadap lingkungan dapat dikurangi secara bertahap,” tutup Anne.(fahmi)

 

Baca Lainnya

Akses Keluar Tol Pekanbaru-Dumai Dialihkan Lewat Pintu Tol Bypass Mulai Hari Ini

30 Juli 2026 - 08:29 WIB

Perkuat Keselamatan, Grab, Kemenhub, dan AISI Gelar Pelatihan bagi 1.052 Mitra Pengemudi di 5 Kota

28 Juli 2026 - 17:10 WIB

Pemerintah dan Grab Sepakati Kebijakan Baru Settlement Transaksi Pengemudi

28 Juli 2026 - 14:49 WIB

Menhub Tegaskan Pentingnya Budaya Keselamatan Bertransportasi di Jalan

28 Juli 2026 - 14:38 WIB

Dari Skuter Listrik ke E-Bike, Industri Mikromobilitas Indonesia Mulai Bergerak

23 Juli 2026 - 19:34 WIB

DAMRI Hadirkan Diskon Tiket Bus Hingga 20 Persen, Bepergian Lebih Hemat!

23 Juli 2026 - 12:57 WIB

Kendaraan Hidrogen Masuk Peta Jalan Nasional, Biaya Energi Berpotensi Turun 75%

22 Juli 2026 - 01:14 WIB

Perkuat Tata Kelola Logistik, Kemenhub Dorong Harmonisasi Kebijakan JPT dan Angkutan Multimoda

21 Juli 2026 - 20:40 WIB

Kecelakaan Jalan Masih Tinggi, RUU LLAJ Usulkan Badan Perlindungan Kecelakaan Transportasi

21 Juli 2026 - 19:57 WIB

Di Balik Share Location dan Map Ojek Online, Industri Geospasial Jadi Motor Ekonomi Digital Indonesia

21 Juli 2026 - 19:07 WIB

Trending di EKOBIS