Wartatrans.com, JAKARTA – Green SM resmi mengoperasikan layanan ojek online berbasis motor listrik di Jakarta pada Rabu (16/9/2026).
Masuknya Green SM Bike menambah pemain baru di pasar angkutan roda dua daring yang selama ini didominasi layanan berbasis sepeda motor konvensional.

“Ekspansi ini memperluas bisnis Green SM di Indonesia yang sebelumnya mengandalkan layanan taksi listrik,” jelas Managing Director Green SM Indonesia Deny Tjia.
Perusahaan telah beroperasi di Jakarta, Makassar, Surabaya, Bali, dan Bandar Lampung, dengan ekspansi layanan mobilitas listrik yang terus diperluas ke kota lain di Indonesia.
Skala ekspansi Green SM juga ditopang fasilitas pembiayaan. Pada April 2026, Green SM Indonesia menandatangani perjanjian pinjaman investasi senilai Rp600 miliar dengan BCA dengan tenor lima tahun untuk mendukung kesiapan operasional, keberlanjutan layanan, dan pertumbuhan bisnis perusahaan di Indonesia.
“Green SM membawa model yang berbeda dari sekadar menyediakan aplikasi. Motor listrik, pengemudi, layanan digital, serta kebutuhan pengisian dan penukaran baterai menjadi bagian dari ekosistem yang harus berjalan bersamaan agar kendaraan tetap produktif,” bebernya.
Di sisi pengemudi, Green SM membuka rekrutmen mitra Green SM Bike di Jakarta. Informasi rekrutmen mencantumkan batas usia 21 sampai 54 tahun enam bulan, kepemilikan Surat Izin Mengemudi C aktif, pelatihan kendaraan listrik, serta deposit Rp150.000 bagi kandidat yang lolos dan melanjutkan ke tahap serah terima unit.
Ekonomi pengemudi menjadi bagian penting dari model tersebut. Green SM sebelumnya membangun skema kemitraan dan perlindungan sosial, dengan sekitar 260 mitra pengemudi telah memp
eroleh perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian melalui kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan.
“Iuran perlindungan ditetapkan Rp8.400 per bulan setelah keringanan 50 persen dari pemerintah. Angka ini menunjukkan biaya perlindungan sosial mulai masuk ke struktur ekosistem kemitraan Green SM di Indonesia,” katanya.
Mitra pengemudi menurutnya, adalah bagian penting dari perjalanan Green SM.
“Karena itu, kami terus berupaya menghadirkan inisiatif yang memberikan manfaat nyata bagi mereka, termasuk dalam aspek perlindungan dan kesejahteraan,” ujar Deny.
Persoalan berikutnya adalah dampak penambahan armada terhadap sistem transportasi Jakarta.
Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengatakan, Motor listrik memang lebih bersih dari sisi emisi saat digunakan, tetapi kalau jumlah motornya terus bertambah, persoalan kemacetan dan penggunaan ruang jalan tidak selesai.
Pandangan tersebut memberi konteks berbeda terhadap ekspansi Green SM Bike.
Elektrifikasi dapat mengurangi emisi dari kendaraan saat digunakan, tetapi penambahan jumlah kendaraan tetap berhubungan dengan kebutuhan ruang jalan dan tingkat kepadatan lalu lintas.
Masuknya Green SM Bike karena itu menghadirkan dua ukuran keberhasilan yang berbeda. Dari sisi bisnis, perusahaan harus membuktikan kendaraan listrik mampu menghasilkan produktivitas dan pendapatan yang menarik bagi mitra.
Dari sisi transportasi, elektrifikasi belum otomatis mengurangi kepadatan jalan karena kendaraan tetap membutuhkan ruang untuk bergerak.
“Bagi Green SM, keberlanjutan ekspansi akan sangat bergantung pada kemampuan mengendalikan biaya kendaraan, menjaga produktivitas pengemudi, dan membangun infrastruktur energi yang cukup,” imbuh Deny.
Jika biaya kendaraan, produktivitas pengemudi, dan infrastruktur energinya dapat dikelola secara efisien, motor listrik bukan hanya produk baru, tetapi dapat menjadi bagian dari model bisnis mobilitas yang lebih luas di pasar Indonesia. (Artha Tidar)































