Wartatrans.com, TAKENGON — Warga Kampung Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, kini menghadapi krisis air bersih pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
Selain masih terisolasi akibat putusnya akses jalan, masyarakat juga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumber air yang selama ini digunakan warga rusak dan tercemar lumpur akibat longsor. Sebagian aliran air tertimbun material tanah dan bebatuan, sementara sebagian lainnya tidak lagi layak konsumsi. Kondisi ini memaksa warga mengambil air dari sumber darurat di sungai dengan jarak yang cukup jauh dan medan yang sulit.
Ancaman Kesehatan Warga
Keterbatasan air bersih berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Air yang tersedia terpaksa digunakan secara terbatas untuk minum, memasak, dan keperluan mandi, sementara sanitasi menjadi sangat minim.
“Kami harus menghemat air. Untuk mandi saja sangat terbatas, apalagi untuk mencuci,” ujar salah seorang warga Kampung Jamat.
Terisolasi dan Minim Bantuan
Putusnya akses jalan darat membuat bantuan air bersih dan sarana penampungan air sulit masuk ke kampung.
Bantuan yang pernah datang belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga, sementara musim hujan yang tidak menentu menambah kekhawatiran akan penyakit akibat air kotor.
Harapan Mendesak
Masyarakat sangat berharap pemerintah dan pihak terkait segera menyalurkan bantuan air bersih, seperti tangki air, pipa darurat, tandon, serta perbaikan sumber mata air yang rusak.
Selain itu, pemulihan akses jalan dinilai menjadi kunci utama agar distribusi bantuan bisa berjalan lancar.
Hingga saat ini, Kampung Jamat masih berada dalam kondisi darurat berlapis — terisolasi, krisis air bersih, keterbatasan logistik, dan ekonomi masyarakat yang terus melemah. Warga berharap perhatian serius agar krisis kemanusiaan ini tidak terus berlarut.*** (Kamaruzzaman)
























