Menu

Mode Gelap
Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir Kecelakaan Berulang di Silayur, Wali Kota Semarang Menyalahkan Tata Ruang dan Ujungnya Pengadaan Proyek KAI Daop 1 Jakarta Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan Stasiun demi Kenyamanan dan Keselamatan KAI Amankan 6.047 Barang Tertinggal Awal 2026, Pelanggan Diimbau Lebih Waspada Saat Naik Kereta Api Serius Bangun SDM Maritim, Pemerintah Timor Leste Kunjungi Poltekpel Surabaya Pelabuhan Pangkal Balam Perkuat Komitmen Jaga Layanan Bersama Mitra

PERISTIWA

Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan

badge-check


 Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan Perbesar

Wartatrans.com, MAKASSAR — Ketua Umum DPP Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia (ADGI) periode 2022–2027, Syahruddin Yasen, menyoroti rendahnya gaji guru dan dosen di Indonesia yang dinilainya sebagai masalah serius dalam pembangunan pendidikan nasional. Dalam refleksi Hari Guru ke-80, ia menyatakan bahwa pendidik adalah “pembangun peradaban” yang belum mendapatkan penghargaan ekonomi layak, terutama guru honorer, guru yayasan, serta dosen tetap di perguruan tinggi swasta.

Menurut Syahruddin, rendahnya kesejahteraan pendidik merupakan persoalan filosofis, bukan sekadar teknis anggaran. Ia menyebut fenomena ini sebagai paradoks: negara menuntut kualitas pendidikan tinggi, tetapi tidak memberikan jaminan hidup layak kepada para pengajar. Ia mengutip teori justice as fairness John Rawls bahwa negara wajib memberi distribusi kesejahteraan sesuai kontribusi sosial.

Syahruddin mengungkapkan kesenjangan besar antara gaji pendidik Indonesia dengan negara lain. Di berbagai negara seperti Luxemburg, Swiss, Jerman, hingga Australia, gaji guru bisa mencapai Rp1–2 miliar per tahun. Sementara profesor di AS, Jerman, dan Swiss memperoleh hingga Rp2,5–4,6 miliar per tahun.

Sebaliknya di Indonesia, banyak guru honorer hanya menerima Rp300.000–700.000 per bulan. Dosen yayasan sering dibayar per SKS dan bergaji jauh di bawah standar kelayakan. Meski guru dan dosen PNS memperoleh tunjangan profesi, jumlahnya masih jauh dari negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.

Syahruddin menilai beban kerja pendidik semakin berat, mulai dari kewajiban administrasi, penelitian, hingga publikasi ilmiah berbasis outcome. Namun penghargaan finansial minim sehingga menyebabkan burnout, rendahnya motivasi, dan menurunnya minat generasi muda memilih profesi pendidik.

“Bangsa akan merugi jika profesi guru dan dosen tidak lagi diminati kaum intelektual muda,” ujarnya. Kondisi ini juga dikhawatirkan menurunkan martabat profesi dalam jangka panjang.

ADGI mendorong pemerintah melakukan reformasi struktural dengan menetapkan Standardisasi Gaji Nasional Penddidi untuk seluruh kategori pendidik: PNS, PPPK, honorer, guru yayasan, hingga dosen swasta. Standar tersebut mencakup gaji minimum layak, tunjangan kompetensi, jaminan kesehatan, hingga pensiun.

Ia juga menekankan perlunya reformasi sertifikasi dan tunjangan profesi menjadi lebih sederhana, otomatis, dan berbasis kinerja nyata, bukan birokrasi.

Selain itu, ia meminta pemerintah mengalihkan alokasi anggaran pendidikan dari struktur birokrasi menuju peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. “Gedung tidak mencerdaskan manusia; guru dan dosen yang mencerdaskan,” tegasnya.

Syahruddin menegaskan yayasan pendidikan harus kembali ke semangat nirlaba, bukan komersial, agar tidak menjadikan pendidik sebagai cost center. Pemerintah daerah juga dinilai perlu menambah insentif bagi guru honorer dan dosen yayasan, terutama di daerah dengan kampus swasta kecil.

Ia menutup refleksi Hari Guru dengan seruan reformasi menyeluruh demi mengembalikan profesi guru dan dosen sebagai profesi terhormat. “Penghormatan itu bukan hanya simbolik, tetapi berupa jaminan hidup layak,” ujarnya.*** (Ilo)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Kecelakaan Berulang di Silayur, Wali Kota Semarang Menyalahkan Tata Ruang dan Ujungnya Pengadaan Proyek

11 April 2026 - 12:28 WIB

Serius Bangun SDM Maritim, Pemerintah Timor Leste Kunjungi Poltekpel Surabaya

11 April 2026 - 11:48 WIB

“Dalam Sujudku”, Film Drama Spiritual Tentang Ujian Rumah Tangga Siap Tayang 16 April 2026

11 April 2026 - 05:45 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Begini Skema Kebijakan Penerapan WFH bagi ASN Kemenhub

10 April 2026 - 08:52 WIB

Scoot Perluas Jangkauan di Indonesia, Buka Rute Baru ke Belitung dan Pontianak

10 April 2026 - 06:50 WIB

Trending di BANDARA