Menu

Mode Gelap
KAI Commuter Siagakan 126 Personel di Stasiun Strategis Antisipasi Aksi Massa Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026 PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api

PERISTIWA

Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan

badge-check


 Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan Perbesar

Wartatrans.com, MAKASSAR — Ketua Umum DPP Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia (ADGI) periode 2022–2027, Syahruddin Yasen, menyoroti rendahnya gaji guru dan dosen di Indonesia yang dinilainya sebagai masalah serius dalam pembangunan pendidikan nasional. Dalam refleksi Hari Guru ke-80, ia menyatakan bahwa pendidik adalah “pembangun peradaban” yang belum mendapatkan penghargaan ekonomi layak, terutama guru honorer, guru yayasan, serta dosen tetap di perguruan tinggi swasta.

Menurut Syahruddin, rendahnya kesejahteraan pendidik merupakan persoalan filosofis, bukan sekadar teknis anggaran. Ia menyebut fenomena ini sebagai paradoks: negara menuntut kualitas pendidikan tinggi, tetapi tidak memberikan jaminan hidup layak kepada para pengajar. Ia mengutip teori justice as fairness John Rawls bahwa negara wajib memberi distribusi kesejahteraan sesuai kontribusi sosial.

Syahruddin mengungkapkan kesenjangan besar antara gaji pendidik Indonesia dengan negara lain. Di berbagai negara seperti Luxemburg, Swiss, Jerman, hingga Australia, gaji guru bisa mencapai Rp1–2 miliar per tahun. Sementara profesor di AS, Jerman, dan Swiss memperoleh hingga Rp2,5–4,6 miliar per tahun.

Sebaliknya di Indonesia, banyak guru honorer hanya menerima Rp300.000–700.000 per bulan. Dosen yayasan sering dibayar per SKS dan bergaji jauh di bawah standar kelayakan. Meski guru dan dosen PNS memperoleh tunjangan profesi, jumlahnya masih jauh dari negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.

Syahruddin menilai beban kerja pendidik semakin berat, mulai dari kewajiban administrasi, penelitian, hingga publikasi ilmiah berbasis outcome. Namun penghargaan finansial minim sehingga menyebabkan burnout, rendahnya motivasi, dan menurunnya minat generasi muda memilih profesi pendidik.

“Bangsa akan merugi jika profesi guru dan dosen tidak lagi diminati kaum intelektual muda,” ujarnya. Kondisi ini juga dikhawatirkan menurunkan martabat profesi dalam jangka panjang.

ADGI mendorong pemerintah melakukan reformasi struktural dengan menetapkan Standardisasi Gaji Nasional Penddidi untuk seluruh kategori pendidik: PNS, PPPK, honorer, guru yayasan, hingga dosen swasta. Standar tersebut mencakup gaji minimum layak, tunjangan kompetensi, jaminan kesehatan, hingga pensiun.

Ia juga menekankan perlunya reformasi sertifikasi dan tunjangan profesi menjadi lebih sederhana, otomatis, dan berbasis kinerja nyata, bukan birokrasi.

Selain itu, ia meminta pemerintah mengalihkan alokasi anggaran pendidikan dari struktur birokrasi menuju peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. “Gedung tidak mencerdaskan manusia; guru dan dosen yang mencerdaskan,” tegasnya.

Syahruddin menegaskan yayasan pendidikan harus kembali ke semangat nirlaba, bukan komersial, agar tidak menjadikan pendidik sebagai cost center. Pemerintah daerah juga dinilai perlu menambah insentif bagi guru honorer dan dosen yayasan, terutama di daerah dengan kampus swasta kecil.

Ia menutup refleksi Hari Guru dengan seruan reformasi menyeluruh demi mengembalikan profesi guru dan dosen sebagai profesi terhormat. “Penghormatan itu bukan hanya simbolik, tetapi berupa jaminan hidup layak,” ujarnya.*** (Ilo)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026

27 Agustus 2026 - 11:21 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok

27 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

26 Agustus 2026 - 13:48 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Trending di NASIONAL