Menu ✖

Mode Gelap
Kemenhub Perkuat Ekosistem Keselamatan Transportasi Darat 150 Truk Listrik Distribusi Momogi Grup bakal Mengaspal Bulan ini 11 Tahun Pelayaran Perintis: Angkut 9.2 Juta Penumpang dan 1.5 Juta Ton Barang Kendaraan di Bali Tembus 5,2 Juta, Bagaimana dengan Jangkauan Angkutan Umum? Situ Gede Tasikmalaya Mengering, 230 Hektare Sawah Terdampak dan Hampir 100 Ribu Jiwa Dilanda Krisis Air Bupati Bogor Rudy Susmanto Disorot, Teken 9 Siteplan Summarecon di Atas Tanah Warisan yang Masih Bersengketa

PERISTIWA

Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan

badge-check


 Ketum ADGI: Gaji Guru dan Dosen Rendah, Pemerintah Perlu Lakukan Reformasi Kesejahteraan Perbesar

Wartatrans.com, MAKASSAR — Ketua Umum DPP Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia (ADGI) periode 2022–2027, Syahruddin Yasen, menyoroti rendahnya gaji guru dan dosen di Indonesia yang dinilainya sebagai masalah serius dalam pembangunan pendidikan nasional. Dalam refleksi Hari Guru ke-80, ia menyatakan bahwa pendidik adalah “pembangun peradaban” yang belum mendapatkan penghargaan ekonomi layak, terutama guru honorer, guru yayasan, serta dosen tetap di perguruan tinggi swasta.

Menurut Syahruddin, rendahnya kesejahteraan pendidik merupakan persoalan filosofis, bukan sekadar teknis anggaran. Ia menyebut fenomena ini sebagai paradoks: negara menuntut kualitas pendidikan tinggi, tetapi tidak memberikan jaminan hidup layak kepada para pengajar. Ia mengutip teori justice as fairness John Rawls bahwa negara wajib memberi distribusi kesejahteraan sesuai kontribusi sosial.

Syahruddin mengungkapkan kesenjangan besar antara gaji pendidik Indonesia dengan negara lain. Di berbagai negara seperti Luxemburg, Swiss, Jerman, hingga Australia, gaji guru bisa mencapai Rp1–2 miliar per tahun. Sementara profesor di AS, Jerman, dan Swiss memperoleh hingga Rp2,5–4,6 miliar per tahun.

Sebaliknya di Indonesia, banyak guru honorer hanya menerima Rp300.000–700.000 per bulan. Dosen yayasan sering dibayar per SKS dan bergaji jauh di bawah standar kelayakan. Meski guru dan dosen PNS memperoleh tunjangan profesi, jumlahnya masih jauh dari negara-negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura.

Syahruddin menilai beban kerja pendidik semakin berat, mulai dari kewajiban administrasi, penelitian, hingga publikasi ilmiah berbasis outcome. Namun penghargaan finansial minim sehingga menyebabkan burnout, rendahnya motivasi, dan menurunnya minat generasi muda memilih profesi pendidik.

“Bangsa akan merugi jika profesi guru dan dosen tidak lagi diminati kaum intelektual muda,” ujarnya. Kondisi ini juga dikhawatirkan menurunkan martabat profesi dalam jangka panjang.

ADGI mendorong pemerintah melakukan reformasi struktural dengan menetapkan Standardisasi Gaji Nasional Penddidi untuk seluruh kategori pendidik: PNS, PPPK, honorer, guru yayasan, hingga dosen swasta. Standar tersebut mencakup gaji minimum layak, tunjangan kompetensi, jaminan kesehatan, hingga pensiun.

Ia juga menekankan perlunya reformasi sertifikasi dan tunjangan profesi menjadi lebih sederhana, otomatis, dan berbasis kinerja nyata, bukan birokrasi.

Selain itu, ia meminta pemerintah mengalihkan alokasi anggaran pendidikan dari struktur birokrasi menuju peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. “Gedung tidak mencerdaskan manusia; guru dan dosen yang mencerdaskan,” tegasnya.

Syahruddin menegaskan yayasan pendidikan harus kembali ke semangat nirlaba, bukan komersial, agar tidak menjadikan pendidik sebagai cost center. Pemerintah daerah juga dinilai perlu menambah insentif bagi guru honorer dan dosen yayasan, terutama di daerah dengan kampus swasta kecil.

Ia menutup refleksi Hari Guru dengan seruan reformasi menyeluruh demi mengembalikan profesi guru dan dosen sebagai profesi terhormat. “Penghormatan itu bukan hanya simbolik, tetapi berupa jaminan hidup layak,” ujarnya.*** (Ilo)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Situ Gede Tasikmalaya Mengering, 230 Hektare Sawah Terdampak dan Hampir 100 Ribu Jiwa Dilanda Krisis Air

13 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Bupati Bogor Rudy Susmanto Disorot, Teken 9 Siteplan Summarecon di Atas Tanah Warisan yang Masih Bersengketa

13 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Waduk Jatiluhur Menyusut, Dasar Waduk Jadi Kebun Warga, Ancaman Krisis Air Mengintai Jakarta

13 Oktober 2026 - 18:21 WIB

Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik

13 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo

13 Oktober 2026 - 15:21 WIB

H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan

13 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

13 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Kabut Asap Kepung Fakfak, Warga Bertahan di Rumah, Kualitas Udara Mengancam Kesehatan

13 Oktober 2026 - 12:30 WIB

Madam Kin Gaspol Bisnis Film, Buka MKP Production di Pekanbaru

13 Oktober 2026 - 09:41 WIB

FORWAN dan Kementerian Kebudayaan RI Dorong Musik Dangdut Diakui UNESCO

13 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Trending di SENI BUDAYA