Wartatrans.com, JAKARTA — Tanggal 28 Desember 2025 akan dikenang sebagai hari terakhir terbitnya Kompas Minggu, salah satu ruang sastra paling berpengaruh dalam sejarah pers Indonesia. Penutupan rubrik tersebut dinilai bukan hanya sebagai bencana bagi dunia jurnalistik, tetapi juga kehilangan besar bagi sastra Indonesia.
Selama puluhan tahun, Kompas Minggu dikenal sebagai barometer sastra nasional, sejajar dengan media-media lain yang pernah menjadi rumah bagi karya sastra bermutu seperti Media Indonesia, Koran Tempo, Republika, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, serta Majalah Sastra Horison.

Bagi seorang penulis cerpen yang selama bertahun-tahun mengirimkan karya ke Kompas Minggu, kabar berakhirnya rubrik tersebut menghadirkan perasaan yang paradoks bagi Chairil Gibran Ramadhan (CGR).
“Meski cerpen-cerpen saya kerap ditolak Kompas Minggu dengan alasan klasik, yakni kesulitan tempat untuk memuatnya, kabar penutupan ini tetap membuat saya sedih,” ujarnya.
Cerpen-cerpen yang ditolak Kompas Minggu tersebut, lanjutnya, justru menemukan rumah di Majalah Sastra Horison. Menurutnya, hal itu dimungkinkan karena karakter karya yang ia tulis banyak berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan, serta bereksperimen dengan ragam bahasa dan ejaan lama yang pernah hidup di Indonesia—sesuatu yang dinilai sulit mendapatkan ruang di Kompas Minggu.
Pengalaman panjang penolakan itu kini justru menjadi fondasi lahirnya sebuah buku cerpen bertajuk “Kumpulan Cerpen (Bukan) Pilihan Kompas”.
“Buku tersebut memuat 16 cerpen, yang seluruhnya pernah ditolak oleh Kompas Minggu, dan direncanakan akan diluncurkan pada 26 Juni 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-61 Harian Kompas pada 30 Juni 2026,” terang CGR.
Judul sekaligus keterangan pada sampul belakang buku tersebut sengaja dipilih sebagai penanda sejarah personal dan sastra. “Tulisan Kumpulan Cerpen (Bukan) Pilihan Kompas menjadi semacam arsip kultural—tentang apa yang tidak sempat atau tidak mendapat tempat,” tambahnya.
Menariknya, penutupan Kompas Minggu justru menghadirkan rasa lega bagi penulis tersebut. Ia mengakui, jika buku itu terbit saat Kompas Minggu masih aktif, keterangan tersebut bisa dianggap provokatif dan berpotensi menimbulkan pencekalan simbolik.
“Saat Kompas Minggu masih ada, tulisan itu tentu sangat mengganggu, dan bisa jadi setiap cerpen yang saya kirim akan dicoret bahkan sebelum dibaca,” tuturnya.
Kini, dengan berakhirnya Kompas Minggu, buku tersebut hadir sebagai penanda zaman, sekaligus refleksi atas relasi panjang antara penulis, media, dan ruang sastra di Indonesia. Sebuah kesaksian bahwa sastra tak selalu lahir dari penerimaan, tetapi kerap tumbuh dari penolakan yang berulang.***























