Wartatrans.com, ACEH UTARA —Sejumlah desa di Kecamatan Langkahan, seperti Desa Geudumbak, Desa Matang Ketapang, dan beberapa desa lainnya, hingga kini masih merasakan dampak berat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
Bencana tersebut mengakibatkan rumah warga rusak parah, infrastruktur terputus, serta terganggunya kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih.

Kerusakan yang masif membuat beberapa desa terisolasi dari bantuan darat selama beberapa waktu. Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan fasilitas umum seperti menasah maupun lokasi pengungsian sementara karena rumah mereka dinilai tidak aman untuk ditempati.
Di Desa Geudumbak, dampak banjir tercatat sangat berat. Sekitar 359 rumah hampir hilang tersapu arus banjir, menyisakan hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Kondisi ini membuat sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, di Desa Matang Ketapang, relawan bersama warga mulai melakukan pembersihan sumur-sumur yang tercemar lumpur dan material banjir. Langkah ini dilakukan untuk memulihkan kembali akses air bersih yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.
Pemerintah bersama TNI telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material kayu gelondongan dan lumpur yang menutup jalan serta permukiman warga di beberapa desa di Langkahan.
Seiring akses yang mulai terbuka, sebagian warga perlahan meninggalkan pengungsian dan menempati hunian sementara (huntara). Di Desa Geudumbak, warga bahkan membangun huntara dari kayu gelondongan sisa banjir, meskipun hingga kini fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi masih sangat terbatas.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara secara resmi memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir Januari 2026, mengingat proses pemulihan wilayah terdampak belum sepenuhnya selesai.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang, salah satunya rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru di Kecamatan Langkahan. Program ini diharapkan dapat memperkuat layanan air bersih dan mencegah krisis serupa terulang di masa mendatang.*** (Kamaruzzaman)
























