Menu

Mode Gelap
Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat Pelayanan & Pengamanan Penumpang Kapal Kepulauan Seribu di Dermaga Muara Angke KAI Daop 7 Madiun Ganti Rangkaian Bangunkarta dan Singasari dengan Stainless Steel New Generation mulai 15 April KAI Layani 4,65 Juta Pelanggan PSO pada Triwulan I 2026, Naik 13,91 Persen Liburan Hemat dari Jakarta ke Purwakarta Mulai Rp8.000, Perjalanan Singkat dengan KRL dan KA Lokal ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Siwa–Kolaka, Tetap Jaga Kelancaran Layanan Operasional

RAGAM

Langkahan Krisis Air Bersih, Warga Bertahan di Pengungsian

badge-check


 Langkahan Krisis Air Bersih, Warga Bertahan di Pengungsian Perbesar

Wartatrans.com, ACEH UTARA —Sejumlah desa di Kecamatan Langkahan, seperti Desa Geudumbak, Desa Matang Ketapang, dan beberapa desa lainnya, hingga kini masih merasakan dampak berat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.

Bencana tersebut mengakibatkan rumah warga rusak parah, infrastruktur terputus, serta terganggunya kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih.

Kerusakan yang masif membuat beberapa desa terisolasi dari bantuan darat selama beberapa waktu. Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan fasilitas umum seperti menasah maupun lokasi pengungsian sementara karena rumah mereka dinilai tidak aman untuk ditempati.

Di Desa Geudumbak, dampak banjir tercatat sangat berat. Sekitar 359 rumah hampir hilang tersapu arus banjir, menyisakan hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Kondisi ini membuat sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal.

Sementara itu, di Desa Matang Ketapang, relawan bersama warga mulai melakukan pembersihan sumur-sumur yang tercemar lumpur dan material banjir. Langkah ini dilakukan untuk memulihkan kembali akses air bersih yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.

Pemerintah bersama TNI telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material kayu gelondongan dan lumpur yang menutup jalan serta permukiman warga di beberapa desa di Langkahan.

Seiring akses yang mulai terbuka, sebagian warga perlahan meninggalkan pengungsian dan menempati hunian sementara (huntara). Di Desa Geudumbak, warga bahkan membangun huntara dari kayu gelondongan sisa banjir, meskipun hingga kini fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi masih sangat terbatas.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara secara resmi memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir Januari 2026, mengingat proses pemulihan wilayah terdampak belum sepenuhnya selesai.

Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang, salah satunya rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru di Kecamatan Langkahan. Program ini diharapkan dapat memperkuat layanan air bersih dan mencegah krisis serupa terulang di masa mendatang.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

Semangat Kartini Di Cijeruk Bersama Halimah Munawir

11 April 2026 - 14:18 WIB

Pelukis “Garis Liris” Titis Djabarudin Berpulang, Dunia Seni Kehilangan Sosok Puitik

11 April 2026 - 00:06 WIB

Pidie Jaya Kembali Terendam, Jalan Nasional Lumpuh

10 April 2026 - 20:38 WIB

Koordinasi Logistik Membaik, Arus Kapal Pascalebaran Lebih Terkendali

10 April 2026 - 13:07 WIB

Perkuat Ekosistem Logistik Nasional, Pelindo Dukung Pembangunan Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat

10 April 2026 - 12:58 WIB

Begini Skema Kebijakan Penerapan WFH bagi ASN Kemenhub

10 April 2026 - 08:52 WIB

Scoot Perluas Jangkauan di Indonesia, Buka Rute Baru ke Belitung dan Pontianak

10 April 2026 - 06:50 WIB

Presiden Prabowo Mengaku Tengah Membentuk Perusahaan Sedan Listrik 

9 April 2026 - 18:04 WIB

Trending di JALUR