Lotek di Batas Dua Provinsi
Pagi di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi selalu bergerak pelan. Jalan berkelok menuju Bungo itu menyisakan embun di daun, deru kendaraan lintas provinsi, dan sebuah warung sederhana yang nyaris luput dari perhatian. Di sanalah, sekitar setengah kilometer dari tikungan jembatan viral batas Sumbar–Jambi, Pak Tie Sai mengaduk lotek—sarapan yang menghidupkan hari.

Warungnya tak besar. Meja kayu, bangku panjang, dan cobek batu yang sudah legam oleh waktu menjadi saksi ratusan pagi. Dari tangan Pak Tie, daun kol rebus, pucuk ubi, mi kuning, dan sayur-sayur lain dipertemukan dengan sambal kacang yang digerus pelan. Aroma kencur menyeruak, menyelinap di antara udara pagi yang masih dingin.
Lotek—atau pecel, sebagaimana sebagian orang menyebutnya—di sini punya ciri. Pedasnya tak main-main. Lebih dari sepuluh cabai rawit digiling halus, lalu ditambah lima rawit mentah yang dibiarkan utuh. Sambal itu pedas nendang, tapi tidak membabi buta. Kacang tanah yang dihaluskan memberi jeda, membelai lidah sebelum rasa kencur mengambil alih, menghadirkan sensasi segar yang membangunkan kesadaran.
“Pedasnya segini saja, Pak,” kata seorang pelanggan, menunjuk cabai. Pak Tie mengangguk, paham betul selera pelanggannya yang datang silih berganti: sopir lintas provinsi, warga sekitar, hingga mereka yang sekadar singgah karena rindu rasa.
Yang menarik, harga lotek di warung ini nyaris tak berubah. Di tengah harga cabai rawit yang melambung—hari ini mencapai Rp 100 ribu per kilogram—Pak Tie tetap menjual seporsi lotek seharga Rp 6.000. Tidak ada pengurangan porsi, tidak pula perubahan rasa. “Biar tetap bisa makan,” ujarnya singkat, sambil terus mengaduk sambal.
Bagi sebagian pelanggan, warung Pak Tie bukan sekadar tempat sarapan. Ia adalah penanda rutinitas. Ada yang mengaku hampir setiap pagi mampir sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pula yang enam bulan tak singgah, lalu kembali dengan rasa yang sama: pedas, segar, dan akrab.
Di lidah, lotek ini bukan hanya tentang rasa. Ia memberi spirit—semacam dorongan kecil untuk melangkah mengejar hari. Pedasnya membangunkan, kencurnya menyegarkan, dan kesederhanaannya mengingatkan bahwa di tengah mahalnya bahan pangan, masih ada warung kecil yang bertahan dengan kejujuran rasa.
Di perbatasan dua provinsi, lotek Pak Tie Sai menjadi penanda pagi: sederhana, pedas, dan setia pada lidah yang merindukannya.***
—
(Ifal_Puitis 9251)




















