Menu

Mode Gelap
BKKP-Institusi Pendidikan Maritim Perkuat Sinergi Upacara Hari Ke-80 Bhayangkara di Jakarta Utara Berlangsung Khidmat, Perkuat Sinergitas Polri Bersama TNI, Pemerintah, dan Masyarakat Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025 Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Uncategorized

Lotek di Batas Dua Provinsi

badge-check


 Lotek di Batas Dua Provinsi Perbesar

Lotek di Batas Dua Provinsi

Pagi di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi selalu bergerak pelan. Jalan berkelok menuju Bungo itu menyisakan embun di daun, deru kendaraan lintas provinsi, dan sebuah warung sederhana yang nyaris luput dari perhatian. Di sanalah, sekitar setengah kilometer dari tikungan jembatan viral batas Sumbar–Jambi, Pak Tie Sai mengaduk lotek—sarapan yang menghidupkan hari.

Warungnya tak besar. Meja kayu, bangku panjang, dan cobek batu yang sudah legam oleh waktu menjadi saksi ratusan pagi. Dari tangan Pak Tie, daun kol rebus, pucuk ubi, mi kuning, dan sayur-sayur lain dipertemukan dengan sambal kacang yang digerus pelan. Aroma kencur menyeruak, menyelinap di antara udara pagi yang masih dingin.

Lotek—atau pecel, sebagaimana sebagian orang menyebutnya—di sini punya ciri. Pedasnya tak main-main. Lebih dari sepuluh cabai rawit digiling halus, lalu ditambah lima rawit mentah yang dibiarkan utuh. Sambal itu pedas nendang, tapi tidak membabi buta. Kacang tanah yang dihaluskan memberi jeda, membelai lidah sebelum rasa kencur mengambil alih, menghadirkan sensasi segar yang membangunkan kesadaran.

“Pedasnya segini saja, Pak,” kata seorang pelanggan, menunjuk cabai. Pak Tie mengangguk, paham betul selera pelanggannya yang datang silih berganti: sopir lintas provinsi, warga sekitar, hingga mereka yang sekadar singgah karena rindu rasa.

Yang menarik, harga lotek di warung ini nyaris tak berubah. Di tengah harga cabai rawit yang melambung—hari ini mencapai Rp 100 ribu per kilogram—Pak Tie tetap menjual seporsi lotek seharga Rp 6.000. Tidak ada pengurangan porsi, tidak pula perubahan rasa. “Biar tetap bisa makan,” ujarnya singkat, sambil terus mengaduk sambal.

Bagi sebagian pelanggan, warung Pak Tie bukan sekadar tempat sarapan. Ia adalah penanda rutinitas. Ada yang mengaku hampir setiap pagi mampir sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pula yang enam bulan tak singgah, lalu kembali dengan rasa yang sama: pedas, segar, dan akrab.

Di lidah, lotek ini bukan hanya tentang rasa. Ia memberi spirit—semacam dorongan kecil untuk melangkah mengejar hari. Pedasnya membangunkan, kencurnya menyegarkan, dan kesederhanaannya mengingatkan bahwa di tengah mahalnya bahan pangan, masih ada warung kecil yang bertahan dengan kejujuran rasa.

Di perbatasan dua provinsi, lotek Pak Tie Sai menjadi penanda pagi: sederhana, pedas, dan setia pada lidah yang merindukannya.***

(Ifal_Puitis 9251)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kebijakan Subsidi Kendaraan Listrik Dinilai Belum Berpihak pada Transportasi Massal

30 Juni 2026 - 09:10 WIB

Akhirnya Dunia Usaha Ekonomi Kreatif Cilacap Punya Payung Hukum

29 Juni 2026 - 13:10 WIB

Lima Hari Terkatung di Jalan, Penumpang Bus Putra Pelangi Keluhkan Armada Sering Mogok 

29 Juni 2026 - 13:03 WIB

Puisi Menemukan Realitasnya di Aceh, Ahmadun: Satu Pekan PPN XIV Terasa Kurang

28 Juni 2026 - 22:33 WIB

InJourney Percepat Konsolidasi Hotel BUMN, Perkuat Ekosistem Pariwisata Nasional

27 Juni 2026 - 12:28 WIB

Alwashliyah Gandeng ATR/BPN Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf, MoU Disiapkan di Muktamar XXIII

27 Juni 2026 - 10:15 WIB

Tiket Diskon Kereta 30 Persen Masih Tersedia, KAI Ajak Masyarakat Manfaatkan Libur Sekolah

27 Juni 2026 - 04:56 WIB

Ketua Kurator PPN XIV Salman Yoga Usulkan Didong Gayo Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO

26 Juni 2026 - 01:53 WIB

KA Siliwangi Makin Diminati, Angkut 680 Ribu Penumpang dalam Lima Bulan dengan Tarif Mulai Rp2.000

25 Juni 2026 - 22:48 WIB

4 Emas di Nagoya 2026: Target Realistis atau Bukti Mundur Indonesia ikuti Asian Games? 

24 Juni 2026 - 19:51 WIB

Trending di Uncategorized