Menu

Mode Gelap
Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket

Uncategorized

Lotek di Batas Dua Provinsi

badge-check


 Lotek di Batas Dua Provinsi Perbesar

Lotek di Batas Dua Provinsi

Pagi di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi selalu bergerak pelan. Jalan berkelok menuju Bungo itu menyisakan embun di daun, deru kendaraan lintas provinsi, dan sebuah warung sederhana yang nyaris luput dari perhatian. Di sanalah, sekitar setengah kilometer dari tikungan jembatan viral batas Sumbar–Jambi, Pak Tie Sai mengaduk lotek—sarapan yang menghidupkan hari.

Warungnya tak besar. Meja kayu, bangku panjang, dan cobek batu yang sudah legam oleh waktu menjadi saksi ratusan pagi. Dari tangan Pak Tie, daun kol rebus, pucuk ubi, mi kuning, dan sayur-sayur lain dipertemukan dengan sambal kacang yang digerus pelan. Aroma kencur menyeruak, menyelinap di antara udara pagi yang masih dingin.

Lotek—atau pecel, sebagaimana sebagian orang menyebutnya—di sini punya ciri. Pedasnya tak main-main. Lebih dari sepuluh cabai rawit digiling halus, lalu ditambah lima rawit mentah yang dibiarkan utuh. Sambal itu pedas nendang, tapi tidak membabi buta. Kacang tanah yang dihaluskan memberi jeda, membelai lidah sebelum rasa kencur mengambil alih, menghadirkan sensasi segar yang membangunkan kesadaran.

“Pedasnya segini saja, Pak,” kata seorang pelanggan, menunjuk cabai. Pak Tie mengangguk, paham betul selera pelanggannya yang datang silih berganti: sopir lintas provinsi, warga sekitar, hingga mereka yang sekadar singgah karena rindu rasa.

Yang menarik, harga lotek di warung ini nyaris tak berubah. Di tengah harga cabai rawit yang melambung—hari ini mencapai Rp 100 ribu per kilogram—Pak Tie tetap menjual seporsi lotek seharga Rp 6.000. Tidak ada pengurangan porsi, tidak pula perubahan rasa. “Biar tetap bisa makan,” ujarnya singkat, sambil terus mengaduk sambal.

Bagi sebagian pelanggan, warung Pak Tie bukan sekadar tempat sarapan. Ia adalah penanda rutinitas. Ada yang mengaku hampir setiap pagi mampir sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pula yang enam bulan tak singgah, lalu kembali dengan rasa yang sama: pedas, segar, dan akrab.

Di lidah, lotek ini bukan hanya tentang rasa. Ia memberi spirit—semacam dorongan kecil untuk melangkah mengejar hari. Pedasnya membangunkan, kencurnya menyegarkan, dan kesederhanaannya mengingatkan bahwa di tengah mahalnya bahan pangan, masih ada warung kecil yang bertahan dengan kejujuran rasa.

Di perbatasan dua provinsi, lotek Pak Tie Sai menjadi penanda pagi: sederhana, pedas, dan setia pada lidah yang merindukannya.***

(Ifal_Puitis 9251)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong

16 Agustus 2026 - 16:35 WIB

TNI dan Polisi Lepas Tembakan, Peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman jadi Ricuh

15 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Dari Lilitan Utang, Ibu Rini Kini Tekuni Bisnis Gitar dan Perjuangkan Masa Depan Anak

14 Agustus 2026 - 18:04 WIB

Bandara Husein Mulai Layani Pesawat Jet dengan 12 Rute Domestik

14 Agustus 2026 - 16:54 WIB

“Duta” Radio Rimba Raya Hadiri Transformasi Kreator Indonesia di RRI Pusat

13 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Raup Suara Mayoritas Tantan Sulthon Nakhodai PWI Jabar Periode 2026-2031

13 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Haji Fikri Dorong Pariwisata Kabupaten Bogor Jadi Sumber PAD dan Penggerak Ekonomi Masyarakat

13 Agustus 2026 - 11:11 WIB

InJourney dan Garuda Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisman ke Destinasi Indonesia

12 Agustus 2026 - 09:03 WIB

Dukung Revalidasi UNESCO Global Geopark Ijen, DAMRI Hadirkan Layanan KSPN Kawah Ijen

12 Agustus 2026 - 07:21 WIB

Garuda Indonesia Sediakan 170.845 Kursi Penerbangan Domestik Gratis bagi Wisman, InJourney Respon Positif

11 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Trending di EKOBIS