Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah mendorong kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tidak berhenti di Bali dan Jakarta. Melalui penguatan konektivitas penerbangan domestik, wisatawan diharapkan melanjutkan perjalanan ke lebih banyak destinasi, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di daerah tujuan wisata.
Upaya itu didukung melalui kolaborasi Garuda Indonesia dan InJourney lewat program Free Domestic Flight, yang menyediakan 170.845 kursi penerbangan domestik bagi wisatawan mancanegara pemegang tiket perjalanan pulang-pergi internasional Garuda Indonesia.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kementerian Pariwisata Dedi Ahmad Kurnia menilai, program tersebut memiliki nilai strategis karena sekitar 70 persen kunjungan wisman ke Indonesia menggunakan jalur udara.
“Bali masih menjadi pintu masuk terbesar dengan kontribusi sekitar 40 persen, sementara Jakarta berada di kisaran 17 persen,” ucapnya dalam acara kolaborasi Garuda Indonesia dan InJourney untuk peningkatan inbound connectivity di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Karena itu, peningkatan konektivitas penerbangan domestik dapat menjadi pengungkit agar wisatawan tidak hanya mengunjungi dua destinasi utama tersebut.
“Tidak hanya datang ke Jakarta atau Bali, tetapi bagaimana ini bisa membuat kita discover more Indonesia ke destinasi lain di Indonesia,” ujar Dedi.
Menurutnya, pola perjalanan tersebut sekaligus mendukung pergeseran dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju pariwisata berkualitas.
Ada setidaknya tiga manfaat yang diharapkan. Pertama, wisatawan memeroleh kemudahan melanjutkan perjalanan domestik.
Kedua, arus wisatawan dapat tersebar ke lebih banyak destinasi. Ketiga, masa tinggal (length of stay) berpotensi meningkat karena wisatawan mengunjungi lebih banyak tempat.
“Selain menambah jumlah, juga akan menambah kualitas dari wisatawan,” katanya.
Marketing Group Head Garuda Indonesia Prina Eka Putri mengatakan program tersebut dirancang sebagai stimulus agar wisatawan yang datang dari luar negeri tidak hanya berhenti di satu destinasi.
“Program ini ingin mengubah pola perjalanan yang sekadar arrive, tetapi juga discover more Indonesia,” ujar Prina
Program berlangsung mulai Agustus hingga akhir November 2026. Sasaran utamanya tentu saja adalah wisman yang melakukan perjalanan pulang-pergi menggunakan maskapai Garuda.
Kata dia, program tersebut bukan semata untuk meningkatkan jumlah penumpang Garuda pada rute internasional.
Pergerakan wisatawan ke destinasi domestik diharapkan menciptakan efek berantai terhadap hotel, UMKM, pusat belanja, transportasi, dan sektor ekonomi lainnya.
“Impact yang kami harapkan memang tidak hanya untuk Garuda, tetapi juga untuk keseluruhan Indonesia,” katanya.
Senior Vice President Corporate Secretary PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Yudhistira Setiawan menyampaikan, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari berapa banyak wisatawan yang datang.
“Indikator yang juga penting adalah berapa lama mereka tinggal, berapa banyak destinasi yang dikunjungi, serta berapa besar pengeluaran mereka selama berada di Indonesia,” tuturnya.
Berdasarkan data yang disampaikan Yudhistira, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara pada kuartal II-2026 mencapai sekitar USD1.285, dengan rata-rata lama tinggal sekitar 10 malam.
Artinya, semakin lama wisatawan tinggal dan semakin banyak destinasi yang dikunjungi, semakin besar pula potensi nilai ekonomi yang tercipta.
“Quality tourism itu tidak tentang bagaimana satu kedatangan wisatawan dapat menciptakan value yang lebih besar, tetapi lebih bagaimana manfaat yang lebih luas bagi Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, program penerbangan domestik gratis tersebut dipandang bukan sekadar memberikan satu tiket tambahan tanpa biaya, melainkan membangun perjalanan yang lebih panjang dengan aktivitas wisata dan belanja yang lebih luas.
Dalam kolaborasi ini, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Lombok menjadi kawasan yang mendapat perhatian untuk penguatan konektivitas.
Yudhistira mengatakan, kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki kekuatan destinasi sekaligus berbagai agenda internasional.
Bandara di kawasan tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai simpul penerbangan, tetapi juga menjadi gerbang ekonomi bagi destinasi di sekitarnya. Potensi tersebut mencakup Borobudur, Prambanan, hingga berbagai destinasi wisata dan akomodasi yang dikembangkan InJourney.
Ia juga menyoroti pemulihan Grand Hotel de Djokja, bangunan bersejarah yang pertama kali berdiri pada awal abad ke-20.
Hotel tersebut dikembalikan menggunakan nama historisnya dan memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan Indonesia, termasuk pernah menjadi ruang kerja Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Sementara itu, Lombok memiliki kekuatan lain melalui Mandalika. Selain menjadi destinasi alam dan bahari, kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi penyelenggaraan MotoGP.
Yudhistira menyebut perekonomian Kabupaten Lombok Tengah tumbuh 4,87 persen pada 2025, meningkat dibandingkan 3,34 persen pada 2024. Pada triwulan I 2026, ekonomi Nusa Tenggara Barat bahkan tumbuh 13,4 persen secara tahunan.
“Lombok memiliki kekuatan destinasi yang lengkap, mulai dari Mandalika, keindahan alamnya, pantai-pantainya, hingga pengalaman hospitality,” imbuhnya.
Penguatan konektivitas ke Yogyakarta dan Lombok bukan sekadar membawa wisatawan ke destinasi, tetapi menciptakan ekosistem perjalanan agar wisatawan datang, tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
InJourney juga membawa konsep seamless journey dalam kolaborasi tersebut. Wisatawan diharapkan dapat menikmati rangkaian perjalanan mulai dari kedatangan di bandara, perjalanan menuju destinasi, akomodasi, hingga aktivitas belanja dalam satu ekosistem pariwisata.
Dikatakannya, wisatawan tidak lagi dipandang hanya sebagai penumpang yang datang dan kemudian pergi, melainkan sebagai traveler yang perlu mendapatkan pengalaman sejak tiba hingga kembali ke negara asal.
“Kami tidak melihat wisatawan hanya sebagai penumpang yang kemudian datang dan pergi begitu saja, tetapi kami melihat mereka sebagai traveler yang harus kita layani sepanjang perjalanan mereka,” katanya.
Dengan konsep tersebut, pengalaman wisata diharapkan tidak berakhir ketika wisatawan meninggalkan destinasi. Pengalaman positif dapat mendorong mereka kembali ke Indonesia sekaligus merekomendasikan perjalanan kepada keluarga dan komunitasnya. (omy)
































