Wartatrans.com, BENER MERIAH — Kondisi Musala Muyang Mersah Asal di Kampung Buntul Sara Ine, Kilometer 42 Jalan KKA, wilayah perbatasan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara, kian memprihatinkan. Bangunan rumah ibadah yang berdiri sejak akhir 1980-an itu kini tak lagi layak digunakan.
Musala tersebut pernah berfungsi sebagai masjid dan rutin menggelar salat Jumat bagi warga sekitar. Namun, sejak konflik bersenjata di Aceh melanda kawasan ini, bangunan itu menjadi satu-satunya peninggalan Kampung Buntul Sara Ine yang tersisa.

Pimpinan Pesantren Pegayon Kampung Asal Buntul Sara Ine, Azzam Pegayon, mengatakan kampung itu habis dibakar pada masa konflik karena kerap menjadi tempat singgah anggota Gerakan Aceh Merdeka. Seluruh warga terpaksa mengungsi dan meninggalkan permukiman serta kebun mereka selama puluhan tahun.
“Musala ini satu-satunya bangunan yang masih berdiri setelah konflik,” kata Azzam kepada WARTATRANS.com, Jumat, 30 Januari 2026.
Menurut Azzam, Musala Muyang Mersah Asal berdiri di atas tanah wakaf milik penduduk asli kampung tersebut. Wakaf dilakukan sebelum konflik dan hingga kini statusnya masih sah, meskipun para pewakaf dan masyarakatnya telah lama meninggalkan wilayah itu.
Secara geografis, lokasi musala berada di wilayah tapal batas Aceh Utara dan Bener Meriah. Namun hingga kini, batas administrasi kedua daerah tersebut belum ditetapkan secara jelas. Ketidakpastian itu membuat musala dan lingkungan sekitarnya seolah tak berada di bawah kewenangan pemerintahan mana pun.
“Sejak konflik berakhir, bahkan setelah bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, wilayah ini nyaris tak pernah mendapat perhatian,” ujar Azzam.
Saat ini, musala tersebut tidak memiliki aliran listrik dan belum pernah tersentuh bantuan pemerintah, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi. Bangunan itu pun kian lapuk dimakan usia.
Kondisi Musala Muyang Mersah Asal menjadi gambaran dampak panjang konflik bersenjata, ketidakjelasan batas wilayah, serta ketimpangan pelayanan publik yang masih dirasakan masyarakat di kawasan perbatasan Aceh hingga hari ini.*** (Kamaruzzaman)
























