Menu

Mode Gelap
Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul KA Lokal Kian Diminati, KAI Layani 4,6 Juta Pelanggan pada Semester I 2026 PTDI Relokasi ke Kertajati, Pemerintah Bidik Pasar Aviasi Rp2.200 Triliun Hari Keterampilan Pemuda Sedunia, KAI Perkuat Talenta Adaptif untuk Masa Depan Perkeretaapian

PERISTIWA

Negara Dinilai Lambat Tangani Banjir Aceh, Ratusan Ribu Warga Masih Terlantar

badge-check


 Negara Dinilai Lambat Tangani Banjir Aceh, Ratusan Ribu Warga Masih Terlantar Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Dua pekan pasca-bencana banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Aceh, ribuan keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian. Keterlambatan pemulihan layanan dasar dan lambannya distribusi bantuan memunculkan kritik publik terhadap kapasitas pemerintah dalam menangani situasi darurat.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 12 Desember 2025 mencatat lebih dari 800 ribu jiwa masih mengungsi di seluruh Provinsi Aceh. Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, mencapai ratusan ribu orang. Bireuen, Pidie, Pidie Jaya, Lhokseumawe, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Tengah juga melaporkan puluhan ribu warga meninggalkan rumah akibat banjir dan longsor.

Korban jiwa pada fase awal bencana dilaporkan mencapai ratusan orang dan jumlah tersebut meningkat seiring pembaruan data dari lapangan.

Di Pidie Jaya, khususnya Dayah Usen dan Meureudu, banjir bandang membawa tumpukan kayu dan lumpur yang merusak ribuan rumah. Pemerintah kabupaten telah mengeluarkan rekapitulasi dampak dan memprioritaskan normalisasi sungai sebagai langkah awal pemulihan.

Di Kabupaten Bireuen, aliran Sungai Peusangan meluap dan menyebabkan sejumlah desa di Kecamatan Jangka terendam. Ratusan hingga ribuan pengungsi masih bertahan di meunasah dan masjid. Laporan lapangan menunjukkan mulai munculnya kasus penyakit menular di beberapa titik pengungsian.

Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Tengah juga mencatat ribuan hingga puluhan ribu pengungsi akibat rusaknya akses jalan dan terendamnya permukiman.

BMKG telah mengeluarkan peringatan potensi hujan lebat sejak akhir Oktober. Namun saat curah hujan ekstrem terjadi pada akhir November, sejumlah wilayah masih terisolasi akibat jalan dan jembatan rusak. Kondisi ini membuat penyaluran bantuan logistik terhambat dan sebagian harus dialihkan melalui jalur udara.

Juru bicara BNPB menyebut pembukaan akses darat menjadi prioritas utama agar bantuan dapat masuk lebih cepat. “Kita harus terus mempercepat pembukaan akses darat agar tidak ada daerah yang terisolir,” ujarnya.

Sejumlah rumah sakit dan puskesmas dilaporkan terendam dan tidak dapat beroperasi secara penuh. Di beberapa titik pengungsian, penyakit diare, demam, dan infeksi kulit mulai dilaporkan. Tenaga kesehatan menilai kondisi sanitasi dan minimnya suplai air bersih meningkatkan risiko penyebaran penyakit pasca-banjir.

Pemerintah pusat memperkirakan kebutuhan rekonstruksi untuk wilayah Sumatra mencapai Rp51 triliun, dengan Aceh sebagai wilayah terdampak terbesar dan membutuhkan sekitar Rp25,4 triliun. Anggaran tersebut mencakup perbaikan infrastruktur, layanan publik, serta pemulihan ekonomi warga.

Namun sejumlah pengamat menilai besarnya anggaran tidak serta-merta menjamin pemulihan cepat jika koordinasi antar-lembaga masih lemah.

Lembaga kemanusiaan dan pengawas independen menilai penanganan bencana ini menunjukkan perlunya pembenahan struktur manajemen bencana nasional. Beberapa rekomendasi meliputi:

Sistem data terintegrasi real-time yang dapat diakses publik untuk memantau sebaran pengungsi, kondisi infrastruktur, dan kebutuhan logistik.

Desentralisasi kapasitas respon, termasuk dana cepat pakai untuk kabupaten agar pengambilan keputusan kritis tidak menunggu instruksi pusat.

Protokol kesehatan darurat yang mencakup layanan klinik bergerak, suplai air bersih, dan penanganan penyakit menular.

Audit publik atas anggaran rekonstruksi untuk menjamin transparansi dan mencegah inefisiensi.

Rehabilitasi kawasan hulu dan sungai guna mencegah aliran sedimen dan kayu seperti yang terjadi di Meureudu.

Warga terdampak masih membutuhkan pasokan listrik, air bersih, layanan kesehatan, serta tempat tinggal sementara yang layak. Pemerintah pusat telah mengerahkan bantuan melalui jalur udara serta mengaktifkan dukungan TNI/Polri, namun distribusi di lapangan masih dinilai belum merata.*** (Pilo)

Foto: Dua anak bermain di genangan bekas banjir di Meunasah Krueng, Meureudu, Pidie Jaya, Selasa, 2 Desember 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut

15 Juli 2026 - 21:35 WIB

Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur

15 Juli 2026 - 21:18 WIB

IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul

15 Juli 2026 - 21:09 WIB

Siswa SLB Gianyar Tolak Narkoba

15 Juli 2026 - 13:48 WIB

200 Juta e-KTP di Indonesia, Balik Nama Kendaraan Tetap Kalah Praktis dari Malaysia

15 Juli 2026 - 12:11 WIB

Ada Agenda Besar, Kemenhub-Korlantas Polri Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

15 Juli 2026 - 09:47 WIB

1 Juta Sertifikat Gratis MBR, Target Ambisius Hadapi Ujian Sulit Agraria 

15 Juli 2026 - 05:34 WIB

Pelindo Sambut Menteri Transportasi Arab Saudi, Bahas Potensi Kerja Sama Kepelabuhanan dan Logistik

14 Juli 2026 - 21:46 WIB

IDSurvey dan Danantara Investment Management Jalin Kerja Sama Strategis Dukung Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi

14 Juli 2026 - 20:49 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut, Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan

14 Juli 2026 - 20:39 WIB

Trending di ANJUNGAN