Menu ✖

Mode Gelap
Gangguan LRT Jabodebek Pagi Hari, Penumpang Jatimulya-Dukuh Atas Dialihkan di Halim Belajar dari Bogor dan Semarang, Djoko Setijowarno Ingatkan Lima Tantangan Trem Bali Korban Tewas Karhutla Gunung Bromo Bertambah Jadi Empat Orang, Dua Relawan Luka Bakar Serius KRL Buatan INKA Bermasalah Lagi, Dua Rangkaian Gangguan hingga 5 Perjalanan Dibatalkan KAI Siapkan Integrasi LRT Jakarta dan Stasiun Manggarai, 8,17 Juta Aktivitas KRL Tercatat Hingga 2026, KAI Rawat 17.025 Bantalan Rel KA Beton dan 3.556 Bantalan Sintetis

EKOBIS

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Meningkat di 2026, Berkat Fundamental Domestik dan Agenda Transformasi

badge-check


 Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Meningkat di 2026, Berkat Fundamental Domestik dan Agenda Transformasi Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik serta keberlanjutan agenda transformasi ekonomi nasional.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,4% pada 2026, sebagai langkah strategis menuju visi pertumbuhan jangka panjang hingga 8%.

Optimisme ini didukung oleh inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Oktober 2025 berada di level 121,2, sementara sektor manufaktur terus berada di zona ekspansi dengan PMI Manufaktur November 2025 sebesar 53,3.

Juru Bicara Kementerian Perekonomian Haryo Limanseto, Pemerintah mencatat kinerja investasi yang semakin solid, dengan realisasi mencapai Rp1.434 triliun atau tumbuh 13,9% secara tahunan (YoY) serta menyerap 1,95 juta tenaga kerja sepanjang tahun berjalan.

Pada kuartal III 2025, realisasi investasi juga meningkat signifikan hingga Rp434 triliun, melonjak 58% YoY. Pemerintah menilai pertumbuhan tersebut didorong oleh strategi hilirisasi industri dan percepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

“Kita fokus pada pengembangan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah, termasuk penguatan ekosistem kendaraan listrik,” ujar Haryo.

Pemerintah mencatat sektor hilirisasi memberikan dampak nyata, terutama pada komoditas nikel. Ekspor nikel dan produk turunannya melonjak dari USD 3,3 miliar menjadi USD 33,9 miliar, atau naik sepuluh kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

“Lonjakan ini membuktikan bahwa hilirisasi mampu menciptakan nilai tambah besar bagi perekonomian nasional,” tegasnya.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di kisaran 5,2%. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia relatif kuat karena ditopang konsumsi domestik yang dominan, sehingga risiko resesi tetap rendah.

Ia menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pemulihan, terutama di tengah potensi penurunan BI-Rate yang dapat memberikan ruang lebih besar bagi peningkatan investasi.

Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa risiko global tetap perlu diantisipasi, seperti fluktuasi harga komoditas, kebijakan tarif perdagangan AS, serta pelemahan permintaan dunia.

“Digitalisasi dan ekonomi hijau menjadi peluang ekspansi baru, tetapi pemerintah tetap harus menjaga konsumsi dan mempercepat investasi strategis,” jelas Josua.

Senada dengan Josua, ekonom senior Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 akan berada di atas 5%, namun menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga kualitas pertumbuhan.

Dirinya menekankan, hilirisasi disebut sebagai tahap awal dalam strategi pembangunan industri nasional. Setelah berhasil mendorong nilai tambah melalui hilirisasi berbasis komoditas, Indonesia perlu memasuki fase selanjutnya, yakni mengembangkan industrialisasi baik di sisi upstream maupun downstream. Meskipun sektor tambang kerap menjadi low-hanging fruit karena cepat memberikan hasil, ketergantungan pada satu sektor tidak cukup untuk menciptakan fondasi ekonomi yang tangguh. Untuk itu, pemerintah dan pelaku industri dinilai perlu mulai melakukan diversifikasi sektor investasi sebagai bagian dari upaya staging away menuju transformasi ekonomi yang lebih berkelanjutan.

“Hilirisasi adalah titik mula, bukan tujuan akhir. Kita harus naik kelas dengan membangun industri upstream dan downstream secara seimbang agar ekonomi tidak hanya bergantung pada komoditas tambang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya strategi diversifikasi investasi. “Kita perlu mulai bergeser ke sektor-sektor yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing, sehingga transformasi ekonomi tidak berhenti di hilirisasi saja,” kata Fithra.

Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh kombinasi fundamental ekonomi yang kuat, reformasi struktural jangka panjang, serta kesiapan menghadapi tantangan global. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus bekerja memastikan agar pertumbuhan tetap inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.(****)

 

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gapura Angkasa Sukses Dukung Gelaran MotoGP Mandalika 2026

16 Oktober 2026 - 15:10 WIB

Hingga September 2026, Jasa Raharja Salurkan Santunan Korban Kecelakaan Rp2,19 Triliun

15 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Momentum HUT Ke-56, INACA Ajak Semua Stakeholder Perkuat Industri Penerbangan

15 Oktober 2026 - 20:57 WIB

KAI Services Perluas Pasar Kuliner Kereta Lewat Pameran Pangan Nusa 2026

15 Oktober 2026 - 20:46 WIB

1.300 Penari Siap Terangi Malam Banyuwangi, Tampil Glow in the Dark!

15 Oktober 2026 - 15:08 WIB

myJasfren Jasa Raharja Hadirkan Fitur Jaminanku, Akses Layanan jadi Makin Mudah

15 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Perluas Pasar Ekspor-Impor, IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

14 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Pelindo Kembali Layani Pemindahan Muatan Antarkapal di Nipa Kepri

14 Oktober 2026 - 16:54 WIB

KAMAKSI Mendorong Transformasi Perumda Pasar Jaya dan Penguatan Ketahanan Pangan Propinsi DKI Jakarta

14 Oktober 2026 - 15:26 WIB

Gajah Tunggal Berencana Investasi Rp 10 Triliun Bangun Pabrik Ban EV

14 Oktober 2026 - 14:38 WIB

Trending di EKOBIS