Wartatrans.com, JAKARTA – Kasus konten video viral yang direkam oleh pihak Sisters in Danger (Shifani) memicu perhatian publik setelah menyasar warga sipil di ruang publik.
Demi menegakkan prinsip jurnalisme berimbang (cover both sides), akun Instagram Zoelfick melakukan penelusuran langsung dengan mendatangi lokasi awal kejadian di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, sekaligus menyambangi kediaman pribadi korban untuk melihat kondisi nyata secara utuh.
Berdasarkan penelusuran di lapangan bersama Pak Kodir—warga yang menjadi subjek dalam video viral tersebut—kejadian bermula saat ia sedang duduk di bangku trotoar jalan kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.
Dari rekaman video IG yang beredar, posisi duduk Pak Kodir terlihat di bawah pohon rindang di pinggir jalan raya.
“Korban konten viral yang direkam Shifani @sistersindanger saya temui hari ini agar dapat gambaran utuh untuk kita semua sebagai bagian cover both sides,” tulis akun IG tersebut pada postingan pada Ahad (25/10/2026).
Pak Kodir menceritakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui bahwa ia sedang direkam saat berjalan atau duduk di fasilitas publik tersebut.
Ia baru mengetahui insiden itu ketika dalam perjalanan pulang setelah istrinya mengabarkan bahwa video dirinya mendadak viral di media sosial.
“Saya kaget, saya pikir orang saya nggak ngerasa ngelakuin apa-apa. Takutnya nanti malah jadi bahan omongan orang-orang,” ungkap Pak Kodir saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku khawatir kesalahpahaman ini berdampak buruk pada nama baik keluarga, mengingat istri dan anggota keluarganya sempat merasa tertekan dan terpukul akibat narasi yang kadung menyebar luas.
Kondisi Riil Kediaman Korban: Kontras dengan Narasi Publik
Guna mendapatkan gambaran yang komprehensif, penelusuran dilanjutkan dengan mengunjungi langsung kediaman Pak Kodir. Rumah tersebut terletak di sebuah permukiman padat penduduk, masuk melalui gang sempit dengan ukuran rumah yang tergolong sangat sederhana, yakni sekitar 3×6 meter.
Di dalam rumah berukuran minimalis itu, tinggal bersama istri, anak-anak, serta ibunya yang sudah lanjut usia. Kondisi tempat tinggal ini memperlihatkan realitas sosial ekonomi keluarga yang jauh dari kesan mewah, kontras dengan sorotan viral yang kadung menghakimi di dunia maya tanpa melihat latar belakang kehidupan pribadi mereka secara utuh.
Hingga saat ini, pihak pembuat konten (Sisters in Danger / Shifani) disebut belum memberikan respons atau menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Pak Kodir maupun keluarganya pasca-kejadian.
Keluarga berharap adaitik baik dan penyelesaian yang adil agar nama baik mereka dapat pulih, serta masyarakat lebih bijak dalam membagikan konten tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.(fahmi)
























