Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Bukit di depan saya tampak diam. Namun dari sanalah bencana itu datang. Tanah dan batu runtuh, meluncur bersama air, menutup jalan lintas utama yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman Aceh Tengah. Di tepi jalan, bongkahan batu besar masih teronggok—penanda bahwa alam pernah mengamuk tanpa kompromi.
Air bercampur lumpur turun dari gunung, menyeret apa saja yang dilewatinya. Dahsyat. Jurang di bawah sana menganga, sementara sungai terus mengalir—sunyi, tetapi menyimpan ancaman. Sungai itulah yang kini menjadi sumber petaka bagi warga Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Padahal, Pantan Nangka adalah desa yang dianugerahi keindahan dan kekayaan alam. Letaknya di dataran rendah, bersuhu lebih panas dibanding wilayah Gayo lainnya. Hutan pinus tumbuh tenang, kapulaga menyebar harum, aren dan kelapa menjadi sandaran hidup. Sawah-sawah membentang rapi, seperti lukisan hijau yang menenangkan mata. Sungai mengalirkan kehidupan—memberi ikan untuk dapur warga.

Ingatan saya melayang ke masa kecil. Ayah kerap pulang membawa daging rusa, hasil buruan dari hutan Pantan Nangka. Saat itu, kampung ini terasa seperti negeri yang berlimpah, tempat manusia dan alam hidup berdampingan.
Namun sungai yang dulu menghidupi, kini mengamuk. Sejak Selasa, 26 November, air terus naik, melampaui jembatan. Ia masuk ke rumah-rumah warga, menyeret pohon-pohon besar yang menghantam dinding beton, merobohkan apa saja yang menghalanginya. Gedung sekolah pun tak luput dari terjangan.
Sawah berubah menjadi hamparan lumpur. Batang kayu berserakan tanpa arah. Sejumlah rumah hilang, seolah tak pernah ada—ditelan arus sungai.
Saya berdiri di atas jembatan yang konon dibangun pada masa Belanda. Aneh rasanya: jembatan itu tetap kokoh, sementara di sekelilingnya kehidupan runtuh dan berubah. Infrastruktur lama bertahan, tetapi kampung di sekitarnya porak-poranda.
Di tempat ini, ingatan saya kembali pada ayah. Seorang lelaki sederhana yang menghidupi keluarga dengan menjadi sopir mini bus. Setiap hari ia menyusuri jalan berkelok dari Pantan Nangka, Umang, Uning, Kemerleng, Tiro, hingga Isaq menuju Kota Takengon.
Para penumpang biasa menginap semalam di rumah kami. Saya terbiasa melayani mereka. Pagi hari mereka berbelanja, siang ayah mengantar kembali ke kampung. Ayah menginap di rumah warga, lalu esoknya membawa penumpang lain ke kota. Begitu seterusnya—hari demi hari, jalan demi jalan.
Air mata saya menggenang mengenangnya. Dulu, Pantan Nangka hanya hadir lewat cerita ayah. Kini saya menginjakkan kaki di desa ini, bukan sebagai anak yang menunggu ayah pulang dari perjalanan, melainkan sebagai seseorang yang datang untuk sekadar melipur lara warga pascabencana banjir bandang dan tanah longsor.
Saya bersimpuh di masjid desa. Dalam sunyi, doa saya panjatkan untuk ayah—semoga segala kebaikannya menjadi amal jariyah. Dan untuk Pantan Nangka: semoga luka ini perlahan sembuh, dan sungai kembali menjadi sahabat, bukan pembawa petaka.***
(MelSaja)
























