Menu ✖

Mode Gelap
Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar Hadapi Libur Nataru, Menhub Dudy Ingatkan 6 Faktor Utama Ini Kemenhub Pastikan Fuel Surcharge Penerbangan Domestik November 2026 Tetap 40% Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

RAGAM

Pantan Nangka: Sungai yang Pernah Menghidupi, Kini Membawa Petaka

badge-check


 Pantan Nangka: Sungai yang Pernah Menghidupi, Kini Membawa Petaka Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Bukit di depan saya tampak diam. Namun dari sanalah bencana itu datang. Tanah dan batu runtuh, meluncur bersama air, menutup jalan lintas utama yang menghubungkan kampung-kampung di pedalaman Aceh Tengah. Di tepi jalan, bongkahan batu besar masih teronggok—penanda bahwa alam pernah mengamuk tanpa kompromi.

Air bercampur lumpur turun dari gunung, menyeret apa saja yang dilewatinya. Dahsyat. Jurang di bawah sana menganga, sementara sungai terus mengalir—sunyi, tetapi menyimpan ancaman. Sungai itulah yang kini menjadi sumber petaka bagi warga Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Padahal, Pantan Nangka adalah desa yang dianugerahi keindahan dan kekayaan alam. Letaknya di dataran rendah, bersuhu lebih panas dibanding wilayah Gayo lainnya. Hutan pinus tumbuh tenang, kapulaga menyebar harum, aren dan kelapa menjadi sandaran hidup. Sawah-sawah membentang rapi, seperti lukisan hijau yang menenangkan mata. Sungai mengalirkan kehidupan—memberi ikan untuk dapur warga.

Ingatan saya melayang ke masa kecil. Ayah kerap pulang membawa daging rusa, hasil buruan dari hutan Pantan Nangka. Saat itu, kampung ini terasa seperti negeri yang berlimpah, tempat manusia dan alam hidup berdampingan.

Namun sungai yang dulu menghidupi, kini mengamuk. Sejak Selasa, 26 November, air terus naik, melampaui jembatan. Ia masuk ke rumah-rumah warga, menyeret pohon-pohon besar yang menghantam dinding beton, merobohkan apa saja yang menghalanginya. Gedung sekolah pun tak luput dari terjangan.

Sawah berubah menjadi hamparan lumpur. Batang kayu berserakan tanpa arah. Sejumlah rumah hilang, seolah tak pernah ada—ditelan arus sungai.

Saya berdiri di atas jembatan yang konon dibangun pada masa Belanda. Aneh rasanya: jembatan itu tetap kokoh, sementara di sekelilingnya kehidupan runtuh dan berubah. Infrastruktur lama bertahan, tetapi kampung di sekitarnya porak-poranda.

Di tempat ini, ingatan saya kembali pada ayah. Seorang lelaki sederhana yang menghidupi keluarga dengan menjadi sopir mini bus. Setiap hari ia menyusuri jalan berkelok dari Pantan Nangka, Umang, Uning, Kemerleng, Tiro, hingga Isaq menuju Kota Takengon.

Para penumpang biasa menginap semalam di rumah kami. Saya terbiasa melayani mereka. Pagi hari mereka berbelanja, siang ayah mengantar kembali ke kampung. Ayah menginap di rumah warga, lalu esoknya membawa penumpang lain ke kota. Begitu seterusnya—hari demi hari, jalan demi jalan.

Air mata saya menggenang mengenangnya. Dulu, Pantan Nangka hanya hadir lewat cerita ayah. Kini saya menginjakkan kaki di desa ini, bukan sebagai anak yang menunggu ayah pulang dari perjalanan, melainkan sebagai seseorang yang datang untuk sekadar melipur lara warga pascabencana banjir bandang dan tanah longsor.

Saya bersimpuh di masjid desa. Dalam sunyi, doa saya panjatkan untuk ayah—semoga segala kebaikannya menjadi amal jariyah. Dan untuk Pantan Nangka: semoga luka ini perlahan sembuh, dan sungai kembali menjadi sahabat, bukan pembawa petaka.***

(MelSaja)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan

2 November 2026 - 21:18 WIB

Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan

2 November 2026 - 20:10 WIB

Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar

2 November 2026 - 20:03 WIB

Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

2 November 2026 - 15:53 WIB

Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan

2 November 2026 - 14:19 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

2 November 2026 - 13:22 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

Trending di RAGAM