Menu

Mode Gelap
Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul KA Lokal Kian Diminati, KAI Layani 4,6 Juta Pelanggan pada Semester I 2026 PTDI Relokasi ke Kertajati, Pemerintah Bidik Pasar Aviasi Rp2.200 Triliun Hari Keterampilan Pemuda Sedunia, KAI Perkuat Talenta Adaptif untuk Masa Depan Perkeretaapian

RAGAM

Pelantikan Pejabat di Kalbar Diwarnai Isu Retaknya Hubungan Gubernur dan Wakil Gubernur

badge-check


 Pelantikan Pejabat di Kalbar Diwarnai Isu Retaknya Hubungan Gubernur dan Wakil Gubernur Perbesar

Wartatrans.com, PONTIANAK  – Prosesi pelantikan 26 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PPT) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada Jumat pagi, 5 Desember 2025, berubah menjadi sorotan publik. Pelantikan yang berlangsung di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, bukan hanya menjadi agenda rotasi birokrasi, tetapi juga memunculkan isu serius mengenai hubungan antara Gubernur Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan.

Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB itu berlangsung tertib dan formal. Namun di balik suasana seremonial tersebut, Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan memilih absen. Ia mengaku tidak menerima tembusan surat pemberitahuan pelantikan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Dalam surat resmi yang beredar, tembusan hanya ditujukan kepada Gubernur dan Sekretaris Daerah, tanpa mencantumkan nama wakil gubernur.

Krisantus menilai kejadian tersebut bukanlah persoalan administratif semata, melainkan bagian dari rangkaian peristiwa di mana dirinya tidak dilibatkan dalam proses pemerintahan. Ia menegaskan tidak akan bertanggung jawab terhadap pejabat yang dilantik karena tidak pernah dimintai pertimbangan selama proses seleksi berlangsung.

“Fungsi wakil gubernur bukan sekadar pendamping seremonial. Saya bahkan tidak diberi ruang dalam pembahasan,” ujarnya.

Lebih jauh, Krisantus mengungkapkan bahwa dirinya nyaris tidak pernah diajak berdiskusi terkait pembangunan daerah, termasuk pembahasan APBD. Menurutnya, rancangan anggaran kerap disodorkan dalam bentuk final tanpa proses komunikasi.

“Kadang kami hanya bersalaman di acara resmi, duduk berdekatan, foto bersama, tetapi tidak pernah ada ruang bicara,” ungkapnya.

Krisantus juga menyoroti gaya kerja pemerintahan yang dinilainya masih berkutat pada pola seremonial, tanpa tindak lanjut kebijakan yang konkret. Ia mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih modern, transparan, dan komunikatif.

Situasi memanas ketika Krisantus menyebut dirinya pernah dituding oleh Gubernur Ria Norsan sebagai pelapor kasus dugaan korupsi proyek jalan di Mempawah yang kini ditangani KPK. Tuduhan itu, katanya, disampaikan dua kali di depan publik, termasuk dalam forum organisasi politik.

 

“Kalau gubernur jatuh lalu wakil naik, itu undang-undang. Bukan saya,” tegasnya.

Kendati demikian, ia memilih tidak menempuh jalur hukum meski menilai tuduhan itu berpotensi mencemarkan nama baiknya.

Ketua Tim Hukum pasangan Norsan–Krisantus, Glorio Sanen, berharap ketegangan dua pimpinan daerah ini tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang berpotensi menghambat jalannya pemerintahan.

Menurutnya, Kalbar menghadapi tantangan besar—dari persoalan infrastruktur, kemiskinan, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga keterbatasan fiskal. Karena itu, ia menegaskan pentingnya soliditas di tingkat pimpinan.

“Kalbar memerlukan stabilitas. Pemerintah daerah wajib solid agar pembangunan tetap berjalan,” kata Glorio.

Pelantikan pejabat seharusnya mempercepat kinerja birokrasi dan meningkatkan layanan publik. Namun, momen ini justru menjadi simbol rapuhnya komunikasi antara gubernur dan wakilnya.

Bagi masyarakat, perdebatan bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana pemerintahan dapat kembali harmonis demi kesejahteraan rakyat.

Dalam pemerintahan, ego bukan untuk dipertahankan, tetapi untuk dikelola. Jabatan adalah amanah. Kepemimpinan bukan sekadar berdiri di podium, tetapi bekerja dalam senyap untuk masa depan daerah.

Publik kini menunggu: apakah ketegangan ini akan menjadi bara yang mengguncang stabilitas pemerintahan? Atau menjadi titik balik menuju rekonsiliasi?

Hanya waktu dan kebijaksanaan para pemimpin yang akan menentukan.*** (LonyenkRap)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Kuat Truk Colt diesel Tanpa Nopol Mengangkut Minyak Mentah Ilegal Melintas dijalan Lintas Medan-Sumut

15 Juli 2026 - 21:35 WIB

Pejuang Agraria Desak Penyelesaian Konflik Hak Adat atas Tanah di Aceh Timur

15 Juli 2026 - 21:18 WIB

IPC TPK Peringati HUT ke-13 dengan Donor Darah, 128 Kantong Darah Terkumpul

15 Juli 2026 - 21:09 WIB

Siswa SLB Gianyar Tolak Narkoba

15 Juli 2026 - 13:48 WIB

200 Juta e-KTP di Indonesia, Balik Nama Kendaraan Tetap Kalah Praktis dari Malaysia

15 Juli 2026 - 12:11 WIB

Ada Agenda Besar, Kemenhub-Korlantas Polri Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

15 Juli 2026 - 09:47 WIB

1 Juta Sertifikat Gratis MBR, Target Ambisius Hadapi Ujian Sulit Agraria 

15 Juli 2026 - 05:34 WIB

Pelindo Sambut Menteri Transportasi Arab Saudi, Bahas Potensi Kerja Sama Kepelabuhanan dan Logistik

14 Juli 2026 - 21:46 WIB

IDSurvey dan Danantara Investment Management Jalin Kerja Sama Strategis Dukung Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi

14 Juli 2026 - 20:49 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut, Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan

14 Juli 2026 - 20:39 WIB

Trending di ANJUNGAN