Menu

Mode Gelap
Menyusuri Jejak Chairil di HPN 2026 Kota Depok HPN 2026, Halimah Munawir: Puisi Adalah Nafas Jaman IPC TPK Dukung Pelindo Perkuat Peluang Kerja Sama Internasional Menhub dan Dirut KAI Bobby Takziah ke Rumah Korban, Duka Masih Menyelimuti Pascakecelakaan Bekasi Timur Kartini Bukan Kartono Band Tampil Memukau di Diskusi NGOBRAS 2026 Pemerintah Pastikan Penanganan dan Dukungan Bagi Korban Insiden KA Bekasi Timur

RAGAM

Pelantikan Pejabat di Kalbar Diwarnai Isu Retaknya Hubungan Gubernur dan Wakil Gubernur

badge-check


 Pelantikan Pejabat di Kalbar Diwarnai Isu Retaknya Hubungan Gubernur dan Wakil Gubernur Perbesar

Wartatrans.com, PONTIANAK  – Prosesi pelantikan 26 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PPT) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada Jumat pagi, 5 Desember 2025, berubah menjadi sorotan publik. Pelantikan yang berlangsung di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, bukan hanya menjadi agenda rotasi birokrasi, tetapi juga memunculkan isu serius mengenai hubungan antara Gubernur Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan.

Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB itu berlangsung tertib dan formal. Namun di balik suasana seremonial tersebut, Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan memilih absen. Ia mengaku tidak menerima tembusan surat pemberitahuan pelantikan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Dalam surat resmi yang beredar, tembusan hanya ditujukan kepada Gubernur dan Sekretaris Daerah, tanpa mencantumkan nama wakil gubernur.

Krisantus menilai kejadian tersebut bukanlah persoalan administratif semata, melainkan bagian dari rangkaian peristiwa di mana dirinya tidak dilibatkan dalam proses pemerintahan. Ia menegaskan tidak akan bertanggung jawab terhadap pejabat yang dilantik karena tidak pernah dimintai pertimbangan selama proses seleksi berlangsung.

“Fungsi wakil gubernur bukan sekadar pendamping seremonial. Saya bahkan tidak diberi ruang dalam pembahasan,” ujarnya.

Lebih jauh, Krisantus mengungkapkan bahwa dirinya nyaris tidak pernah diajak berdiskusi terkait pembangunan daerah, termasuk pembahasan APBD. Menurutnya, rancangan anggaran kerap disodorkan dalam bentuk final tanpa proses komunikasi.

“Kadang kami hanya bersalaman di acara resmi, duduk berdekatan, foto bersama, tetapi tidak pernah ada ruang bicara,” ungkapnya.

Krisantus juga menyoroti gaya kerja pemerintahan yang dinilainya masih berkutat pada pola seremonial, tanpa tindak lanjut kebijakan yang konkret. Ia mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih modern, transparan, dan komunikatif.

Situasi memanas ketika Krisantus menyebut dirinya pernah dituding oleh Gubernur Ria Norsan sebagai pelapor kasus dugaan korupsi proyek jalan di Mempawah yang kini ditangani KPK. Tuduhan itu, katanya, disampaikan dua kali di depan publik, termasuk dalam forum organisasi politik.

 

“Kalau gubernur jatuh lalu wakil naik, itu undang-undang. Bukan saya,” tegasnya.

Kendati demikian, ia memilih tidak menempuh jalur hukum meski menilai tuduhan itu berpotensi mencemarkan nama baiknya.

Ketua Tim Hukum pasangan Norsan–Krisantus, Glorio Sanen, berharap ketegangan dua pimpinan daerah ini tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang berpotensi menghambat jalannya pemerintahan.

Menurutnya, Kalbar menghadapi tantangan besar—dari persoalan infrastruktur, kemiskinan, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga keterbatasan fiskal. Karena itu, ia menegaskan pentingnya soliditas di tingkat pimpinan.

“Kalbar memerlukan stabilitas. Pemerintah daerah wajib solid agar pembangunan tetap berjalan,” kata Glorio.

Pelantikan pejabat seharusnya mempercepat kinerja birokrasi dan meningkatkan layanan publik. Namun, momen ini justru menjadi simbol rapuhnya komunikasi antara gubernur dan wakilnya.

Bagi masyarakat, perdebatan bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana pemerintahan dapat kembali harmonis demi kesejahteraan rakyat.

Dalam pemerintahan, ego bukan untuk dipertahankan, tetapi untuk dikelola. Jabatan adalah amanah. Kepemimpinan bukan sekadar berdiri di podium, tetapi bekerja dalam senyap untuk masa depan daerah.

Publik kini menunggu: apakah ketegangan ini akan menjadi bara yang mengguncang stabilitas pemerintahan? Atau menjadi titik balik menuju rekonsiliasi?

Hanya waktu dan kebijaksanaan para pemimpin yang akan menentukan.*** (LonyenkRap)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IPC TPK Dukung Pelindo Perkuat Peluang Kerja Sama Internasional

29 April 2026 - 22:03 WIB

May Day 2026: DPC KSPSI Gowa “Ketuk Pintu” Kekuasaan, Bupati Respons Nasib Buruh

29 April 2026 - 16:05 WIB

FIFGROUP Kukuhkan 37 Guru Terbaik SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan 

29 April 2026 - 11:41 WIB

Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri

29 April 2026 - 11:03 WIB

Menteri PPPA Usulkan Kereta Khusus Wanita di Tengah Rangkaian KRL

29 April 2026 - 06:14 WIB

Prabowo ke Banyumas, Helikopter Kepresidenan Memporak Porandakan Lapak Pedagang

29 April 2026 - 04:34 WIB

Tomi Hermawan: Radio Harus Jadi Kurator dan Sahabat Pendengar

28 April 2026 - 19:50 WIB

Kepala BPSDMP Lepas 476 Pelaut Lulusan BP3IP Jakarta

28 April 2026 - 19:25 WIB

Perpustakaan Sekolah di Banda Aceh Bergeliat, Buku Bermutu Diserbu Murid

28 April 2026 - 14:28 WIB

Kolaborasi Bahasa di Serambi Mekkah

28 April 2026 - 13:19 WIB

Trending di RAGAM