Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pertumbuhan positif layanan KA Makassar–Parepare sepanjang Januari–Juli 2026. Pada periode tersebut, layanan ini melayani 206.651 pelanggan, meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 181.876 pelanggan.
Secara kumulatif, sejak awal beroperasi hingga Juli 2026, KA Makassar–Parepare telah melayani 1.032.163 pelanggan. Capaian lebih dari satu juta pelanggan menunjukkan semakin kuatnya kebutuhan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap transportasi publik yang aman, nyaman, terjangkau, dan terjadwal.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan pelanggan tersebut membawa pesan yang lebih luas mengenai arti konektivitas bagi perkembangan daerah. Suatu wilayah akan memiliki ruang berkembang yang semakin besar ketika masyarakat dapat menjangkau pusat pendidikan, pekerjaan, perdagangan, layanan publik, wisata, serta berbagai kegiatan sosial dengan lebih mudah.
“Indonesia memiliki potensi besar yang tersebar di setiap daerah. Konektivitas membantu mempertemukan potensi tersebut dengan kesempatan. Ketika akses perjalanan semakin terbuka, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, bekerja, membangun usaha, bertemu keluarga, dan ikut mengembangkan daerahnya,” ujar Anne.
Kehadiran layanan perkeretaapian di Sulawesi Selatan juga memperluas pilihan mobilitas masyarakat di luar Pulau Jawa dan Sumatra. Layanan tersebut menjadi bagian dari pembangunan jaringan perkeretaapian Sulawesi yang dirancang untuk menghubungkan pusat-pusat kegiatan masyarakat dan mendukung perkembangan wilayah.
Peran konektivitas semakin strategis karena potensi ekonomi Sulawesi Selatan terus berkembang. Perekonomian provinsi tersebut tumbuh 6,88 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026, menunjukkan aktivitas ekonomi yang membutuhkan dukungan transportasi semakin kuat dan terhubung.
Pertumbuhan ekonomi tersebut terbentuk dari aktivitas masyarakat di berbagai lapangan usaha dan wilayah. Karena itu, manfaat pembangunan akan semakin luas ketika warga dapat menjangkau pusat kegiatan dengan waktu perjalanan yang lebih terencana dan biaya yang terukur.
Bagi pekerja, konektivitas memperluas pilihan tempat bekerja tanpa selalu harus meninggalkan daerah asal. Bagi pelajar dan mahasiswa, perjalanan yang semakin mudah membuka akses menuju sekolah, kampus, pelatihan, dan ruang pembelajaran. Bagi pelaku UMKM, mobilitas masyarakat menghadirkan calon pelanggan baru serta membuka kesempatan memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.
Manfaat serupa dapat dirasakan sektor pariwisata. Lintas pelayanan KA Makassar–Parepare melewati wilayah yang memiliki kekayaan alam, budaya, kuliner, dan sejarah, termasuk Maros, Pangkep, dan Barru. Ketika perjalanan semakin mudah, wisatawan dapat mengenal lebih banyak destinasi, sedangkan masyarakat setempat memperoleh peluang dari aktivitas kuliner, penginapan, transportasi lanjutan, ekonomi kreatif, dan penjualan produk lokal.
“Peluang hadir dalam bentuk yang konkret. Ada pedagang yang bertemu pelanggan baru, anak muda yang mengikuti pendidikan atau pelatihan, pekerja yang menjangkau tempat kerja, serta keluarga yang dapat melakukan perjalanan dengan lebih mudah. Setiap perjalanan dapat menjadi awal dari kesempatan yang sebelumnya terasa jauh,” kata Anne.
Dari Parepare, Talenta Bangsa Dapat Melaju
Parepare memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari kota tersebut lahir Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia, ilmuwan, dan tokoh teknologi nasional. Museum Kepresidenan Republik Indonesia mencatat B.J. Habibie lahir di Parepare pada 25 Juni 1936 sebelum menempuh perjalanan pendidikan dan pengabdian yang membawanya berkontribusi bagi Indonesia.
Kisah tersebut memberi pesan bahwa talenta bangsa dapat lahir dari kota mana pun. Tempat kelahiran tidak menentukan seberapa jauh seseorang dapat bercita-cita. Namun, setiap talenta membutuhkan akses menuju pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan ruang untuk mengembangkan kemampuan.
Konektivitas memberi kesempatan agar potensi anak-anak daerah dapat bertemu dengan berbagai ruang pembelajaran dan pengembangan diri. Seorang anak yang tumbuh di Sulawesi Selatan dapat menjadi ilmuwan, insinyur, pendidik, seniman, atlet, pengusaha, pemimpin, atau menghadirkan gagasan besar bagi Indonesia ketika jalannya menuju kesempatan semakin terbuka.
“Parepare pernah melahirkan B.J. Habibie, sosok yang menunjukkan bahwa seorang anak daerah dapat membawa gagasan Indonesia melintasi batas dunia. Kita tidak pernah tahu dari kota atau desa mana talenta besar berikutnya akan lahir. Tugas bersama kita adalah membuka akses agar setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan melaju,” ujar Anne.
Kesempatan yang sama bukan berarti setiap orang harus menempuh perjalanan hidup yang serupa. Kesempatan yang sama berarti asal daerah, jarak, dan keterbatasan akses tidak menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuannya.
Dalam konteks tersebut, kereta api memiliki makna yang dekat dengan perjalanan manusia. Sebuah rangkaian selalu melaju mengikuti jalurnya, melewati kota dan daerah, serta membawa setiap pelanggan menuju tujuan yang berbeda. Ada yang menuju sekolah, tempat kerja, lokasi usaha, destinasi wisata, rumah keluarga, atau tempat dimulainya harapan baru.
Kemerdekaan Berarti Setiap Orang Berhak Melaju
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, pertumbuhan layanan KA Makassar–Parepare menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan transportasi kepada masyarakat.
Kemerdekaan memiliki arti yang semakin kuat ketika setiap warga memiliki akses untuk menentukan arah hidupnya. Anak muda dapat mengejar pendidikan, orang tua dapat membangun penghidupan, pelaku usaha dapat memperluas pasar, dan masyarakat dapat bergerak menuju berbagai pusat kegiatan dengan rasa aman serta kepastian perjalanan.
“Setiap orang berhak melaju. Mereka berhak memiliki kesempatan untuk belajar lebih tinggi, bekerja lebih baik, membangun usaha, dan menghadirkan perubahan bagi daerahnya. Kereta api terus melaju membawa masyarakat menuju tujuan, sebagaimana Indonesia terus melaju melalui kemampuan dan harapan rakyatnya,” kata Anne.
Di balik angka 1.032.163 pelanggan, terdapat lebih dari satu juta perjalanan dengan alasan yang berbeda. Ada pelajar yang membawa cita-cita, pekerja yang memperjuangkan kehidupan keluarga, pelaku usaha yang menjaga penghasilannya, wisatawan yang mengenal kekayaan daerah, serta keluarga yang menempuh perjalanan untuk kembali bertemu.
Pertumbuhan pelanggan menjadi dorongan bagi KAI untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan KA Makassar–Parepare. KAI berkomitmen menjaga keselamatan, kenyamanan, kebersihan, keramahan pelayanan, dan keandalan perjalanan agar manfaat layanan dapat dirasakan semakin luas.
Pengembangan perkeretaapian Sulawesi juga membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah Pusat, pemerintah daerah, KAI, masyarakat, dan para pemangku kepentingan. Kolaborasi diperlukan untuk memperkuat integrasi antarmoda, meningkatkan akses menuju stasiun, mengembangkan kawasan di sekitar layanan, dan mendekatkan perjalanan kereta api dengan kebutuhan masyarakat.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Di setiap kota, desa, pesisir, dan kawasan pegunungan terdapat masyarakat dengan kemampuan, keberanian, dan cita-cita. Konektivitas membuka jalan agar potensi tersebut bertemu dengan kesempatan. Ketika masyarakat Sulawesi Selatan dapat terus melaju, daerah ikut berkembang dan Indonesia juga melaju,” tutup Anne.(fahmi)































