Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta mencatat kinerja positif layanan KA Pangrango sebagai moda transportasi unggulan di lintas Bogor–Sukabumi.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan KA Pangrango menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat serta peran strategis kereta api dalam mendukung mobilitas dan ekonomi.

Data KAI mencatat volume pelanggan KA Pangrango terus meningkat, yakni 523.265 pelanggan pada 2022, naik menjadi 786.001 pada 2023, 874.789 pada 2024, dan mencapai 1.109.398 pelanggan pada 2025. Sementara pada triwulan I 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 281.659 orang.
Secara kumulatif, pertumbuhan pelanggan dalam lima tahun terakhir telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Bahkan, jika tren triwulan I 2026 berlanjut, jumlah pelanggan tahun ini berpotensi kembali mencetak rekor baru.
Jika dilihat secara triwulanan, pertumbuhan juga menunjukkan tren akseleratif. Pada triwulan I 2023 tercatat 174.941 pelanggan, meningkat menjadi 187.534 pada 2024, kemudian melonjak menjadi 245.740 pada 2025, dan kembali naik menjadi 281.659 pada 2026. Pertumbuhan tercatat sekitar 7 persen pada 2024, melonjak 31 persen pada 2025, dan tumbuh sekitar 15 persen pada 2026.
Secara tahunan, lonjakan juga terlihat signifikan. Pada 2023, jumlah pelanggan meningkat sekitar 50 persen dibandingkan 2022, kemudian tumbuh 11 persen pada 2024, dan kembali meningkat 27 persen pada 2025 hingga menembus lebih dari 1,1 juta pelanggan.
Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari peningkatan kualitas layanan serta integrasi antarmoda yang semakin baik.
“KA Pangrango kini tidak hanya menjadi pilihan, tetapi telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mobilitas harian maupun perjalanan antarkota di wilayah Bogor dan Sukabumi,” ujar Franoto.
KA Pangrango melayani lintas strategis Bogor Paledang–Sukabumi dengan pemberhentian di sejumlah stasiun, seperti Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat, hingga Sukabumi. Kehadiran layanan ini turut mendorong tumbuhnya kawasan ekonomi baru di sepanjang lintasan.
Keunggulan KA Pangrango terletak pada ketepatan waktu karena bebas dari kemacetan, tingkat keselamatan yang tinggi, serta kenyamanan perjalanan. Dengan tarif terjangkau berkisar Rp45.000 hingga Rp80.000, layanan ini menjadi solusi mobilitas yang efisien bagi masyarakat.
Kemudahan akses juga didukung melalui sistem pemesanan tiket yang tersedia di aplikasi Access by KAI, situs resmi KAI, serta berbagai mitra penjualan.
Salah satu faktor yang memperkuat daya tarik KA Pangrango adalah integrasi antarmoda di Stasiun Bogor. Penumpang dari Sukabumi yang tiba di Stasiun Bogor Paledang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan KRL Commuter Line melalui Stasiun Bogor yang terhubung langsung.
Integrasi ini membuka akses lebih luas bagi masyarakat, khususnya pekerja, pelajar, dan pelaku usaha untuk menjangkau pusat ekonomi di Bogor, Depok, hingga Jakarta. Dampaknya, aktivitas ekonomi di sekitar stasiun dan wilayah yang terhubung turut meningkat.
KA Pangrango tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Aktivitas UMKM, perdagangan, dan sektor jasa tumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Ke depan, KAI Daop 1 Jakarta akan terus memperkuat layanan, meningkatkan kapasitas, serta memperluas integrasi antarmoda guna memastikan KA Pangrango tetap menjadi andalan konektivitas.
Dengan tren pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir, KAI optimistis KA Pangrango akan terus berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap mobilitas masyarakat serta pertumbuhan ekonomi nasional.(fahmi)





























