Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengoptimalkan aset daerah melalui pengembangan Pulomas Tower yang terintegrasi dengan Stasiun LRT Jakarta Equestrian.
Proyek berbasis Transit Oriented Development (TOD) itu diarahkan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang mampu meningkatkan produktivitas aset.

“Dengan lokasinya yang terintegrasi dengan Stasiun LRT Equestrian, kami berharap kawasan ini dapat berkembang sebagai pusat aktivitas ekonomi yang mendukung mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan kawasan berbasis TOD,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Jumat (31/7/2026)..
Pernyataan tersebut disampaikan seusai penandatanganan fasilitas pembiayaan proyek Pulomas Tower antara PT Pulo Mas Jaya dan PT Bank Mega Syariah di Jakarta International Equestrian Park Pulomas, Jakarta Timur.
Kerja sama itu menjadi bagian dari strategi mengoptimalkan aset daerah melalui skema pembiayaan kolaboratif.
Rano mengatakan BUMD tidak hanya dituntut memiliki kinerja usaha yang sehat, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan.
Menurutnya, pemanfaatan aset optimal dapat menciptakan nilai tambah bagi kota dan membuka aktivitas ekonomi baru.
Pengembangan Pulomas Tower mencerminkan perubahan pendekatan bisnis kawasan berbasis transit.
Proyek TOD tidak lagi hanya mengandalkan penjualan unit, tetapi diarahkan menciptakan pendapatan berulang melalui ruang ritel, perkantoran, layanan harian, dan aktivitas ekonomi yang memanfaatkan mobilitas masyarakat.
Pandangan tersebut diperkuat Colliers Indonesia. Dalam pembaruan proyek Sudirman Gateway TOD pada Maret 2026, konsultan properti itu menilai kawasan transit perlu dikembangkan dengan pendekatan yang tepat.
Kajian Highest and Best Use digunakan untuk memastikan aset memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.
Namun, keberadaan stasiun transportasi massal tidak otomatis menjamin peningkatan nilai kawasan.
Penelitian International Journal of Technology pada Januari 2026 terhadap 97 properti hunian di koridor LRT Dukuh Atas-Cawang menunjukkan kedekatan dengan stasiun belum menjadi faktor signifikan dalam membentuk nilai properti.
Faktor seperti akses pusat bisnis, fasilitas perkotaan, dan kualitas pengembangan kawasan memiliki pengaruh lebih besar.
Sejumlah proyek pembanding menunjukkan tantangan tersebut. Lebak Bulus Park and Ride and Mixed Use Development di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus dirancang dengan nilai investasi sekitar Rp487,7 miliar, luas lahan 13.333 meter persegi, dan total luas lantai bangunan 54.820 meter persegi.
Sementara itu, LRT City Bekasi Eastern Green, di Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengembangkan konsep mixed use yang menggabungkan hunian, area komersial, ruang terbuka, serta akses pejalan kaki yang terhubung dengan jaringan LRT.
Model tersebut menunjukkan keberhasilan TOD ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem kawasan.
Bagi Pulomas Tower, integrasi dengan Stasiun LRT Equestrian menjadi modal awal. Namun, keberhasilan proyek akan diuji dari kemampuan menarik penyewa, menciptakan aktivitas ekonomi sepanjang hari, dan menghasilkan pendapatan berulang yang meningkatkan nilai aset daerah. (ArthaTidar)































