Wartatrans.com, JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mendukung rencana PT KAI Logistik menghidupkan kembali angkutan ternak dan hasil pertanian dengan kereta api dari Banyuwangi menuju Jakarta.
Namun, ia juga menyoroti kesiapannya, seperti efisiensi distribusi yang harus berjalan bersama standar keselamatan dan kenyamanan hewan selama perjalanan.

“Saya mendukung. Ini bukan hanya soal memindahkan sapi dan hasil pertanian dari Banyuwangi ke Jakarta. Ini harus kita lihat sebagai upaya membangun sistem logistik pangan nasional yang lebih efisien, terintegrasi, dan berpihak kepada peternak serta petani,” ujar Rivqy di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Dia juga menyoroti sejumlah aspek yang harus dipastikan dalam operasional kereta ternak, mulai dari ventilasi, perlindungan dari cuaca ekstrem, lantai yang aman dan tidak licin.
Sekat yang tidak melukai, fasilitas pemuatan dan pembongkaran, air dan pakan, sanitasi, penanganan keadaan darurat hingga pemeriksaan fitness to travel oleh dokter hewan.
Catatan soal kesejahteraan hewan tersebut memiliki dasar regulasi.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan mengatur penerapan kesejahteraan hewan, termasuk dalam kegiatan pengangkutan.
Regulasi tersebut berlaku sejak 4 Desember 2025 dan menjadi salah satu acuan dalam memastikan penanganan hewan memperhatikan kondisi, keselamatan dan kesejahteraannya.
Rencana tersebut disiapkan KAI Logistik untuk menghubungkan sentra produksi Banyuwangi dengan pasar Jakarta.
Layanan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir September 2026 dengan Stasiun Argopuro dan Stasiun Kalisetail sebagai titik muat.
Direktur Operasi KAI Logistik Broer Rizal mengatakan, perjalanan perdana akan diberangkatkan dari Banyuwangi menuju Jakarta.
“Kami akan melakukan perjalanan kereta apinya dari Banyuwangi sebagai titik awal keberangkatan. Tujuan akhirnya di Jakarta,” kata Broer di Banyuwangi, Sabtu (12/9/2026).
KAI Logistik menyiapkan 20 gerbong dalam satu keberangkatan untuk mengangkut sapi dan komoditas pertanian seperti buah, sayuran serta cabai.
Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu maksimal 26 jam, dengan gerbong khusus hasil modifikasi kontainer.
Angkutan ternak dengan kereta api bukan konsep baru di Indonesia. Pada 1964, Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) mendatangkan 250 gerbong khusus angkutan ternak seri VW/VR-1000.
Layanan serupa kemudian pernah berlangsung hingga awal 2000-an sebelum berhenti dan kini disiapkan kembali oleh KAI Logistik.
Dalam rencana terbaru, PT Bogantara Indo Transport disiapkan menangani pengumpulan, penjemputan, pengemasan, pemuatan hingga pengantaran komoditas.
Pola tersebut membuat layanan tidak hanya bergantung pada perjalanan kereta, tetapi juga konektivitas angkutan dari sentra produksi hingga pasar tujuan.
Rencana ini masih berada pada tahap persiapan. Karena itu, angka 20 gerbong merupakan rencana rangkaian, bukan berarti kapasitas ternak telah ditetapkan dalam jumlah tertentu.
Kapasitas harus menyesuaikan jenis, ukuran, kondisi dan kebutuhan ruang hewan.
Bila terealisasi, pengoperasian kembali kereta ternak Banyuwangi-Jakarta akan menjadi pengembangan angkutan barang berbasis rel sekaligus alternatif distribusi komoditas pangan.
“Keberhasilannya akan ditentukan oleh efisiensi waktu dan biaya, kesinambungan rantai angkutan serta konsistensi penerapan standar kesejahteraan hewan,” kata Rivqy. (Artha Tidar)































