Wartatrans.com, JAKARTA – LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai ditargetkan mengangkut 60.000-80.000 penumpang per hari.
“Namun, angka itu belum otomatis menunjukkan kemacetan Jakarta berkurang karena keberhasilannya bergantung pada seberapa banyak pengguna kendaraan pribadi yang berpindah moda,” jelas Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara Rudy Saptari Sulesuryana, Jumat (11/9/2026).

Dia berharap LRT mendorong masyarakat beralih ke transportasi publik dan membangun habbit masyarakat menggunakan transportasi publik.
LRT Kelapa Gading-Manggarai memiliki lintasan 12,2 kilometer dengan 11 stasiun dan waktu tempuh sekitar 28 menit.
Direktur Teknik dan Pengembangan PT Jakarta Propertindo (Perseroda) Robert Sarjaka mengatakan, penambahan jaringan diproyeksikan meningkatkan pengguna secara bertahap hingga 60.000-80.000 penumpang per hari.
Proyeksi tersebut jauh di atas layanan Kelapa Gading-Velodrome yang sebelumnya sekitar 4.000 penumpang per hari.
Namun, satu penumpang LRT tidak otomatis berarti satu mobil atau sepeda motor hilang dari jalan.
Penumpang dapat berasal dari KRL, TransJakarta, ojek online, atau perjalanan yang sebelumnya dilakukan dengan berjalan kaki.
Ukuran pentingnya adalah modal shift. Jika 60.000 penumpang tercapai dan secara hipotetis 15 persen sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi, sekitar 9.000 perjalanan kendaraan pribadi berpindah. Bila proporsinya 50 persen, angkanya menjadi 30.000 perjalanan.
Simulasi itu bukan proyeksi resmi LRT.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Rany Mauliani menilai keberhasilan LRT perlu dilihat dari seberapa banyak pengguna kendaraan pribadi yang benar-benar beralih.
“Kalau jumlah penumpangnya meningkat dan integrasinya semakin baik, tentu LRT ini bisa menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi kemacetan Jakarta,” ujarnya, Selasa (25/8/2026).
Karena itu, pemerintah perlu mengukur perubahan volume mobil dan sepeda motor serta kecepatan perjalanan di koridor Kelapa Gading-Rawamangun-Pramuka setelah LRT beroperasi penuh.
Integrasi dengan KRL, TransJakarta dan KA Bandara di Manggarai dapat memperbesar peluang perpindahan moda.
Jika volume kendaraan turun dan kecepatan perjalanan meningkat seiring pertumbuhan penumpang LRT, barulah klaim pengurangan kemacetan memiliki dasar data.
Namun jika tidak, LRT baru membuktikan bahwa Jakarta memiliki lebih banyak pilihan transportasi publik, bukan bahwa kemacetan telah berkurang. (Artha Tidar)
































