Wartatrans.com, JAKARTA – Kebutuhan investasi mencapai Rp7,8 triliun untuk pembangunan LRT Jakarta Fase 2A Kelapa Gading–Jakarta International Stadium (JIS).
Tantangan targetnya adalah mengangkut 67.256 penumpang per hari.

Berdasarkan profil Invest Jakarta, proyek ini memperpanjang jaringan LRT Jakarta Fase 1 Kelapa Gading–Velodrome sejauh 8,2 kilometer menuju JIS.
Jalur tersebut memiliki enam stasiun, yakni Kelapa Nias, Boulevard Gading, Sunter Timur, Gelanggang Remaja, Sunter Barat, dan Danau Sunter Barat (JIS).
Profil investasi tersebut memproyeksikan tingkat pengembalian investasi sebesar 12,3 persen, sedangkan biaya modal proyek berada di level 12 persen.
Nilai bersih proyek diproyeksikan Rp164,2 miliar dengan periode pengembalian investasi 15 tahun.
Selisih 0,3 poin persentase antara tingkat pengembalian dan biaya modal menunjukkan ruang finansial yang relatif tipis.
Karena itu, pencapaian jumlah penumpang dan pengembangan sumber pendapatan tambahan menjadi penting untuk menopang asumsi kelayakan proyek.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya memproyeksikan jaringan LRT Jakarta Kelapa Gading–Manggarai mampu mengangkut 70.000–80.000 penumpang per hari. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).
“Saya sungguh berharap bahwa peresmian ini akan membuat yang saya sebut dengan milestone baru transportasi di Jakarta, karena kurang lebih akan ada yang diangkut setiap hari antara 70 sampai 80 ribu penumpang,” ucap Pramono.
Namun, angka 70.000–80.000 tersebut merupakan proyeksi untuk jaringan Kelapa Gading–Manggarai, bukan target khusus Fase 2A Kelapa Gading–JIS. Adapun target Fase 2A dalam profil investasi mencapai 67.256 penumpang per hari.
Di sisi bisnis, operator juga perlu mengembangkan sumber nilai, di luar layanan angkutan.
Direktur Utama PT LRT Jakarta Aditia Kesuma Negara mengatakan, kolaborasi dengan Jakarta Tourisindo/Jakarta Experience Board dapat membuka peluang kerja sama yang memberikan nilai tambah bagi kedua perusahaan.
“Kami optimistis kolaborasi ini akan membuka berbagai peluang serta potensi kerja sama yang saling memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak sehingga mampu menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi kedua perusahaan,” ujar Aditia, 5 Agustus 2026 silam.
Arah tersebut sejalan dengan profil investasi Fase 2A yang memasukkan naming rights, retail, unit usaha, dan iklan sebagai sumber pendapatan non-farebox. Profil yang sama mencatat willingness to pay masyarakat sebesar Rp10.000–Rp15.000 per perjalanan.
Di sisi lain, kemampuan menarik penumpang juga bergantung pada akses menuju stasiun. Pengamat transportasi Deddy Herlambang pada 25 Mei 2026 meminta Pemprov DKI menambah feeder ke stasiun MRT, LRT, dan KRL agar masyarakat lebih mudah mengakses transportasi umum. (Artha Tidar)
































