Menu

Mode Gelap
Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

OTOMOTIF

Rp80 Triliun Subsidi Mobil Listrik, Industri Untung Rakyat Tetap Naik Motor

badge-check


 Rp80 Triliun Subsidi Mobil Listrik, Industri Untung Rakyat Tetap Naik Motor Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pemerintah mengucurkan Rp80 triliun untuk subsidi kendaraan listrik. Hasilnya, penjualan mobil listrik melonjak 217 persen pada semester I 2026. Tapi di balik angka itu, 7 mobil “buatan Indonesia” yang dijual harganya mulai Rp400 juta.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) mencapai 48.500 unit hingga Juni 2026. Kenaikan signifikan ini tidak lepas dari insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang diberikan pemerintah.

Syaratnya satu: Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen. Agar memenuhi syarat dan tetap untung, pabrikan akhirnya memilih bermain di segmen menengah ke atas.

Saat ini, ada 7 merek yang sudah merakit di dalam negeri. Wuling Air ev di Cikarang dijual mulai Rp238 juta. BYD M6 dan Chery Omoda E5 ada di rentang Rp350 juta hingga Rp450 juta. Sementara, Hyundai Ioniq 5, bahkan tembus Rp700 juta hingga Rp1,1 miliar.

Direktur PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, Jusak Kertosusila, mengakui mobil listrik kini jadi “mesin bisnis baru”. “Kontribusinya terhadap pendapatan kami sudah di atas 30 persen,” ujarnya pada Kamis (10/7/2026).

Masalahnya, siapa sesungguhnya yang menikmati Rp80 triliun itu? Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut kebijakan ini melenceng. “Subsidi Rp80 triliun itu besar. Tapi nyatanya,70 persennya dinikmati kelas menengah atas yang mampu beli mobil Rp400 juta ke atas,” kata Yannes pada Jumat, (11/7/2026).

Menurut Yannes, negara sedang membiayai gaya hidup, bukan pemerataan transportasi. Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih menumpuk di Jawa. Harga baterai juga belum turun, meski pabrik baterai sudah ada di Karawang. “Yang terjadi sekarang adalah industrialisasi tanpa keadilan. Kita bangga ada pabrik, tapi mobilnya tidak terjangkau untuk rakyat yang butuh kendaraan murah,” tegasnya.

Data menunjukkan dari tujuh mobil listrik rakitan lokal, hanya satu yang harganya di bawah Rp300 juta. Sisanya adalah barang mewah berbalut label “buatan Indonesia”. Pemerintah menargetkan 600 ribu unit mobil listrik terjual pada 2030. Target itu akan sulit tercapai jika skema insentif tidak diubah. Selama subsidi masih jadi diskon untuk mobil Rp700 juta, maka transisi energi hanya akan jadi pesta kelas atas. Sementara, mayoritas rakyat tetap setia dengan motor bensin dan angkot tua.*** (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Cilegon Jadi Klaster Industri Baru, Proyeksi Pabrik Kendaraan Listrik Rp10 Triliun

24 Agustus 2026 - 05:51 WIB

IEE 2026: Industri Baterai Dikejar Kesiapan Energi dan Teknologi

21 Agustus 2026 - 07:02 WIB

FIFGROUP Dukung Lintangnusa Kibarkan Merah Putih dan Bawa Semangat Optimisme

18 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Prabowo Genjot Motor Listrik Nasional, Siapkan Insentif Produksi hingga 1 Juta Unit

14 Agustus 2026 - 20:00 WIB

DAMRI Berbagi Pengalaman Pengelolaan Bus Listrik, Dorong Transportasi Hijau di Indonesia

14 Agustus 2026 - 06:53 WIB

Ajinomoto Kuasai Material Chip Dunia

9 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Perkuat Kiprah Pereli Perempuan Indonesia, PRIVE Health Team Kembali Dukung LodySasty di AXCR 2026 di Thailand

5 Agustus 2026 - 09:50 WIB

FIFGROUP Perluas Edukasi Keselamatan Berkendara Lewat FABL ke Panggung Gaikindo Indonesia International Auto Show 2026

4 Agustus 2026 - 12:32 WIB

GIIAS 2026: China, Jepang, dan Eropa Berebut Panggung Otomotif

31 Juli 2026 - 07:43 WIB

Hyundai, BYD, dan Toyota Adu Strategi Otomotif di Panggung Sponsor Olahraga

29 Juli 2026 - 06:58 WIB

Trending di OLAH RAGA