Wartatrans.com, JAKARTA — Pemerintah mengucurkan Rp80 triliun untuk subsidi kendaraan listrik. Hasilnya, penjualan mobil listrik melonjak 217 persen pada semester I 2026. Tapi di balik angka itu, 7 mobil “buatan Indonesia” yang dijual harganya mulai Rp400 juta.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) mencapai 48.500 unit hingga Juni 2026. Kenaikan signifikan ini tidak lepas dari insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang diberikan pemerintah.

Syaratnya satu: Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen. Agar memenuhi syarat dan tetap untung, pabrikan akhirnya memilih bermain di segmen menengah ke atas.
Saat ini, ada 7 merek yang sudah merakit di dalam negeri. Wuling Air ev di Cikarang dijual mulai Rp238 juta. BYD M6 dan Chery Omoda E5 ada di rentang Rp350 juta hingga Rp450 juta. Sementara, Hyundai Ioniq 5, bahkan tembus Rp700 juta hingga Rp1,1 miliar.
Direktur PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, Jusak Kertosusila, mengakui mobil listrik kini jadi “mesin bisnis baru”. “Kontribusinya terhadap pendapatan kami sudah di atas 30 persen,” ujarnya pada Kamis (10/7/2026).
Masalahnya, siapa sesungguhnya yang menikmati Rp80 triliun itu? Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebut kebijakan ini melenceng. “Subsidi Rp80 triliun itu besar. Tapi nyatanya,70 persennya dinikmati kelas menengah atas yang mampu beli mobil Rp400 juta ke atas,” kata Yannes pada Jumat, (11/7/2026).
Menurut Yannes, negara sedang membiayai gaya hidup, bukan pemerataan transportasi. Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih menumpuk di Jawa. Harga baterai juga belum turun, meski pabrik baterai sudah ada di Karawang. “Yang terjadi sekarang adalah industrialisasi tanpa keadilan. Kita bangga ada pabrik, tapi mobilnya tidak terjangkau untuk rakyat yang butuh kendaraan murah,” tegasnya.
Data menunjukkan dari tujuh mobil listrik rakitan lokal, hanya satu yang harganya di bawah Rp300 juta. Sisanya adalah barang mewah berbalut label “buatan Indonesia”. Pemerintah menargetkan 600 ribu unit mobil listrik terjual pada 2030. Target itu akan sulit tercapai jika skema insentif tidak diubah. Selama subsidi masih jadi diskon untuk mobil Rp700 juta, maka transisi energi hanya akan jadi pesta kelas atas. Sementara, mayoritas rakyat tetap setia dengan motor bensin dan angkot tua.*** (Artha Tidar)





























