Menu

Mode Gelap
InJourney Airports Kebut Transformasi Bandara Soekarno-Hatta Menuju 10 Besar Dunia 2029 Pelabuhan Patimban Mulai Layani Rute Peti Kemas Internasional ke Malaysia Anwar Aras: Gen Z Harus Kuasai Media Digital untuk Menebar Dakwah Perang Apparel Piala Dunia 2026: Hegemoni, Inovasi, dan Cuan Raksasa di Panggung 11 Miliar Dolar Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari Rp80 Triliun Subsidi Mobil Listrik, Industri Untung Rakyat Tetap Naik Motor

RAGAM

Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari

badge-check


 Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Kebakaran hebat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kota Tangerang, Banten, memasuki hari ke-10 pada Kamis, 9 Juli 2026. Api yang berkobar sejak akhir Juni itu kembali menelanjangi rapuhnya tata kelola limbah domestik di Indonesia.

Ironisnya, di saat yang sama Swedia justru kekurangan sampah. Negara Skandinavia itu sampai harus mengimpor limbah dari negara lain untuk bahan bakar pembangkit listriknya. Indonesia sebaliknya, terus menimbun masalah tanpa solusi hulu ke hilir yang konkret.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan kegagalan ini bukan soal teknologi. Ragam inovasi seperti pengomposan, Refuse-derived fuel (RDF), biogas, pirolisis, hingga insinerasi sudah lama dikuasai di dalam negeri.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menyebut masalahnya ada di ekosistem. “Banyak riset canggih yang berhasil di laboratorium justru berujung mangkrak saat diimplementasikan ke masyarakat,” ujarnya dalam diskusi publik di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut Wahyu, tata kelola mandek karena paradigma riset terlalu fokus pada teknis alat. “Yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini adalah riset mengenai inovasi sistem dan ekosistem persampahan, agar teknologi yang sudah ada benar-benar bisa berjalan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Perbedaan mendasar RI dan Swedia ada di hulu: pemilahan sampah. Swedia menjalankan sistem Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) secara optimal, karena hanya membakar sampah kering dengan emisi terkontrol.

BRIN mencatat, pemilahan ketat di negara maju menghasilkan daya 500 hingga 600 kilowatt per ton sampah. Di Indonesia angkanya anjlok. “Di kita nanti mungkin hanya 300 sampai 400 kilowatt per ton karena sampahnya tidak kering sekali,” kata Wahyu.

Penyebabnya sederhana. Sekitar 90 persen daerah di Indonesia masih bergantung pada metode penumpukan terbuka atau open dumping. Pola primitif ini memicu akumulasi gas metana, yang rentan menyebabkan kebakaran, terutama saat puncak musim kemarau.

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Boy Jerry Even Sembiring, menilai pemerintah terjebak solusi instan. “Pemerintah terlalu silau dengan proyek teknologi mahal, padahal kunci utamanya ada pada penegakan hukum pemilahan di hulu dan tata kelola kelembagaan daerah yang bersih,” ujarnya pada Jumat (10/7/2026).

Selama hukum pilah sampah di rumah tidak segera ditegakkan, maka TPA akan terus berpoteni mudah terbakar. Dan paradoks akan terus berlanjut: negara lain sudah sibuk berebut sampah, kita masih kewalahan mengurusnya.***

(Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Normalisasi Ciliwung Telan Anggaran Rp300 M: 1 RT Pasti Hilang, Banjir Belum Tentu 

12 Juli 2026 - 15:05 WIB

390 Ton Logam Tanah Jarang Bocor, Hilirisasi Indonesia Sangat Dipertanyakan

12 Juli 2026 - 15:01 WIB

IPC TPK Rayakan 13 Tahun dengan Semangat ESG, Hadirkan Pertumbuhan yang Berdampak Positif

12 Juli 2026 - 07:11 WIB

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Trending di RAGAM