Wartatrans.com, ACEH TAMIANG – Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 1 Bukit Tempurung, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai kembali berjalan pasca libur Lebaran dan bencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Meski demikian, proses pembelajaran masih berlangsung dalam keterbatasan akibat kerusakan fasilitas sekolah yang hampir mencapai 100 persen.
Pada Senin (30/3/2026) para siswa terlihat mengikuti pelajaran di dalam kelas tanpa menggunakan kursi dan meja. Mereka belajar dengan beralaskan tikar dan terpal yang disediakan pihak sekolah, karena perabotan rusak akibat terjangan banjir dan lumpur.

Kepala SD Negeri 1 Bukit Tempurung, Rasman, mengatakan pihak sekolah tetap menjalankan proses belajar mengajar dengan fasilitas seadanya guna memastikan pendidikan siswa tidak terhenti.
“Kami tetap menjalankan pembelajaran dengan fasilitas apa adanya. Anak-anak belajar di lantai menggunakan tikar dan terpal karena kursi dan meja rusak akibat banjir,” ujar Rasman di sekolah pada Senin (30/3/2026.
Selain keterbatasan sarana, sejumlah siswa juga belum dapat mengenakan seragam sekolah. Mereka datang dengan pakaian bebas namun tetap rapi, karena seragam hanyut atau rusak saat banjir.
Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, semangat siswa untuk kembali belajar cukup tinggi. Rasman menyebutkan kehadiran siswa kini hampir mencapai 100 persen, setelah sebelumnya sempat menurun akibat dampak bencana.
Menurutnya, banjir yang terjadi sejak akhir November 2025 hingga Januari 2026 menyebabkan aktivitas belajar terhenti cukup lama. Bahkan, sejumlah siswa dan guru masih berada di pengungsian karena akses menuju rumah belum sepenuhnya pulih.
“Banyak siswa dan bahkan guru yang masih terdampak. Ada tiga guru kami yang sampai sekarang belum bisa kembali ke rumah karena akses jalan dan lingkungan belum bersih sepenuhnya,” katanya.
Untuk mengatasi trauma pascabencana, pihak sekolah menerapkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel melalui pendekatan trauma healing. Kegiatan belajar dikombinasikan dengan aktivitas bermain guna memulihkan kondisi psikologis siswa.
“Pembelajaran saat ini kami fokuskan pada trauma healing agar anak-anak kembali nyaman dan semangat belajar,” ujar Rasman.
Selain itu, jam belajar juga disesuaikan dengan kondisi yang ada. Atas izin pemerintah daerah, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut saat ini berlangsung hingga pukul 12.00 WIB, lebih singkat dari jadwal normal.
Kerusakan akibat banjir tidak hanya terjadi pada ruang kelas, tetapi juga fasilitas lain seperti lapangan olahraga, plafon bangunan, hingga sarana prasarana sekolah yang mengalami kerusakan parah akibat derasnya arus air dan tingginya lumpur.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, pihak sekolah tetap berkomitmen melanjutkan proses pendidikan. Rasman berharap pemulihan fasilitas pendidikan di Aceh Tamiang dapat segera terealisasi agar kegiatan belajar mengajar kembali normal.
“Kami berharap pendidikan di Aceh Tamiang segera pulih dan anak-anak dapat kembali belajar dengan fasilitas yang memadai,” pungkasnya.
Kondisi sekolah saat ini masih berlumpur di lapangan. Pagar beberapa sisi roboh dan perlu perbaikan. Fasilitas kursi meja siswa hingga ruang guru juga masih tidak ada fasilitas. (fahmi)





























