Menu

Mode Gelap
Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Salurkan Bantuan Banjir untuk Warga Tanjung Priok Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Bupati Bogor Bersama Forkopimda Tinjau Lokasi Munculnya Asap di Area PT Aneka Tambang, Pastikan Tidak Ada Korban Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Perkuat Sinergi dengan Pemkot Jakarta Utara melalui Kunjungan Kerja KAI Tutup 316 Perlintasan Rawan Sepanjang 2025, Perkuat Edukasi Keselamatan Publik Ditjen Hubla Mulai Persiapan Ratifikasi Konvensi Hong Kong 2009

PERISTIWA

Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

badge-check


					Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejumlah peseni dan seniman lintas genre akan kembali menggelar aksi moral bertajuk #SaveTIM dalam rangkaian Unfinished Struggle Seri Tiga: “Senandung Cikini 73”, Sabtu, 17 Januari 2026. Aksi ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap komersialisasi ruang-ruang berekspresi seni dan budaya di kawasan TIM. Para seniman menilai kebijakan pengelolaan yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dan rencana peralihan pengelolaan ke PT Jakarta Experience Board (JXB), berpotensi menggeser fungsi utama TIM sebagai ruang publik seni dan budaya.

Menurut pernyataan kolektif penyelenggara, jika para peseni dan seniman tidak terus menyuarakan penolakan, bukan tidak mungkin ke depan akses ke kawasan TIM akan semakin dibatasi, bahkan berpotensi dikenakan tiket masuk. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat TIM sebagai ruang terbuka bagi proses kreatif dan pertukaran gagasan.

Taman Ismail Marzuki selama puluhan tahun dikenal sebagai laboratorium seni dan budaya—tempat lahirnya ide, narasi besar kebudayaan, serta tokoh-tokoh penting seni Indonesia. “Jika marwah TIM runtuh oleh logika komersialisasi yang tidak memahami ruh berkesenian, krisis kebudayaan akan semakin dalam,” demikian salah satu pernyataan dalam seruan aksi.

Para seniman menyadari bahwa gerakan ini ibarat perahu sekoci yang berhadapan dengan kapal induk kapitalisme. Namun, mereka meyakini sekoci tersebut membawa “dinamit kesadaran”—bahwa seni dan budaya adalah identitas bangsa yang harus dipertahankan, bukan dikomodifikasi.

Aksi #SaveTIM ini mengajak publik untuk hadir dan bergabung dengan membawa kesadaran niat murni, intelektual, dan estetika, serta kegembiraan berekspresi. Penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi, dilakukan tanpa prasangka, dan tanpa konsumsi alkohol.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Salurkan Bantuan Banjir untuk Warga Tanjung Priok

15 Januari 2026 - 11:52 WIB

Bupati Bogor Bersama Forkopimda Tinjau Lokasi Munculnya Asap di Area PT Aneka Tambang, Pastikan Tidak Ada Korban

15 Januari 2026 - 11:43 WIB

KMMI Dibentuk, Pelaku Usaha Sepakat Kawal Program Presiden Percepat Penempatan PMI Terampil

15 Januari 2026 - 10:31 WIB

Persekutuan Oikumene Pelindo Group Area Makassar Rayakan Natal 2025 

15 Januari 2026 - 10:31 WIB

Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja!

14 Januari 2026 - 20:52 WIB

Trending di JALUR