Menu

Mode Gelap
Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah Divre III Palembang Hadirkan Rangkaian Kereta Ekonomi Premium pada KA Rajabasa, Perjalanan Kini Semakin Nyaman Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung Tahun Ini Asia Babak Belur, FIFA Masih Pertimbangkan Kuota 12 Tiket untuk Piala Dunia 2030 Semester I 2026, KAI Group Layani Hampir 259 Juta Pelanggan, Naik 7,55 Persen

PERISTIWA

Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

badge-check


 Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejumlah peseni dan seniman lintas genre akan kembali menggelar aksi moral bertajuk #SaveTIM dalam rangkaian Unfinished Struggle Seri Tiga: “Senandung Cikini 73”, Sabtu, 17 Januari 2026. Aksi ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap komersialisasi ruang-ruang berekspresi seni dan budaya di kawasan TIM. Para seniman menilai kebijakan pengelolaan yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dan rencana peralihan pengelolaan ke PT Jakarta Experience Board (JXB), berpotensi menggeser fungsi utama TIM sebagai ruang publik seni dan budaya.

Menurut pernyataan kolektif penyelenggara, jika para peseni dan seniman tidak terus menyuarakan penolakan, bukan tidak mungkin ke depan akses ke kawasan TIM akan semakin dibatasi, bahkan berpotensi dikenakan tiket masuk. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat TIM sebagai ruang terbuka bagi proses kreatif dan pertukaran gagasan.

Taman Ismail Marzuki selama puluhan tahun dikenal sebagai laboratorium seni dan budaya—tempat lahirnya ide, narasi besar kebudayaan, serta tokoh-tokoh penting seni Indonesia. “Jika marwah TIM runtuh oleh logika komersialisasi yang tidak memahami ruh berkesenian, krisis kebudayaan akan semakin dalam,” demikian salah satu pernyataan dalam seruan aksi.

Para seniman menyadari bahwa gerakan ini ibarat perahu sekoci yang berhadapan dengan kapal induk kapitalisme. Namun, mereka meyakini sekoci tersebut membawa “dinamit kesadaran”—bahwa seni dan budaya adalah identitas bangsa yang harus dipertahankan, bukan dikomodifikasi.

Aksi #SaveTIM ini mengajak publik untuk hadir dan bergabung dengan membawa kesadaran niat murni, intelektual, dan estetika, serta kegembiraan berekspresi. Penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi, dilakukan tanpa prasangka, dan tanpa konsumsi alkohol.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

Trending di ANJUNGAN