Menu

Mode Gelap
KAI Lanjutkan Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, 17 Pelanggan Masih Dirawat Perkuat Standar Layanan dan Keselamatan Secara Berkelanjutan, DAMRI Tingkatkan Kompetensi Pengemudi di Berbagai Layanan Kemenhub Teken 2 Perjanjian Konsesi Strategis dengan PT Pelindo Dukung Kelancaran Logistik Wilayah, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Peran ASDP Ramaikan Forum Inabuyer 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

PERISTIWA

Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

badge-check


 Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejumlah peseni dan seniman lintas genre akan kembali menggelar aksi moral bertajuk #SaveTIM dalam rangkaian Unfinished Struggle Seri Tiga: “Senandung Cikini 73”, Sabtu, 17 Januari 2026. Aksi ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap komersialisasi ruang-ruang berekspresi seni dan budaya di kawasan TIM. Para seniman menilai kebijakan pengelolaan yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dan rencana peralihan pengelolaan ke PT Jakarta Experience Board (JXB), berpotensi menggeser fungsi utama TIM sebagai ruang publik seni dan budaya.

Menurut pernyataan kolektif penyelenggara, jika para peseni dan seniman tidak terus menyuarakan penolakan, bukan tidak mungkin ke depan akses ke kawasan TIM akan semakin dibatasi, bahkan berpotensi dikenakan tiket masuk. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat TIM sebagai ruang terbuka bagi proses kreatif dan pertukaran gagasan.

Taman Ismail Marzuki selama puluhan tahun dikenal sebagai laboratorium seni dan budaya—tempat lahirnya ide, narasi besar kebudayaan, serta tokoh-tokoh penting seni Indonesia. “Jika marwah TIM runtuh oleh logika komersialisasi yang tidak memahami ruh berkesenian, krisis kebudayaan akan semakin dalam,” demikian salah satu pernyataan dalam seruan aksi.

Para seniman menyadari bahwa gerakan ini ibarat perahu sekoci yang berhadapan dengan kapal induk kapitalisme. Namun, mereka meyakini sekoci tersebut membawa “dinamit kesadaran”—bahwa seni dan budaya adalah identitas bangsa yang harus dipertahankan, bukan dikomodifikasi.

Aksi #SaveTIM ini mengajak publik untuk hadir dan bergabung dengan membawa kesadaran niat murni, intelektual, dan estetika, serta kegembiraan berekspresi. Penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi, dilakukan tanpa prasangka, dan tanpa konsumsi alkohol.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

JMSI Sulawesi Tengah Kecam Pernyataan Mantan Direktur RSUD Undata Yang Hina Jurnalis

6 Mei 2026 - 02:35 WIB

Kartunis Dorong Pameran “JAKARTUN” untuk HUT Jakarta ke-499

5 Mei 2026 - 13:46 WIB

Pase Raya Gelar Halal Bihalal, Pererat Warga Aceh Utara di Perantauan

5 Mei 2026 - 10:55 WIB

Massa Aksi Padati Gedung Gubernur Aceh, Tuntut Pencabutan Pergub JKA 2026

4 Mei 2026 - 23:46 WIB

Dunia Hiburan Aceh Berduka Bang Tompul Telah Tiada

4 Mei 2026 - 23:38 WIB

Sinergi Pelindo Regional 4 – DPRD, Dorong Pengembangan Pelabuhan Sorong

4 Mei 2026 - 22:40 WIB

Audisi D’Academy 8 di Balikpapan Diserbu Peserta, Fildan dan Valen DA7 Suntikkan Semangat

4 Mei 2026 - 13:28 WIB

Soliditas Jadi Kunci Bertahan Forwan

4 Mei 2026 - 13:20 WIB

Neno Warisman Diharapkan Perkuat Dukungan Negara dalam Pencanangan Bulan Ismail Marzuki

4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Musda Demokrat Sulteng Segera Dilaksanakan, Talitti Paluge : Kolaborasi Figur Baru Memperkuat Kerja kerja Partai

4 Mei 2026 - 09:36 WIB

Trending di RAGAM