Menu ✖

Mode Gelap
Estafet Kepemimpinan Garuda Indonesia, Menilik Kiprah Fadjar dan Glenny Mengawal Pemulihan Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026 Dukung MotoGP Mandalika 2026, ASDP Optimalkan 13 Kapal di Lintas Padangbai–Lembar Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka ​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI

PERISTIWA

Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

badge-check


 Seniman Kembali Turun ke Jalan, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejumlah peseni dan seniman lintas genre akan kembali menggelar aksi moral bertajuk #SaveTIM dalam rangkaian Unfinished Struggle Seri Tiga: “Senandung Cikini 73”, Sabtu, 17 Januari 2026. Aksi ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap komersialisasi ruang-ruang berekspresi seni dan budaya di kawasan TIM. Para seniman menilai kebijakan pengelolaan yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), dan rencana peralihan pengelolaan ke PT Jakarta Experience Board (JXB), berpotensi menggeser fungsi utama TIM sebagai ruang publik seni dan budaya.

Menurut pernyataan kolektif penyelenggara, jika para peseni dan seniman tidak terus menyuarakan penolakan, bukan tidak mungkin ke depan akses ke kawasan TIM akan semakin dibatasi, bahkan berpotensi dikenakan tiket masuk. Kondisi tersebut dinilai bertentangan dengan semangat TIM sebagai ruang terbuka bagi proses kreatif dan pertukaran gagasan.

Taman Ismail Marzuki selama puluhan tahun dikenal sebagai laboratorium seni dan budaya—tempat lahirnya ide, narasi besar kebudayaan, serta tokoh-tokoh penting seni Indonesia. “Jika marwah TIM runtuh oleh logika komersialisasi yang tidak memahami ruh berkesenian, krisis kebudayaan akan semakin dalam,” demikian salah satu pernyataan dalam seruan aksi.

Para seniman menyadari bahwa gerakan ini ibarat perahu sekoci yang berhadapan dengan kapal induk kapitalisme. Namun, mereka meyakini sekoci tersebut membawa “dinamit kesadaran”—bahwa seni dan budaya adalah identitas bangsa yang harus dipertahankan, bukan dikomodifikasi.

Aksi #SaveTIM ini mengajak publik untuk hadir dan bergabung dengan membawa kesadaran niat murni, intelektual, dan estetika, serta kegembiraan berekspresi. Penyelenggara menegaskan bahwa aksi ini tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi, dilakukan tanpa prasangka, dan tanpa konsumsi alkohol.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Mardani Ali Sera Ungkap Komunikasi Antarfraksi DPR, Wacana Pansus dan Hak Angket Gibran Mengemuka

11 Oktober 2026 - 15:26 WIB

​Putra Aceh Dr. (Cand) Khaidir Abdurrahman Jalani Upacara Dipeusijuek Sebagai Anggota BPK RI

11 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Ode Untuk Namamu, Ketika Puisi dan Lukisan Merayakan Cinta serta Perjuangan

11 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Pompa Air Sempat Gangguan, Fasilitas Toilet dan Musala Stasiun Jatinegara Kembali Normal

11 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Demokrat Belum Bersikap Soal Pemakzulan Gibran, Soliditas Koalisi Prabowo Jadi Sorotan

11 Oktober 2026 - 10:45 WIB

​46 Tahun Sanggar Matahari: Merawat Seni, Sastra, dan Kemanusiaan Bersama Lintas Generasi

11 Oktober 2026 - 10:03 WIB

Endatoe Foundation Gelar Webinar “Career Abroad”: Buka Jalan Pemuda-Pemudi Aceh Menjadi Tenaga Medis di Jerman

11 Oktober 2026 - 08:44 WIB

PTP Nonpetikemas Dorong Generasi Muda Perluas Wawasan dan Raih Cita-Cita

11 Oktober 2026 - 00:42 WIB

Trending di ANJUNGAN