Menu

Mode Gelap
KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik Dirjen Perhubungan Udara Tinjau Bandara Terdampak Gempa NTT Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

RAGAM

Seruan “Merdeka untuk Kalimantan” Menggema, Noven Honarius Kritik Ketimpangan dan Marginalisasi Dayak

badge-check


 Seruan “Merdeka untuk Kalimantan” Menggema, Noven Honarius Kritik Ketimpangan dan Marginalisasi Dayak Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Suara kritis datang dari Noven Honarius, tokoh pemuda asal Kalimantan Barat. Melalui sejumlah pernyataan di media sosial, Noven melontarkan seruan “Merdeka untuk Kalimantan” sebagai ekspresi kekecewaan atas persoalan struktural yang dinilainya tak kunjung terselesaikan di Pulau Borneo.

Seruan tersebut, menurut Noven, berangkat dari akumulasi masalah yang selama ini menekan kehidupan masyarakat adat, khususnya Dayak. Ia menyinggung maraknya operasi penindakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), kelangkaan bahan bakar minyak dan gas, hingga ketimpangan pengelolaan sumber daya alam yang dinilai tak berpihak pada penduduk asli.

“Masyarakat Dayak hari ini hidup seperti tamu di tanah sendiri,” tulis Noven. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk penjajahan gaya baru yang dibungkus narasi pembangunan dan investasi.

Kalimantan, yang dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya di Indonesia, menyimpan cadangan emas, batubara, minyak dan gas bumi, bauksit, hingga hasil hutan. Namun, menurut Noven, kekayaan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut selama ratusan tahun.

Kekecewaan itu kian menguat ketika Noven menyoroti konfigurasi politik nasional pasca-Pemilu 2024. Ia menilai absennya putra Dayak dalam Kabinet Prabowo–Gibran sebagai simbol terpinggirkannya suara masyarakat adat dalam proses pengambilan keputusan di tingkat pusat.

“Ini bukan semata soal jabatan, tapi tentang representasi dan keberpihakan,” ujarnya.

Noven juga mengkritik operasi penertiban PETI yang belakangan gencar dilakukan aparat penegak hukum. Menurutnya, penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan ekonomi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada alam. Ia menilai negara kerap hadir dengan pendekatan represif, namun minim solusi alternatif yang berkeadilan.

“Negara tegas saat menindak, tetapi absen ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan keadilan,” kata Noven.

Ia menilai berbagai regulasi justru kerap digunakan sebagai pembenaran atas perampasan ruang hidup masyarakat adat. Dalam kerangka pembangunan yang ada, rakyat diposisikan sebagai objek, bukan subjek utama.

Isu tersebut, menurut Noven, tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Pulau Borneo yang terbelah menjadi tiga negara—Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pembagian wilayah itu, kata dia, membawa konsekuensi panjang terhadap nasib masyarakat adat yang tersebar di ketiga negara.

Noven bahkan membandingkan kondisi masyarakat adat di Kalimantan dengan Dayak di Malaysia dan Brunei. Ia menilai tingkat kemiskinan masyarakat adat di wilayah Indonesia jauh lebih memprihatinkan, meski berada di atas tanah yang kaya sumber daya.

“Sulit dipahami bagaimana masyarakat adat bisa hidup miskin di wilayah dengan kekayaan alam yang luar biasa,” ujarnya. Ia mencontohkan, satu sumur minyak disebut mampu menghasilkan keuntungan miliaran rupiah per hari, namun dampaknya nyaris tak terasa bagi penduduk lokal.

Meski menggunakan diksi “merdeka”, Noven menegaskan seruannya bukan ajakan separatisme. Ia menyebutnya sebagai kritik keras untuk menggugah kesadaran nasional tentang ketidakadilan yang masih berlangsung di Kalimantan.

Bagi Noven, kemerdekaan sejati tidak hanya soal kedaulatan politik, tetapi juga keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata. Selama masyarakat adat masih hidup dalam kemiskinan di atas tanah yang kaya, seruan “Merdeka untuk Kalimantan” akan terus bergema sebagai tuntutan perubahan.***

DWIGYDZIGY

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Trending di ANJUNGAN