Menu ✖

Mode Gelap
Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar Hadapi Libur Nataru, Menhub Dudy Ingatkan 6 Faktor Utama Ini Kemenhub Pastikan Fuel Surcharge Penerbangan Domestik November 2026 Tetap 40% Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

RAGAM

Seruan “Merdeka untuk Kalimantan” Menggema, Noven Honarius Kritik Ketimpangan dan Marginalisasi Dayak

badge-check


 Seruan “Merdeka untuk Kalimantan” Menggema, Noven Honarius Kritik Ketimpangan dan Marginalisasi Dayak Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Suara kritis datang dari Noven Honarius, tokoh pemuda asal Kalimantan Barat. Melalui sejumlah pernyataan di media sosial, Noven melontarkan seruan “Merdeka untuk Kalimantan” sebagai ekspresi kekecewaan atas persoalan struktural yang dinilainya tak kunjung terselesaikan di Pulau Borneo.

Seruan tersebut, menurut Noven, berangkat dari akumulasi masalah yang selama ini menekan kehidupan masyarakat adat, khususnya Dayak. Ia menyinggung maraknya operasi penindakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), kelangkaan bahan bakar minyak dan gas, hingga ketimpangan pengelolaan sumber daya alam yang dinilai tak berpihak pada penduduk asli.

“Masyarakat Dayak hari ini hidup seperti tamu di tanah sendiri,” tulis Noven. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk penjajahan gaya baru yang dibungkus narasi pembangunan dan investasi.

Kalimantan, yang dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya di Indonesia, menyimpan cadangan emas, batubara, minyak dan gas bumi, bauksit, hingga hasil hutan. Namun, menurut Noven, kekayaan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut selama ratusan tahun.

Kekecewaan itu kian menguat ketika Noven menyoroti konfigurasi politik nasional pasca-Pemilu 2024. Ia menilai absennya putra Dayak dalam Kabinet Prabowo–Gibran sebagai simbol terpinggirkannya suara masyarakat adat dalam proses pengambilan keputusan di tingkat pusat.

“Ini bukan semata soal jabatan, tapi tentang representasi dan keberpihakan,” ujarnya.

Noven juga mengkritik operasi penertiban PETI yang belakangan gencar dilakukan aparat penegak hukum. Menurutnya, penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan ekonomi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada alam. Ia menilai negara kerap hadir dengan pendekatan represif, namun minim solusi alternatif yang berkeadilan.

“Negara tegas saat menindak, tetapi absen ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan keadilan,” kata Noven.

Ia menilai berbagai regulasi justru kerap digunakan sebagai pembenaran atas perampasan ruang hidup masyarakat adat. Dalam kerangka pembangunan yang ada, rakyat diposisikan sebagai objek, bukan subjek utama.

Isu tersebut, menurut Noven, tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Pulau Borneo yang terbelah menjadi tiga negara—Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pembagian wilayah itu, kata dia, membawa konsekuensi panjang terhadap nasib masyarakat adat yang tersebar di ketiga negara.

Noven bahkan membandingkan kondisi masyarakat adat di Kalimantan dengan Dayak di Malaysia dan Brunei. Ia menilai tingkat kemiskinan masyarakat adat di wilayah Indonesia jauh lebih memprihatinkan, meski berada di atas tanah yang kaya sumber daya.

“Sulit dipahami bagaimana masyarakat adat bisa hidup miskin di wilayah dengan kekayaan alam yang luar biasa,” ujarnya. Ia mencontohkan, satu sumur minyak disebut mampu menghasilkan keuntungan miliaran rupiah per hari, namun dampaknya nyaris tak terasa bagi penduduk lokal.

Meski menggunakan diksi “merdeka”, Noven menegaskan seruannya bukan ajakan separatisme. Ia menyebutnya sebagai kritik keras untuk menggugah kesadaran nasional tentang ketidakadilan yang masih berlangsung di Kalimantan.

Bagi Noven, kemerdekaan sejati tidak hanya soal kedaulatan politik, tetapi juga keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata. Selama masyarakat adat masih hidup dalam kemiskinan di atas tanah yang kaya, seruan “Merdeka untuk Kalimantan” akan terus bergema sebagai tuntutan perubahan.***

DWIGYDZIGY

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan

2 November 2026 - 21:18 WIB

Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan

2 November 2026 - 20:10 WIB

Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar

2 November 2026 - 20:03 WIB

Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

2 November 2026 - 15:53 WIB

Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan

2 November 2026 - 14:19 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

2 November 2026 - 13:22 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

Trending di RAGAM