Menu

Mode Gelap
Pelaku Usaha Makin Selektif Pilih Mal MK Pulihkan Aturan Anti-Evergreening, Batasi Celah Perpanjangan Paten Obat Stasiun Karet Ditutup Mulai 1 September, Penumpang KRL Dialihkan ke BNI City TPK Koja Pastikan Kelancaran Operasional dan Pelayanan Terminal Tetap Terjaga Kapal Perintis: Primadona Transportasi di Indonesia Timur KAI Commuter Integrasikan Stasiun Karet-BNI City mulai 1 September

TEKNOLOGI

Siklon Tropis Muncul Lagi, BMKG: Ini Pola Tahunan yang Akan Terus Terjadi!

badge-check


 Siklon Tropis Muncul Lagi, BMKG: Ini Pola Tahunan yang Akan Terus Terjadi! Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Fenomena munculnya bibit siklon dan siklon tropis secara berulang dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat: apakah kondisi ini akan menjadi rutinitas baru di Indonesia?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa terbentuknya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia sebenarnya merupakan kejadian yang memiliki pola periodik setiap tahunnya.

“Siklon tropis itu terjadi di wilayah Indonesia memiliki periodisasi. Jadi periodisasi belahan bumi utara itu terjadi di bulan Juni hingga Desember. Kemudian di periodisasi selatan, atau di belahan bumi selatan itu terjadi di Desember sampai dengan April, di mana terdapat satu bulan overlapping yaitu di bulan Desember,” jelas Guswanto dalam konferensi pers daring pada Jumat (12/12/2025).

Ia menambahkan, periode tumpang tindih tersebut memungkinkan kemunculan siklon tropis di utara dan selatan terjadi secara bersamaan, seperti yang dialami Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. “Seperti saat beberapa minggu yang lalu, itu terjadi di utara ada siklon tropis di selatan juga terjadi. Sehingga itu akan sering terjadi,” ujarnya.

Guswanto menyebut, terbentuknya siklon tropis berkaitan erat dengan kondisi laut yang hangat akibat gangguan atmosfer. “Penyebabnya apa? Penyebabnya ini terbentuk dari gangguan atmosfer di atas laut yang hangat. Artinya, kalau kita kaitkan dengan gerak semu matahari, saat ini gerak semu matahari akan sampai 22 Desember itu berada di sebelah selatan, titik terjauh,” terangnya.

Ketika matahari mencapai titik tersebut, wilayah selatan Indonesia mengalami peningkatan pemanasan. “Dan nanti dia akan bergerak kembali menuju ekuator. Nah di saat itu akan terjadi banyak pemanasan, sehingga suhu permukaan air laut itu bisa menjadi 26,5 derajat atau lebih tinggi,” lanjutnya.

Suhu laut yang hangat ini kemudian menyediakan energi panas dan kelembapan yang menjadi bahan bakar terbentuknya cuaca ekstrem. “Ini menyediakan energi panas dan kelembaban untuk pertumbuhan awan konvektif yang dapat menyebabkan terjadinya bibit siklon ataupun siklon tropis,” pungkas Guswanto. (****)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Uji Coba Optimalisasi EAZI di TPK Berlian Berhasil Pangkas Waktu Pergantian Kapal Menjadi 29 Menit

31 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Operator Bus Listrik Terbanyak di Indonesia, DAMRI Operasikan 316 Unit Bus Listrik untuk Layanan Transjakarta

29 Agustus 2026 - 05:23 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

ÇAKIR Masuk Indonesia, Turki Buka Jalan Produksi Rudal Jelajah Lokal

28 Agustus 2026 - 09:07 WIB

KKP Terbitkan Izin Pemanfaatan Air Laut untuk 16 Pembangkit PLN Nusantara Power

27 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

IPCC Layani Sepenuh Hati, Dukung Pengiriman Bantuan Kemanusiaan PMI ke Nusa Tenggara Timur

22 Agustus 2026 - 21:21 WIB

IPCC Perkuat Keselamatan Kerja TKBM melalui Pelatihan Basic K3

18 Agustus 2026 - 21:44 WIB

Di HUT Ke-81 RI, Kepala Pangkalan PLP Tanjung Priok: Semangat Kemerdekaan Harus Bebaskan Diri dari Malas dan Penyalahgunaan Wewenang

17 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Trending di ANJUNGAN